Macet Makin Parah

Tahu sendiri ya sekarang lalu lintas di sebagian wilayah Jakarta Selatan agak kusut setiap harinya. Pembangunan beberapa infrastruktur, misalnya flyover di Pancoran atau underpass Mampang, bikin kemacetan yang nggak cuma makan waktu, tapi juga memakan kesabaran kita yang perlu secepat mungkin sampai ke kantor, tempat meeting atau tempat-tempat produktif lainnya. Lanjutkan membaca Macet Makin Parah

Kenapa Harus Detoks Internet?

Selama 2015, khususnya di paruh kedua tahun ini, gue merasa bahwa gue makin ketergantungan dengan internet. Tersedianya koneksi internet kabel di kamar, dengan biaya cukup murah tapi benwitnya mayan gede dan tanpa kuota, menambah keasyikan buat online. Sering banget, setelah nyampe pulang dari kantor, yang gue lakuin adalah online lagi; di Mac (ngurusin sisa kerjaan. ciyee!) ataupun lewat iPhone. Lanjutkan membaca Kenapa Harus Detoks Internet?

Jalan Sepi

IMG_4203-1.JPG

Akhir pekan lalu, berlangsung kumpul-kumpul blogger di sebuah hotel di Jakarta. Kebanyakan yang datang di acara ini adalah mereka yang ngeblog di era keemasan ngeblog, yakni tahun 2005-2008. Istilah era keemasan ini sebenarnya sangat sumir karena menurut beberapa referensi lisan, sejatinya era ngeblog sudah dimulai sejak akhir 1990-an sampai awal 2000-an. Cuma, gue pribadi emang merasa bahwa blogosfer di era 2006-2008 itu sangat hidup dan dinamis dengan berbagai peristiwa, wacana, tren, kontroversi dan lainnya.

Dari acara kumpul-kumpul blogger itu, gue diingatkan tentang banyaknya isu dan narasi yang beredar di blogosfer circa 2004-2009, mulai dari kebebasan berekspresi (kasus penangkapan Herman Saksono), isu monetisasi dan scam internet (kasus Anne Ahira), plagiarisme (kasus Buanadara), “keributan” antara para blogger dengan pemikiran bebas vs blogger Salafi, dan lain-lain. Bak pasar malam, blogosfer saat itu sungguh riuh rendah, tapi masih terasa menyenangkan. Para bloggers sepertinya masih punya banyak waktu buat menulis, berkomentar, berbalas wacana, dan lain-lain.

Belakangan, pesona blog sebagai alat untuk berekspresi di dunia maya sedikit surut. Kehadiran media sosial yang tidak menuntut kemampuan menulis panjang membuat ngeblog jadi terpinggirkan. Lebih mudah untuk mengetikkan dua-tiga kalimat di Twitter yang tak lebih panjang dari 140 karakter ketimbang menuangkan pikiran dalam 6-10 paragraf di sebuah tulisan di blog.

Blogger-blogger yang aktif tinggal segelintir. Sebagian dari mereka masih menulis karena memang ingin menumpahkan pikirannya dalam bentuk tertulis, sebagian lagi menulis karena pesanan penaja atau untuk kontes, sebagian yang lain cuma muncul sesekali dan sebagian lagi lenyap sama sekali.

Dari sisi pembacanya pun demikian. Selain memang sudah sangat kurangnya tulisan di blogosfer (secara kuantitas, apalagi secara kualitas), pembaca pun susut karena para onliners gampang sekali merasa lelah untuk membaca tulisan di blog karena mereka sudah terlalu sering dicekoki tulisan-tulisan pendek di Twitter, Facebook atau Path. Sudah sangat jarang ada kegiatan blogwalking (kalau tidak mau bilang tidak ada), yang juga mulai langka adalah tradisi untuk sekadar meninggalkan komentar—apalagi berharap terjadinya debat atau diskusi di laman blog.

Gue pernah merasakan keresahan soal surutnya kuantitas dan kualitas tulisan di blog ini. Tahun lalu, gue mencoba menginisiasi gerakan “seminggu satu”, yang intinya adalah mengajak para blogger untuk setidaknya membuat satu tulisan per minggu, dengan tema tertentu karena banyak yang beralasan bahwa mereka berhenti menulis karena kehabisan ide. Gue sebenarnya tidak setuju bahwa ide itu bisa habis. Tapi gue pikir tak apalah kalau menulis blog dengan tema yang ditentukan, siapa tahu kelak gairah untuk menulis blog akan hidup lagi dan sudah tidak perlu ada penentuan tema untuk tetap aktif menulis.

Mudah ditebak, gerakan “seminggu satu” nggak bertahan lama. Kalau nggak salah cuma berjalan tiga pekan. Siapa yang salah dalam kegagalan gerakan ini? Selayaknya gue menunjuk diri gue sendiri sebagai biangnya. Gue merasa makin kehabisan energi untuk menulis, bahkan bila frekuensinya cuma satu tulisan dalam sepekan.

(Pembelaan gue: pekerjaan utama gue adalah menulis. Ketika gue udah tiap hari menulis buat media, gue merasa sangat suntuk kalau masih harus menulis (blog) di waktu luang. Meski gue agak jarang nulis di blog sendiri, setidaknya gue kadang masih ngeblog di kolom teknologi atau olahraga. eh ngeblog di Tumblr juga. :p)

Nah, di hari Blogger Nasional yang jatuh tanggal 27 Oktober ini, gue nggak menggantungkan harapan apapun deh. Gue udah nggak pernah lagi bermimpi blogosfer akan seseru dulu dengan segala wacana yang berlalu lalang. Pada akhirnya, meminjam ucapan Paman Tyo, ngeblog memang tidak untuk semua orang. Waktu akan menyeleksi mana orang yang menekuni jalan yang (mulai) sepi ini.

Selamat Hari Blogger!

Menguji Ketangguhan Sinyal dalam #XLNetRally

Seperti tradisi dalam dua tahun belakangan, XL Axiata kembali menggelar acara #XLNetRally yang bertujuan untuk menguji ketangguhan sinyal mereka menghadapi lonjakan komunikasi voice, SMS dan data saat Idul Fitri nanti. Tahun ini, XLNetRally digelar hari Jumat dan Sabtu (6 dan 7/7/2012).

Saya termasuk yang diundang oleh XL untuk mengikuti XLNetRally itu dari Jakarta bersama dengan belasan blogger lain. Beberapa sudah saya kenal seperti Wiwik, Chichi dan Marcos. Yang lain-lain ada yang sudah pernah beberapa kali melintas namanya di timeline Twitter seperti om kumis IDBerry, tapi ada juga yang benar-benar belum kenal seperti om Edo Rusyanto, Benny Nugroho, Fajar Dinihari, Ronald ‘WowKonyol’ dll. Selain para blogger, XLNetRally juga mengajak rombongan wartawan dari berbagai media. Selain itu, ada juga blogger yang berangkat dari Bandung dan Surabaya.

Hari 1

Sebagai anak kereta sejati (iya, sejak 4-5 bulan belakangan saya rutin naik KRL buat pergi dan pulang kantor), saya mulai berangkat dari Stasiun Pasar Minggu, Jumat pagi banget. Saya naik KRL jurusan Jakartakota dan turun di Stasiun Gambir tepat jam 6.00 pagi. Di Gambir, saya ketemu dengan beberapa teman blogger, juga Adhams dari XL, serta kenalan sama mas Harry Deje, mas Dipa, mas Saranto dan mas Dolly dan mbak Turina (semuanya dari XL) serta dua ranger @XLCare idola kita semua, yaitu neng Alin dan neng Intan. Lalu ketemu juga dengan Ardhi, bosnya detikInet, yang sempat mengira saya pergi sebagai wartawan tapi ternyata enggak :))

Ini saya: Big Daddy is watching you! (Foto: Wiwikwae)

Sebelum berangkat, ada sedikit sambutan dari Presiden Direktur XL Axiata Hasnul Suhaimi. Hasnul menjelaskan bahwa kebutuhan data para pengguna seluler di Indonesia makin meningkat. “Saat ini, layanan 2G saja tidak cukup, sudah harus 3G,” ungkap dia. Karena itulah, XL berusaha terus memperbanyak BTS 3G dengan target membangun 1.000 BTS 3G tiap bulan guna melengkapi ‘arsenal’ BTS mereka yang sudah mencapai 33 ribu BTS. (Btw, pagi itu kelucuan pak Hasnul ngalah-ngalahin MC-nya, Tommy *pecut Tommy*)

Sekitar pukul 7.30 pagi, setelah diajak ngobrol sama pak Hasnul yang berpesan ala restoran Padang, “kalau Anda puas dengan layanan XL, ceritakan pada yang lain; kalau tidak puas, ceritakan pada kami,” kami berangkat menuju Semarang. Regu blogger ditempatkan di gerbong eksekutif KA Argo Muria yang sudah di-booking khusus, sementara rombongan wartawan ditempatkan di gerbong khusus wisata Toraja #envy. Di dua gerbong ini, XL menyediakan layanan wifi yang menggunakan layanan data XL juga. Karena itu, saya mencoba mengetes kekuatan sinyal wifi itu dengan laptop saya. Selama masih bergerak di Jakarta sih cukup oke. Saya bisa membuka MetroTwit, Gmail, sampai membaca 9Gag. Oya, saya bahkan membuat post di blog Posterous saya dengan menggunakan sinyal wifi tadi. Agak tersendat sih, tapi sukses terunggah tuh. Selanjutnya, kualitas sinyal XL bervariasi. Kalau di daerah yang cukup banyak rumah, kualitas sinyal cukup bagus buat sekadar ngetwit, tapi kalau di daerah tengah hutan yang cukup terpencil, biasanya kualitas sinyal memburuk sehingga gadget tidak bisa nyambung ke internet.

Chichi, Wiwik, saya dan Marcos bersama Pak Hasnul Suhaimi (Foto: Chichi Utami)
Ini saya lagi mencoba internetan dengan laptop memakai sinyal wifi XL. Memakai kelambu biar nggak ketahuan lagi buka apa :p (Foto: Wiwikwae)


Di perjalanan, tim dari XL, mas Irwan dan mas Asep, menjelaskan mengenai bagaimana wujud kesiapan XL menghadapi lonjakan komunikasi sebelum dan sesudah Idul Fitri. Layar tv LCD di gerbong kereta menampilkan peta rute yang sedang ditempuh KA Argo Muria dan titik-titik berwarna hijau (yang berarti kualitas sinyal sangat bagus), kuning (kualitas sinyal sedang) dan merah (kualitas sinyal buruk atau blank). Di jalur utara. Mayoritas kualitas sinyal XL terpantau berwarna hijau. Meski begitu, ada juga beberapa titik merah, seperti di sekitar Alas Roban, Batang. Mas Irwan dari XL memaparkan kalau kontur alam di sekitar daerah itu memang menyulitkan buat menempatkan BTS. Bila kondisi memungkinkan, XL akan mengerahkan mobile BTS buat memperkuat sinyal.

Saya sempat menanyakan apakah XL juga melakukan persiapan serupa di jalur selatan, mengingat saya pulang mudiknya ke Purwokerto. Mas Asep mengonfirmasi hal itu, tapi dengan memberi catatan bahwa kualitas sinyal XL di Purwokerto masih kategori merah. Waaa…sedih tuips. Kampung halamanku ternyata terbelakang 😦 (belakangan, ada keterangan tambahan kalau XL secara rutin menempatkan mobile BTS di Purwokerto guna mengatasi kelemahan itu). Semoga pada saat Lebaran sudah teratasi ya, mas dan mbak di XL. Kan nanti Lebaran saya mau kirim-kirim ucapan lewat Whatsapp dan Twitter, biar hemat :p

Kilometer demi kilometer dilalui KA Argo Muria ini. Cirebon, Tegal, lalu Pekalongan. Pemandangan indah alam pulau Jawa yang masih asli membentang di kiri dan kanan kereta. Waktu semakin siang, kami pun diberi kesempatan makan siang. Menunya mantap jaya: sop buntut. Mengisi perut yang kosong buat mengembalikan tenaga yang terkuras buat haha-hihi dan ikut kuis di atas gerbong, dengan ditemani pemandangan sawah, pepohonan, laut, kota, dan desa, sungguh menyenangkan hingga kantuk pun menjelang. Tapi kantuk yang menyerang tidak sempat terpuaskan oleh tidur karena sekitar pukul 13.30 kereta kami tiba di Semarang. Rasa-rasanya, saya sudah 12 tahun tidak pernah menginjakkan kaki di ibukota Jawa Tengah ini.

Di Stasiun Semarangtawang kami disambut oleh mbak-mbak manis yang menyuguhkan jamu beras kencur dan kunir asem yang sueger. Lalu, setelah rehat beberapa menit (sempat merokok di luar stasiun bareng om Edo), kami dibagi dalam 4 rombongan. Saya masuk dalam Bus 4 bersama beberapa blogger lain dan 2 ranger idola kita bersama #ihik. Kirain busnya bus biasa, tapi ternyata dugaan saya salah! Keempat bus yang membawa kami menuju Jogjakarta adalah bus eksklusif milik Omah Mlaku (Bus 1 dan 2) dan AM Trans (Bus 3 dan 4). Bus ini punya desain interior seperti rumah, lengkap dengan kamar tidur, dapur, kursi duduk, sofa panjang, kursi pijat Osim, kulkas dan tv LCD 32 inci.

Penampakan bus AMTrans yang kami naiki

Melihat ada tv, sound system dan dua mik, insting para banci karaoke pun muncul. Sayangnya, di koleksi milik bus cuma ada karaoke lagu-lagu jadul semacam lagunya Deddy Dores. Untunglah om Deddy (yang bukan Dores) ID Berry datang dengan pertolongan lewat BlackBerry Playbooknya. Setelah colok sana colok sini, akhirnya kami bisa berkaraoke lagu-lagu yang…tetep jadul, seperti lagu More Than Words-nya Extreme sampai I Want to Know What Love Is-nya Foreigner #karaokepenyingkapumur. Errrr. Tapi ada juga lagu-lagu baru ding seperti lagunya Katy Perry. Nyaris sepanjang tiga jam perjalanan darat itu kami nyanyi-nyanyi dan ketawa-ketawa terus sampai tidak terasa kami sudah menjejak bumi Sleman. Horeee! Bus kami diarahkan ke Restoran Mang Engking di jalan Godean. Dasar lapar, semua makanan mulai dari karedok, ikan goreng dan bakar, sampai udang goreng dan bakar yang lezat dibantai tanpa sisa. Di sini, beberapa dari kami mengagumi kemampuan Adhams buat melahap porsi besar makanan meskipun badannya nggak besar :))

Suasana interior bus AM Trans

 

Keluar dari Mang Engking, kami dibawa menuju Raminten, tempat tongkrongan anak muda yang sepertinya sedang hits di Jogja, di kawasan Kotabaru. Tapi karena tempatnya penuh (dan sepertinya tidak banyak tempat parkir tersedia buat empat bus berukuran raksasa), kami akhirnya langsung dibawa ke hotel Grand Quality tempat kami menginap. Menyusuri jalanan Jogja dari atas bus seperti layaknya turis ternyata sanggup membuat saya merasakan kangen terhadap kota yang terakhir saya kunjungi akhir Februari lalu itu. Kelebat kenangan bersama orang-orang tertentu melintas di kepala sembari saya ngobrol dengan Chichi (aslinya #surhat, tuips). Sudah-sudah, nggak usah dibahas lagi soal kenangannya. Takut nanti postingannya berubah jadi curhat :))

Sampai di hotel, menaruh barang bawaan yang tidak seberapa, lalu mandi dan bersih-bersih badan, saya sih nggak langsung tidur (kecuali Wiwik yang langsung molor sehabis mandi. Faktor U, tuips #digetok). Ajakan buat Jumintenan bareng anak-anak CahAndong langsung disambar saya dan Chichi. Naik taksi, kami bergabung dengan Sandalian, Lina (dan Lumen yang tertidur pulas), Pangsit, Christin dan Choro di Kopiitem, Babarsari. Ngobrol sana-sini, saya dan Chichi berniat buat menyusul rombongan hore #XLNetRally yang dipimpin om Deddy yang katanya sedang ngopi joss di angkringan Tugu. Sampai sana, lho kok sepi? Selidik punya selidik, mereka ternyata pintong ke Malioboro, tepatnya di dekat Batik Terang Bulan. Kami menyusul ke sana naik becak (serius, saya selama 4,5 tahun di Jogja keknya nggak pernah naik becak di Malioboro). Di sebuah warung lesehan, selain om Deddy juga ada Cak Uding (dengan jenggotnya yang mooi. Hihi) dan Leoni yang menyusul sendiri dari Jakarta, lalu ketemu juga dengan tweeps Jogja seperti Jewe (yang baru pernah ketemu), Bernad, Arga, Utied dan Ilham. Nongkrong sampai sekitar jam 1.30, kami akhirnya pulang ke kamar dan tidur.

Hari 2

Sabtu pagi, saya bangun jam 7.00 walau malamnya baru tidur jam 2.00. Udah kebiasaan tuips, libur-libur pun bangun pagi. Sarapan di hotel, terus ketemu dengan blogger dari Surabaya, Benny Chandra, lalu juga ketemu dengan dua blogger Bandung yang udah sering mensyen-mensyenan, Catur dan teh Nita Sellya.

Sedari malam, saya merasakan kalau sinyal XL di Jogja nggak terlalu bagus. Browsing dan whatsapp sering gagal atau delay. Saya pun sempat mengadu ke Adhams agar ke depan ada perbaikan. Sembari menunggu rombongan siap untuk menuju Liquid Cafe tempat akan digelarnya Obsat, Adhams menjelaskan kepada saya tentang bagaimana sinyal seluler bekerja. Ada banyak istilah teknis yang kurang saya mengerti, tapi saya banyak belajar mengenai kenapa sinyal seluler bisa kuat dan lemah, apa saja yang jadi penghalang, dlsb #learnnewthingseveryday

Sebelum menuju ke Liquid di Jalan Magelang, saya, Chichi dan Wiwik sempat menengok seorang teman yang sedang hamil muda dan harus diopname di RS Happy Land (Cepat sembuh ya, Nungk!) sebelum menyusul ke Liquid dengan taksi. Sampai sana, ternyata rombongan yang dari hotel malah belum sampai :)) Maka, kami pun makan duluan. Menunya gudeg dan pecel, trus ada juga gerobak angkringan yang menyediakan teh jahe anget. Sayang acaranya siang sih, jadi teh jahenya kurang nendang. Coba kalau malam (Jogja lagi dingin banget di musim kemarau ini, katanya bisa sampe 20 derajat Celcius), pasti bakal habis lebih dari dua gelas tuh. Selain rombongan dari Jakarta, Bandung dan Surabaya, juga datang blogger dan tweeps dari Jogja, Solo dan sekitarnya seperti Hamid, Bagus, dkk.

Acara Obsat pun dimulai. Pertamanya, mas Asep kembali memaparkan kesiapan jaringan XL menghadapi derasnya penggunaan jaringan seluler selama Lebaran. Sehari-harinya saja, XL harus mengantarkan trafic suara sebanyak 600 juta menit, 660 juta SMS dan 52 Terabyte (TB) data. Apalagi saat Lebaran, traffic itu naik hingga 30%. Masih dari XL, mas Deje dan ranger Alin dan ranger Intan kemudian menjelaskan mengenai apa itu @XLCare, yaitu customer service yang berbasis media sosial Twitter dan Facebook. Sehari-hari, ada 8 petugas yang disebut ranger akan menjawab keluhan dan pertanyaan pengguna XL serta berbagi informasi seputar gadget dan telekomunikasi yang disebut #XLShare. Menurut saya, menggunakan media sosial buat menampung keluhan dan pertanyaan pelanggan cukup strategis. Sekarang, dibanding menelpon call center dan harus memencet-mencet beberapa angka sebelum bisa bicara dengan CS (ya kalau CSnya nggak sibuk? Kalau CSnya sibuk, harus nunggu. Kan bayar tuh). Apalagi, XLCare berjanji bahwa setiap pertanyaan atau keluhan akan direspons paling lambat dalam tujuh menit!

Ranger Intan, Alin dan Hary Deje sedang presentasi (Foto: Marcos)

Selesai giliran dari XL, kemudian tampillah Edo Rusyanto. Meski rambutnya sudah memutih, blogger otomotif yang satu ini masih sangat semangat bicara tentang road safety, apalagi menjelang musim mudik Lebaran. Data yang didapat Edo dari Polri, dari H-7 hingga H-1 Idul Fitri tahun 2011, terjadi 297 kecelakaan dengan korban meninggal dunia 49 orang, 83 orang luka berat dan 315 luka ringan. Edo menambahkan kalau mayoritas dari korban kecelakaan itu adalah pemotor. Pemotor memang rawan kecelakaan, selain karena kendaraannya kecil, ia juga mudah diserang kelelahan yang membuat konsentrasi turun dan menimbulkan kecelakaan. Edo menyarankan agar pemotor beristirahat tiap 2 jam, namun tetap tidak menyarankan naik motor buat mudik mengingat risikonya.

Sesi terakhir dari Obsat kali ini adalah pemaparan Trinity tentang gadget dan travelling. Trinity yang rutin menulis blog di Yahoo!, selain di blognya sendiri, mengaku kalau orang lain itu menganggap bepergian sebagai liburan, maka ia menyebut bahwa liburan adalah pekerjaan rutinnya. Sementara liburan buat dia adalah ketika berdiam diri di rumah. Trinity menjelaskan bahwa gadget punya peran penting dalam travelling. Selain sebagai dokumentasi, juga demi eksistensi diri di media sosial. Karenanya, penting juga buat memilih operator yang memiliki jangkauan sinyal luas dan bisa roaming data di luar negeri.

Selesai Obsat di Liquid, saya, Wiwik dan Chichi melipir ke Kedai Kopi Gejayan buat kopdar (lagi!) dengan teman-teman CA. Di sana hadir Lina dan Lumen (kali ini bangun, yay!), Enade PhD, Ijal, Momon, Nico dan Celo. Ngobrol sana-sini, dari yang nggak penting sampai yang nggak penting sekali banget, akhirnya sekitar jam 16.45 saya harus pamit buat ke bandara karena ditunggu pesawat ke Jakarta jam 17.40. Setelah dibekali oleh-oleh sekardus besar (yang isinya antara lain gudeg kendil Yu Djum yang lehendaris itu), menunggu sebentar di ruang tunggu, akhirnya saya boarding ke pesawat Lion Air yang hebatnya hari itu on time sodara-sodara! Saya beruntung karena saya duduk sederet sama ranger ^AL #ihik. Yang tadinya berniat buat baca buku (atau tidur) di pesawat, saya malah akhirnya ngobrol sama Alin hingga nggak kerasa pesawat sudah mendarat di Bandara Soekarno Hatta Tangerang. Aaaaakkk. Cuma 50 menit tuips! I wanted more! #eh

Senja di langit Jogja menjelang kepulangan 🙂

Sungguh, perjalanan #XLNetRally kali ini sangat enjoyable. Jalan-jalan ke Semarang dan Jogja, trus ketemu teman-teman baru yang asyik banget. Semoga tahun depan saya diundang lagi ya #ngarep

Disclaimer: XL menanggung semua biaya perjalanan dan akomodasi selama saya berangkat dari Stasiun Gambir sampai pulang ke Jakarta lagi. Tulisan ini sangat diupayakan untuk tetap obyektif, tetapi penilaian akhir saya serahkan kepada pembaca sekalian.

Sembunyi

sembunyi

Di dunia yang orang ramai menyebutnya sebagai social networking world ini, bersembunyi, atau menyembunyikan keberadaan, adalah sebuah hal yang sudah sangat sulit ditemui.

Setiap detik, setiap menit, setiap jam, kita (saya menganggap Anda yang bisa membaca tulisan nggak jelas ini di blog, berarti Anda cukup melek internet dan segala tetek bengeknya) berada di pusaran informasi tentang keberadaan orang-orang di sekitar kita. Silakan anggap hal itu penting atau remeh, tinggal disesuaikan dengan kepentingan dan perspektif Anda.

Coba saja pantau Facebook, Plurk, atau belakangan Twitter. Lihatlah betapa orang-orang dengan gegap gempita dan penuh semangat mengabarkan bahwa mereka sedang makan di kafe anu, dugem di klab itu atau sedang berada di beranda rumah si anu. Sayang, saya belum pernah membaca status orang yang sedang nongkrong di WC sambil ber-BlackBerry :p

Semua jadi terbuka. Sudah sulit untuk menemukan sebuah celah untuk menyembunyikan keberadaan kita. Bahkan kalau pun saya tidak menulis keberadaan di Facebook atau Twitter, bisa jadi teman saya jalan-jalan yang mengabarkannya.

Bayangkan bila (eh ini kejadian fiksional, lho) ada seorang pegawai kantor yang tidak masuk kantor dengan alasan sedang terbaring sakit. Mungkin cukup menelpon supervisor dengan suara yang lemah atau terbatuk-batuk, sang penyelia bisa jadi telah percaya bahwa si karyawan ini memang butuh rihat.

Jadi masalah (masalah menurut siapa, ya?) bila kemudian si karyawan ternyata tidak benar-benar berbaring di tempat tidurnya dan malah pergi bersama teman-teman kuliah dulu untuk datang ke pameran foto atau museum.

Si karyawan itu mungkin tidak akan dengan konyolnya memberi tahu di mana keberadaannya. Tapi apa yang terjadi bila teman-temannya yang mengabarkannya dan orang-orang di kantornya, terlebih penyelianya, membaca keberadaan si karyawan tadi?

Tentang manfaat atau mudarat, tentu saja tergantung dari mana kita melihatnya. Tapi satu hal yang pasti, tempat gelap untuk bersembunyi itu memang sudah kian sempit 🙂

Independensi

Kawan, masih ingat nggak saat kita berdebat dulu? Ya, ya, berdebat. Kita memang berdebat saat itu bukan? Mengadu argumen di tengah udara pagi yang dingin di sebuah rumah di Bandung.

Ingat kan saat itu kita begitu berapi-api berbicara mengemukakan argumen kita; tak kalah berapi-api juga menguji pendapat lawan bicara di seberang meja, berharap menemukan celah untuk mematahkan pendapat lawan.

Kala itu kita bicara soal ide-ide besar. Aku masih ingat betul, kita berbusa-busa soal independensi. Aku menggugat independensimu, tetapi kamu bersikeras bahwa kamu tetap bebas, tak peduli siapapun majikanmu. Waktu itu, tahu tidak, aku mencatat ucapanmu bagai mencatat janji seorang politisi.

Kemarin, diam-diam aku menagih janji. Ah, aku kecewa, kawan. Ternyata janji (utang?) yang kamu ikrakan ketika itu tidak kau tepati. Aku berupaya berprasangka baik bahwa ini adalah kali pertama janjimu terlanggar, meski aku juga tidak yakin.

Lagi-lagi, aku mencoba berpikir baik karena aku tahu kamu orang yang baik. Mungkin kamu memang tak cukup berdaya untuk mengubah kondisi yang kamu hadapi. Aku lekas-lekas menghapus pikiran bahwa kamu memang sengaja tidak menepati janjimu.

Barangkali, keadaan di mana kamu bisa –meminjam Goenawan Mohammad– menggeladi pemikiran yang terbuka, yang tidak didikte dan diawasi orang adalah sebuah kemewahan. Aku tahu itu, kawan; dan aku bersimpati kepadamu.

Aku sadar bahwa situasi tidak lagi berada di pihakmu. Aku tahu kalau kamu bukan lagi seorang ronin, seorang samurai yang tak bertuan. Ah sudahlah, kawan, aku tak mau lagi mengulang-ulang cerita basi soal ronin yang memang hidup jauh dari masa dan tempat kita.

Sedari dulu, aku selalu benci bila aku terbukti ‘benar’ pada akhirnya. Aku bukan sedang ingin menyakitimu kawan, saat aku dengan penuh kepahitan di lidah cuma bisa berucap, independensi itu tai kucing.

Mengukur Benwit

Kantor saya memasang provider internet baru. Niatnya buat backup layanan provider yang ini. Mengingat kerjaan kami makin banyak, tapi bandwidth yang ada sungguh mepet. Apalagi harus di-share sama kantor yang di Jakarta.

Si Spidi ini tenar karena banyak sekali keluhan yang mengarah padanya. Wah pokoknya nggak akan selesai saya jelasin di sini. Tapi tak ada ruginya mencoba. Toh saya nggak keluar duit sepeserpunBeberapa hari awal pemakaian si Spidi ini, jalanan cukup lancar. Bahkan saya pamer kepada seorang fakir benwit, bahwa kantor kini lagi banjir benwit. Hahahaha.

Mengunduh ini-itu, membuka yang sebenarnya tidak boleh dibuka, dan beberapa hal lainnya yang muskil dilakukan dengan alokasi benwit yang lama.

Cari-cari info soal pengukuran benwit, saya menemukan link ini. Akhirnya saya ukur benwit layanan Spidi ini. Pengukuran dilakukan pada hari Senin, 20 Agustus 2007, Pukul 00.45 WIB.

Hasilnya, ini dia….