Kenapa Harus Detoks Internet?

Selama 2015, khususnya di paruh kedua tahun ini, gue merasa bahwa gue makin ketergantungan dengan internet. Tersedianya koneksi internet kabel di kamar, dengan biaya cukup murah tapi benwitnya mayan gede dan tanpa kuota, menambah keasyikan buat online. Sering banget, setelah nyampe pulang dari kantor, yang gue lakuin adalah online lagi; di Mac (ngurusin sisa kerjaan. ciyee!) ataupun lewat iPhone. Lanjutkan membaca Kenapa Harus Detoks Internet?

Iklan

MUZE – Music Experience Without The Wire: Headphones dan Speaker Bluetooth Kece dari Polytron

IMG_2015-12-07 17:10:48

Dengerin musik disukai nyaris semua orang. Nggak terkecuali gue. Ketika lagi di rumah, waktu kerja di kantor, ketika lari (duluuuu!) atau ketika sedang bepergian. Kegiatan yang satu ini bisa bikin gue lebih santai, lebih fokus, lebih bersemangat dan lebih gembira.

Misalnya nih kalau pagi-pagi sebelum berangkat kerja. Adanya musik yang mengiringi gue pakai baju atau ketika gue nyiap-nyiapin barang-barang yang harus dibawa ngantor, bisa bikin semangat lho. Biasanya gue menyempatkan buka Spotify di laptop (nggak bisa donlod di iPhone, nih!) dan muter lagu-lagu yang upbeat.

 Nah, dengan kegemaran gue dengerin musik gitu, tentu saja gue seneng banget nih waktu dipinjemin headphones dan speaker dari Polytron. Yang headphones namanya Muze PHP-ZB1 dan yang speaker bluetooth namanya Muze PSP-B1. Dan setelah pakai selama kurang lebih 2 minggu, nggak pake basa basi lagi, berikut ini penilaian gue buat dua benda ini.

Desain

Secara desain, headphones Muze PHP-ZB1 bagus banget. Dengan warna luar putih dan hitam di bagian dalam (di bagian karet), Muze PHP-ZB1 enak dilihat dan nggak terlalu berat. Selain itu, bahan karet dan busa di bagian dalam Muze PHP-ZB1 juga bikin nyaman di kepala waktu dipakai. 

IMG_2015-12-07 17:07:24

Kalau misalnya dipakai ketika sedang di perjalanan, Muze PHP-ZB1 juga keliatan keren banget. Warna putihnya membuat headphones ini terlihat elegan dan berkelas. Bukan nggak mungkin, orang di sebelahmu jadi tanya itu headphones apaan dan juga tertarik buat pakai dan ikut merasakan asyiknya pakai Muze PHP-ZB1.

Desain speaker Muze PSP-B1 juga oke, sayangnya bagian baterai di bawah cuma ditutup karet seal yang agak tipis. Cukup repot ya kalau ternyata meja/lantai kena air. Tapi secara umum, Muze PSP-B1 juga cakep dilihat dengan warna utama abu-abu. Bahan logam yang mendominasi speaker ini membuatnya berkesan kokoh. Buat pemakaian dalam waktu lama, speaker ini juga menjanjikan keawetan karena desain dan materialnya yang cakep. 

Bobotnya juga nggak berat, enak buat dibawa-bawa. Kaya gue nih, seringnya speaker ini gue pajang di meja kantor buat dengerin musik di luar jam kerja. Tapi kalau weekend, gue beberapa kali bawa pulang speaker ini buat dipakai di rumah. Yah, bawa speaker Muze PSP-B1 ini mah enteng, nggak memberatkan tas. Jadinya mudah aja gitu buat dipindah-pindah.

Instalasi

Buat mendengarkan musik, Muze ZB1 atau Muze PSP-B1 harus disambungin dengan perangkat yang mendukung fitur bluetooth A2DP (advanced audio distribution profile). Untungnya, iPhone dan Mac gue sudah mendukung fitur A2DP ini dan buat nyambunginnya ke speaker atau headphones ini sangat mudah. Tinggal nyalain bluetooth, trus cari di Mac/iPhone, nyambung deh. Kalau sudah pernah di-pairing, biasanya antara Mac/iPhone dengan headphones atau speaker ini juga akan tersambung langsung waktu bluetooth di masing-masing bagian nyala.

Kualitas suara

Nah sekarang bagian paling penting dari produk audio: suara. Mau desain bagus dan trendi, tapi kalau suaranya nggak oke, nggak berguna juga kan speaker atau headphones-nya. Nah, menurut gue, kualitas suaranya PHP-Muze ZB1 dan Muze PSP-B1 ini keren.

thumb_IMG_1606_1024

Suaranya bulat dan nggak pecah, bahkan ketika suaranya dikencengin sampai pol. Paling enak sih buat dengerin lagu-lagu yang upbeat kaya lagu-lagu dari DJ top kaya Tiesto, Zedd, Calvin Harris dan lainnya. Suara basnya nendang, tapi kualitas mid dan treble-nya juga layak dipuji, misalnya buat menampilkan suara piano/keyboard dan vokal (khususnya vokal cewek).

Tapi jangan salah, headphones Muze PHP-ZB1 dan speaker Muze PSP-B1 buat dengerin lagu-lagu rock atau pop juga sangat oke kok. Gue pernah tuh dengerin sealbum Metallica (yang album Black) dan puas banget sama suara distorsi gitar atau gebukan drum yang kedengaran dengan jelas dan (lagi-lagi) nggak pecah walaupun pakai volume cukup kencang.

Ketahanan baterai

Headphones bluetooth sangat membutuhkan baterai yang oke biar tahan lama buat dengerin musik di jalan sebelum di-charge lagi. Kerennya, Muze PHP-ZB1 ini punya baterai lumayan mumpuni. Biasanya, dengan habit dengerin musik kaya sekarang (ya sekitar 4-5 jam sehari dari total waktu di luar rumah yang mencapai 11-12 jam sehari), baterai Muze PHP-ZB1 bisa tahan sampai 2 hari lho.

Sementara penilaian gue buat baterai speaker Muze PSP-B1, masih bisa diperbaiki dari yang sekarang. Baterai Muze PSP-B1 biasanya bertahan selama seharian. Meski begitu, gue sih cukup puas ya dengan baterai speaker ini karena letaknya yang selalu berada dekat colokan jadi bisa cepat-cepat di-charge ketika sudah mulai kehabisan daya.

Secara keseluruhan

Penilaian akhir gue, dua alat audio personal ini adalah pilihan yang sangat baik untuk dipakai di kantor, di perjalanan atau di rumah. Gue percaya bahwa produk audio yang baik membuat kita nyaman dalam menikmati musik dan membuat kita bakal lebih mengapresiasi karya musik.

thumb_IMG_1465_1024

Dengan desain yang juga cakep dan performa yang sangat baik kaya gini, Polytron Muze PHP-ZB1 dan Muze PSP-B1 bisa jadi pilihan buat mereka yang berjiwa muda dan nggak ingin ketinggalan tren terbaru. Apalagi, dengan kualitas audio yang cakep begini, harganya cukup terjangkau, kok. Dijamin nggak akan bikin kantong jebol.

 

 

 

Selfie-lah Sebelum Selfie Itu Dilarang

Dikit-dikit selfie, dikit-dikit selfie. Selfie alias swafoto memang jadi aktivitas yang dilakukan oleh nyaris semua orang. Coba saja cek hape lo, pasti ada foto selfie-nya. Kalo nggak ada, berarti lo termasuk antimainstream. Salut deh!

Popularitas selfie emang ke mana-mana, sampai-sampai kata ini masuk sebagai lema resmi Kamus Oxford. Mungkin karena pada dasarnya manusia itu suka menyanjung diri sendiri. Dengan selfie, kamu bisa memilih angle yang memperlihatkan kegantengan atau kecantikanmu. Ya nggak?

Resep selfie sebenarnya sederhana: kamera depan (di ponsel) yang bagus ditambah sudut pengambilan gambar yang bagus. Kenapa kamera depan? Karena selfie biasanya diambil dengan kamera itu, dengan pengambil gambar (sekaligus obyek foto) menghadap layar ponsel biar tahu fotonya udah bagus apa belum.

Dengan tren begitu, produsen ponsel sekarang memang cukup serius memikirkan kamera depan produknya. Nah, kemarin ini, Kamis (11/6), salah satu produsen ponsel dari Cina, Vivo, meluncurkan X5 Pro. Fitur andalannya: kamera depan dengan resolusi 8 MP. Itu masih ditambah dengan burst mode hingga 5 foto. Selfie terus deh itu sampe bedak dan lipstik luntur. :)) (Ya nggak papa sih, kan selfie bukan kejahatan. Selfie-lah sebelum selfie itu dilarang.)

Vivo3

Nggak cuma kamera depannya yang mantap, kamera belakangnya juga cakep dengan resolusi  13 MP. Kamera belakang juga dilengkapi fitur PDAF biar hasil foto lo nggak blur.

Dari segi jeroan, X5 Pro cukup menjanjikan sih. Layarnya berukuran 5,2 inci dengan teknologi Super AMOLED biar lo bisa melihat gambar yang tajam dengan warna-warni yang kaya. Prosesonya pakai Qualcomm Snapdragon Octacore dan memorinya 2 GB yang bikin lo leluasa buka banyak aplikasi dalam waktu bersamaan. Buat OS-nya, Vivo mengembangkan OS bernama FunTouch 2.1 yang merupakan modifikasi dari Android Lollipop.

Vivo4

Semua itu dibungkus dalam sebuah ponsel berdesain cantik (meski bagian bawahnya agak mirip sebuah ponsel brand Amerika) dan akan dilepas ke pasaran dengan harga Rp4.999.000.

Vivo2

Otak Pintar di Balik Smartphone Canggih

Ponsel pintar makin nggak terpisahkan dari gaya hidup manusia di era modern. Mulai dari kita melek bangun tidur, sampai sebelum mata terpejam buat tidur, pasti ada peran ponsel pintar di sana; boleh jadi mulai dari memeriksa Whatsapp dan Telegram dari teman-teman atau gebetan, ngecek email kali-kali aja ada pengumuman dari bos kalau hari ini boleh bolos (ngarep!), memotret kejadian atau pemandangan di sekitar kita buat diunggah di Instagram, atau ngecek Twitter dan Facebook buat tahu topik yang lagi ramai diobrolin dan kabar teman-teman kita.

ADay

Soal foto-foto di ponsel, asal tahu saja, ada data yang nunjukkin kalau 58% pemakai ponsel pintar hanya memotret pakai ponsel mereka (artinya, nggak lagi butuh kamera saku atau DSLR). Hasilnya, di seluruh dunia, ada sekitar 1,4 miliar foto yang dijepret pakai ponsel per harinya. Ini membuat kamera digital makin nggak populer dan penjualannya semakin turun. (Lihat infografis di bawah)

Evolution

(Untuk slide lengkapnya bisa dilihat di sini.)

Makin banyak hal yang dilakukan, tentu saja kemampuan ponsel pintar harus makin oke dong. Apa sih definisi ponsel yang bagus itu? Mungkin kamu bakal jawab ponselnya cepat alias nggak lemot, layarnya tajam, audionya menggelegar, bisa buat 3G dan LTE, sekaligus nggak mudah panas dan baterainya irit (biar nggak ke mana-mana bawa powerbank, cuy!)

Ponsel pintar yang oke tentu butuh hardware oke yang bagus. Itu sudah logikanya. Dari banyak printilan yang ada di dalam ponselmu, salah satu yang terpenting itu prosesor. Ibaratnya badan kita, prosesor itu otak sekaligus jantung ponsel. Kalau prosesornya oke, ponselnya jadi oke. Sebaliknya, kalo prosesornya payah, maka ponselnya juga ikutan payah.

Di masa depan, prosesor tidak cuma berguna buat menenagai ponsel, tapi bisa sampai buat mobil. Teknologi canggih yang mungkin sekarang masih berada di fantasi pembuat film sci-fi, atau masih berada dalam gambar konsep di tangan ilmuwan, seperti navigasi 3D, pengenalan suara dan gerak tubuh, atau konsep hiburan kabin yang lebih canggih, bisa terwujud tak lama lagi.

Ngomong-ngomong soal prosesor, saat ini pasar ponsel pintar dunia didominasi oleh Qualcomm dengan produk andalannya, Snapdragon. Popularitas Snapdragon terjadi berkat kemampuannya sebagai prosesor yang bertenaga dan mampu menjalankan banyak pekerjaan sekaligus dengan cepat, sekaligus fitur hemat energi yang dimilikinya.

Salah satu prosesor Snapdragon yang punya kemampuan wuzz wuzz wuzz adalah Snapdragon 801. Prosesor ini dikenalin ke publik awal tahun lalu dan sudah jadi pendorong untuk ponsel-ponsel kelas atas. (Daftar lengkapnya bisa digugling yah). Jadi, dari segi kemampuan, Snapdragon 801 ini nggak perlu diragukan lagi.

Nah, akhir tahun lalu, ada satu lagi ponsel kelas atas yang memakai Snapdragon 801 sebagai inti dari mesinnya. Ponsel itu adalah Oppo N3, produksi pabrikan Oppo dari Cina. Dipasangnya Snapdragon 801 membuat N3 dijanjikan sebagai ponsel pintar yang koneksinya paling kencang, kinerjanya paling bagus, membuat kameranya tajam dan jelas, kemampuan multimedianya nggak malu-maluin dan yang nggak kalah penting: hemat energi.

Foto dari global.oppo.com
Foto dari global.oppo.com

Adanya prosesor Snapdragon 801 di dalam N3 bikin ponsel berlayar 5,5 inci itu sudah bisa memakai jaringan 4G atau LTE yang sudah digelar sama (setidaknya) tiga operator terbesar di Indonesia saat ini, yaitu Telkomsel, XL dan Indosat.

Tak cuma koneksinya yang dijanjikan bakal ngebut, Snapdragon 801 juga membuat kamera N3 bisa memampatkan lebih banyak megapixel, autofokusnya lebih cepat (cangcing, kalau kata orang Bandung, mah) dan bisa diandalkan buat memotret di tempat yang gelap alias minim cahaya.

Belum cukup di situ, Snapdragon 801 juga bikin N3 bisa merekam video 4K (lebih tajam dari High Definition/HD) dan bisa menghasilkan suara yang caem bak di bioskop waktu dipakai untuk nonton video atau dengerin musik.

Jalan Sepi

IMG_4203-1.JPG

Akhir pekan lalu, berlangsung kumpul-kumpul blogger di sebuah hotel di Jakarta. Kebanyakan yang datang di acara ini adalah mereka yang ngeblog di era keemasan ngeblog, yakni tahun 2005-2008. Istilah era keemasan ini sebenarnya sangat sumir karena menurut beberapa referensi lisan, sejatinya era ngeblog sudah dimulai sejak akhir 1990-an sampai awal 2000-an. Cuma, gue pribadi emang merasa bahwa blogosfer di era 2006-2008 itu sangat hidup dan dinamis dengan berbagai peristiwa, wacana, tren, kontroversi dan lainnya.

Dari acara kumpul-kumpul blogger itu, gue diingatkan tentang banyaknya isu dan narasi yang beredar di blogosfer circa 2004-2009, mulai dari kebebasan berekspresi (kasus penangkapan Herman Saksono), isu monetisasi dan scam internet (kasus Anne Ahira), plagiarisme (kasus Buanadara), “keributan” antara para blogger dengan pemikiran bebas vs blogger Salafi, dan lain-lain. Bak pasar malam, blogosfer saat itu sungguh riuh rendah, tapi masih terasa menyenangkan. Para bloggers sepertinya masih punya banyak waktu buat menulis, berkomentar, berbalas wacana, dan lain-lain.

Belakangan, pesona blog sebagai alat untuk berekspresi di dunia maya sedikit surut. Kehadiran media sosial yang tidak menuntut kemampuan menulis panjang membuat ngeblog jadi terpinggirkan. Lebih mudah untuk mengetikkan dua-tiga kalimat di Twitter yang tak lebih panjang dari 140 karakter ketimbang menuangkan pikiran dalam 6-10 paragraf di sebuah tulisan di blog.

Blogger-blogger yang aktif tinggal segelintir. Sebagian dari mereka masih menulis karena memang ingin menumpahkan pikirannya dalam bentuk tertulis, sebagian lagi menulis karena pesanan penaja atau untuk kontes, sebagian yang lain cuma muncul sesekali dan sebagian lagi lenyap sama sekali.

Dari sisi pembacanya pun demikian. Selain memang sudah sangat kurangnya tulisan di blogosfer (secara kuantitas, apalagi secara kualitas), pembaca pun susut karena para onliners gampang sekali merasa lelah untuk membaca tulisan di blog karena mereka sudah terlalu sering dicekoki tulisan-tulisan pendek di Twitter, Facebook atau Path. Sudah sangat jarang ada kegiatan blogwalking (kalau tidak mau bilang tidak ada), yang juga mulai langka adalah tradisi untuk sekadar meninggalkan komentar—apalagi berharap terjadinya debat atau diskusi di laman blog.

Gue pernah merasakan keresahan soal surutnya kuantitas dan kualitas tulisan di blog ini. Tahun lalu, gue mencoba menginisiasi gerakan “seminggu satu”, yang intinya adalah mengajak para blogger untuk setidaknya membuat satu tulisan per minggu, dengan tema tertentu karena banyak yang beralasan bahwa mereka berhenti menulis karena kehabisan ide. Gue sebenarnya tidak setuju bahwa ide itu bisa habis. Tapi gue pikir tak apalah kalau menulis blog dengan tema yang ditentukan, siapa tahu kelak gairah untuk menulis blog akan hidup lagi dan sudah tidak perlu ada penentuan tema untuk tetap aktif menulis.

Mudah ditebak, gerakan “seminggu satu” nggak bertahan lama. Kalau nggak salah cuma berjalan tiga pekan. Siapa yang salah dalam kegagalan gerakan ini? Selayaknya gue menunjuk diri gue sendiri sebagai biangnya. Gue merasa makin kehabisan energi untuk menulis, bahkan bila frekuensinya cuma satu tulisan dalam sepekan.

(Pembelaan gue: pekerjaan utama gue adalah menulis. Ketika gue udah tiap hari menulis buat media, gue merasa sangat suntuk kalau masih harus menulis (blog) di waktu luang. Meski gue agak jarang nulis di blog sendiri, setidaknya gue kadang masih ngeblog di kolom teknologi atau olahraga. eh ngeblog di Tumblr juga. :p)

Nah, di hari Blogger Nasional yang jatuh tanggal 27 Oktober ini, gue nggak menggantungkan harapan apapun deh. Gue udah nggak pernah lagi bermimpi blogosfer akan seseru dulu dengan segala wacana yang berlalu lalang. Pada akhirnya, meminjam ucapan Paman Tyo, ngeblog memang tidak untuk semua orang. Waktu akan menyeleksi mana orang yang menekuni jalan yang (mulai) sepi ini.

Selamat Hari Blogger!

Menghemat Baterai Android dengan Du Battery Saver

DuBattery1

Saya adalah pemakai ponsel Android yang memiliki fitur dual SIM alias bisa memuat dua operator secara bersamaan. Satu operator CDMA yang khusus dipakai buat data dan satu lagi operator GSM yang dipakai untuk telepon.

Nah, salah satu kelemahan ponsel dual SIM adalah konsumsi baterai yang cukup boros. Kegiatan mencari sinyal 2 operator itu bisa cukup cepat membuat baterai yang jam 9 pagi masih 100% menjadi cuma setengahnya begitu masuk di atas jam 12 siang.

Hal ini makin parah bila saya melakukan perjalanan pulang kampung. Naik kereta artinya melewati daerah-daerah pedesaan di mana sinyal seluler timbul tenggelam. Ponsel semakin bekerja keras demi mendapatkan sinyal. Penurunan daya kian parah bila saya merasa bosan di perjalanan sehingga memakai ponsel saya untuk ngetwit atau ngobrol lewat Whatsapp.

Nah, di kampung saya, Purwokerto, kebetulan 2 operator yang ada di dalam hape saya termasuk kurang kuat sinyalnya. Kerja keras lagi deh hape saya itu. Kadang saya sampai harus ngecas hape 2 kali sehari atau saya harus rela hape saya mati di tengah jalan.

Suatu ketika, ada teman yang mengenalkan saya dengan aplikasi Du Battery Saver. Aplikasi ini ternyata sangat berguna bagi saya untuk menghemat baterai hape. Yang dilakukan oleh aplikasi gratis ini adalah men-disable fitur-fitur penguras tenaga yang tak perlu, sampai mengatur kecerahan layar (ini adalah penyedot terbanyak daya dari baterai).

Memakai aplikasi ini sangat gampang. Tinggal unduh aplikasinya dari Google Play di sini. Setelah terinstall, ada fitur buat melihat status baterai (daya yang terdapat di dalamnya serta suhu baterai) seperti ini:

DuBattery2

Nah, cobalah klik optimize di sini. Kamu akan ditunjukkan analisis terhadap hal-hal yang menyedot daya bateraimu dan cara buat menguranginya.

DuBattery7

Di tab sebelah kondisi baterai, ada tab saver. Di sini ada beberapa mode yang bisa dipilih, yaitu Long (cuma menyalakan fitur telepon dan SMS), General (fitur telepon/SMS dan paket data menyala), Sleep (cuma alarm yang menyala) dan custom mode yang bisa kita atur.

DuBattery4

Preferensi saya pribadi adalah seperti ini.

DuBattery3

Di tab sebelah saver, ada tab charge. Di sini kita bisa melihat status baterai saat sedang dicas. Kamu bisa melihat kapan bateraimu akan penuh terisi, tergantung kepada sumber daya colokanmu (apakah langsung dari listrik atau dari USB).

DuBaterry6

Nah tab paling kanan adalah tab monitor. Di sini kamu bisa melihat aplikasi-aplikasi apa yang memakan daya dan ada juga cara mematikannya.

DuBatery5

Cukup mudah kan memakainya? Tidak perlu jadi geek Android buat bisa memaksimalkan daya baterai hapemu dan menghindarkan kamu dari kerepotan mencari colokan atau membawa powerbank ke mana-mana hanya agar hapemu terus menyala dan kamu tetap terkoneksi dengan sekitarmu.

Mainan Baru

IMAG2255

Kesadaran akan kesehatan di kalangan menengah Indonesia (oke, Jakarta) semakin meningkat. Beberapa tahun belakangan ini, fitness center semakin menjamur dan anggotanya tambah banyak. Teknologi dan gadget yang terkait dengan aktivitas fisik juga semakin populer.

Produsen alat olahraga Nike punya sebuah gadget khusus berupa gelang (wrist band) yang sudah cukup populer di sini, yaitu Nike FuelBand. Gelang ini bisa mengukur aktivitas fisik penggunanya seperti jumlah langkah kaki yang ditempuh tiap hari.

Selain FuelBand, sebenarnya ada wrist band lain yang kurang lebih memiliki fungsi serupa, seperti Jawbone Up dan Fitbit Flex. Nah, pekan lalu, gue dapat gelang Up gratis dari kantor sebagai bagian dari gerakan ‘100 Miles’ yang punya tujuan mengajak karyawan Yahoo! untuk lebih aktif bergerak dan ujung-ujungnya lebih sehat.

Di posting ini gue akan menunjukkan hal-hal berikut ini:

1. Fitur yang dimiliki;

2. Unboxing;

3. Setting; dan

4. Penggunaan.

Nah gue mulai aja ya.

1. Fitur

Jawbone Up ini dapat dipakai untuk mengukur 3 hal, yakni langkah, tidur dan asupan makanan. Semua itu diterjemahkan ke dalam satuan kalori yang dimasukkan ke dalam tubuh atau jumlah yang berhasil dibakar pengguna.

Kemampuan mengukur tidur dan asupan makanan ini yang tidak dimiliki oleh FuelBand, tapi bisa ditemukan pada Flex.

IMAG2241

Up punya bodi yang fleksibel dengan dilapisi karet di luarnya. Dengan bodi itu, Up cukup tahan cipratan air, keringat atau bahkan pancuran shower. Tapi sebaiknya Up tidak dipakai saat berenang, main selancar air atau masuk sauna.

2. Unboxing

Up dibungkus dengan sebuah boks yang lumayan eksklusif. Ada diagram bagian-bagian dari gelang ini, ada juga sedikit manualnya. Berikut ini cara unboxing Up. (maaf ya ternyata orientasi kameranya salah :))))))

Ini adalah bagian kepala Up, yang bila tutupnya dilepas terdapat jack 3.5 mm (jack audio) yang harus dicolokkan ke ponsel untuk mensinkronisasi data. Ini salah satu kelemahan Up karena FuelBand dan Flex bisa disinkronisasi secara nirkabel memakai bluetooth.

IMAG2247

Sementara ini adalah bagian ekor dari Up yang bila dipencet akan mengubah mode gelang dari move jadi sleep atau sebaliknya.

IMG_0073

3. Setting

Aplikasi bisa diunduh di Play Store untuk ponsel Android dan di AppStore untuk iPhone. Setelah itu, colokkan jack 3.5 mm di Up ke ponsel. kamu sign-up, isikan email dan password, klik sana-sini dan voila, Up kamu sudah bisa dipakai.

4. Pemakaian

Hal pertama harus kamu lakukan adalah memasang Up di pergelangan tangan. Begini kira-kira.
IMAG2245

Untuk dipakai mengukur langkah, kamu tinggal memencet ekor Up dan pastikan lampu tanda mode move menyala, lalu melangkahlah seperti biasa.

IMG_0075

Untuk dipakai mengukur tidur, kamu harus memencet ekor Up selama kira-kira 3-5 detik hingga lampu tanda mode sleep menyala, lalu tidurlah. Pengukuran tidur ini agak tricky karena bila Up mendeteksi kamu bergerak yang setara dengan 250 langkah, maka Up akan menganggap kamu sudah bangun.

IMG_0077

2013-07-31_09-38-21

Untuk mengukur asupan makanan, kamu harus masuk ke apps Up di ponsel dan masukkan makanan apa saja yang kamu konsumsi. Atau bila makanan itu punya bar code, tinggal pindai dan otomatis makanan akan terinput sendiri. Soal akurasi jumlah kalori yang ada di dalam makanan tersebut, gue kurang tahu apakah bisa diandalkan atau tidak.

IMG_0061

Setiap hari, kamu harus mensinkronkan gelang Up ke ponsel. Sebaiknya lakukan ini 2 kali sehari—sekali saat bangun tidur dan sekali lagi tepat sebelum tidur.

IMG_0062

Kamu bisa menetapkan target berapa jumlah langkah yang ingin kamu tempuh dan berapa jam kamu tidur dalam 24 jam. Up akan membandingkan capaian tidur dan langkah kamu dalam sehari dengan target ini.

Dari apps kamu bisa membagi pencapaian ini ke Facebook dan Twitter (sayangnya belum bisa ke Path). Caranya tekan lambang sharing ini dan posting kamu bisa dibaca oleh followers dan teman.

IMG_0067

Di apps kamu juga bisa menambah teman (disebut dengan teammates), mengatur setting privasi, memberi emoticon dan komentar. Tak lupa, kamu bisa melihat detail aktivitas dan melakukan analisis sendiri tentang jam-jam kamu paling aktif, apakah tidur kamu nyenyak, dlsb.
IMG_0060
IMG_0059