Gue, Bangun Pagi dan Raisa

Lari1
Lari malam di Santa Monica pakai kaos bertuliskan Indonesia. *bangga*

Dulu, ketika ada kegiatan team building di kantor lama, ada sebuah permainan yang mengharuskan dua orang saling bicara mengenalkan diri. Tujuannya adalah agar kita mengenal orang di depan kita lebih dari sekadar rekan kerja, tapi juga sebagai manusia dengan berbagai karakternya. Di mana dia tinggal, apakah dia sudah menikah atau masih melajang, apakah dia memelihara anjing atau kucing, apakah dia lebih suka warna biru daripada merah, dan sebagainya.

Salah satu ciri dalam diri gue yang sering gue katakan ke teman-teman dalam permainan itu (teman-teman karena pasangan bermainnya berganti-ganti) adalah gue bukan morning person alias paling susah bangun pagi. Ada beberapa juga teman yang mengakui hal yang sama.

Gue dan bangun pagi memang nggak berjodoh. Bukannya nggak berusaha untuk berjodoh, tapi itu nggak pernah (sangat jarang) terjadi. Gue dan bangun pagi seperti gue dan Raisa: nggak akan bersatu. 

Di suatu masa saat gue lagi rajin-rajinnya lari, gue pernah lari tiga atau empat kali seminggu. Nyaris semuanya gue lakukan sore hari, setelah menyelesaikan pekerjaan di kantor. Nggak ada yang gue lakukan pagi hari. Alasannya, gue terlalu malas untuk bangun pagi. 

Sebenarnya, dulu pernah sih mencoba lari pagi di dekat kos. Tapi Jalan Jatipadang jam 5 pagi ternyata udah begitu ramai dengan orang dan kendaraan lalu lalang. Lari pagi di Jakarta nggak selamanya bisa di trotoar. Kalau trotoarnya rusak atau terhalang kios rokok, mau nggak mau gue harus turun ke jalan. Harus hati-hati banget kalau nggak mau kesamber angkot 17 yang sepagi itu udah giat mencari nafkah. Bertambahlah sudah alasan gue untuk nggak mau lari pagi.

Lari3
Abis lari 7 km di tepi Samudera Pasifik.

Alasan kenapa gue nggak bisa bangun pagi sebenarnya sederhana. Ini karena seringnya gue melek sampai larut malam; tak jarang melewati tengah malam. Padahal, gue udah nggak pernah nonton sepak bola dinihari sejak dua tahun terakhir ini. Tidur malam, otomatis badan malas buat disuruh bangun pagi-pagi. Ketimbang dingin-dingin sudah lari-larian, mending juga bergelung di balik selimut. Nggak sama Raisa, tentunya.

Sebenarnya ada juga pengecualiannya: kalau sedang di Purwokerto, saat ikut lomba dan kalau lagi di tempat jalan-jalan. Di Purwokerto, gue biasanya lebih cepat tidur karena nggak banyak hal lain yang bisa dilakukan. Meski ada tv kabel di rumah, gue udah lumayan sanggup hidup tanpa tv selama ini. Susahnya koneksi internet mungkin jadi penyebab gue mampu tidur lebih cepat di kampung. Alhasil, gue cukup sukses beberapa kali bangun jam 5 pagi dan bisa lari-larian di sekitar kompleks tanpa harus khawatir diseruduk angkot kurang ajar.

Pengecualian kedua adalah bila ada lomba. Jelas, umumnya race berlangsung pagi hari kan. Dua kali gue ikutan Jakarta Marathon, dua kali ikutan Jakarta 10K dengan cukup sukses. Padahal, di keikutsertaan gue di Jakarta Marathon 2013 dan 2014, gue justru malamnya agak kurang tidur. 

Lari2
Suasana Jakarta Marathon 2014.

Yang terakhir, gue bisa lari pagi kalau lagi jalan-jalan yang jauh dari Jakarta atau Purwokerto. Seperti ketika gue lagi di Lampuuk, Aceh Besar, pagi-pagi setengah 5 gue udah bangun dan lari. Hari masih gelap banget dan kalau diingat-ingat, tempat itu adalah salah satu titik yang paling banyak korbannya saat terjadi tsunami tahun 2004. Tapi tekad gue buat pamer rute lari di ujung barat Indonesia mengalahkan itu semua. Demikian juga ketika dua hari kemudian gue juga berlari jam setengah 5 pagi di Pulau Weh. Atau ketika gue sedang berada di Chicago. Nggak terlalu pagi sih, sekitar jam 6.30, tapi Chicago jam segitu suhunya bisa 10 derajat Celcius. Namanya demi kan, gue jabanin tuh lari 8 km di sana.

Lari4
Sehabis lari di Pantai Lampuuk, Aceh Besar.

Pengecualian keknya waktu gue di NYC. Sebegitu inginnya gue lari di Central Park (cuma tiga blok dari rumah host AirBnB gue), ternyata gue gak sanggup bangun pagi. Bangun-bangun sudah jam 8 pagi. Meski belum panas dan masih bisa lari, gue saat itu memilih buat bikin Indomie, mandi dan jalan-jalan.

Jadi sekali lagi, kalau mau ngajak gue lari-larian, janganlah berharap gue bisa bangun selepas ayam berkokok. Susah. Lebih baik kalau gue diajak lari-lari sore di GBK dan setelah selesai lari bisa bisa langsung makan pecel pakai mendoan. *eh*

Iklan

Otak Pintar di Balik Smartphone Canggih

Ponsel pintar makin nggak terpisahkan dari gaya hidup manusia di era modern. Mulai dari kita melek bangun tidur, sampai sebelum mata terpejam buat tidur, pasti ada peran ponsel pintar di sana; boleh jadi mulai dari memeriksa Whatsapp dan Telegram dari teman-teman atau gebetan, ngecek email kali-kali aja ada pengumuman dari bos kalau hari ini boleh bolos (ngarep!), memotret kejadian atau pemandangan di sekitar kita buat diunggah di Instagram, atau ngecek Twitter dan Facebook buat tahu topik yang lagi ramai diobrolin dan kabar teman-teman kita.

ADay

Soal foto-foto di ponsel, asal tahu saja, ada data yang nunjukkin kalau 58% pemakai ponsel pintar hanya memotret pakai ponsel mereka (artinya, nggak lagi butuh kamera saku atau DSLR). Hasilnya, di seluruh dunia, ada sekitar 1,4 miliar foto yang dijepret pakai ponsel per harinya. Ini membuat kamera digital makin nggak populer dan penjualannya semakin turun. (Lihat infografis di bawah)

Evolution

(Untuk slide lengkapnya bisa dilihat di sini.)

Makin banyak hal yang dilakukan, tentu saja kemampuan ponsel pintar harus makin oke dong. Apa sih definisi ponsel yang bagus itu? Mungkin kamu bakal jawab ponselnya cepat alias nggak lemot, layarnya tajam, audionya menggelegar, bisa buat 3G dan LTE, sekaligus nggak mudah panas dan baterainya irit (biar nggak ke mana-mana bawa powerbank, cuy!)

Ponsel pintar yang oke tentu butuh hardware oke yang bagus. Itu sudah logikanya. Dari banyak printilan yang ada di dalam ponselmu, salah satu yang terpenting itu prosesor. Ibaratnya badan kita, prosesor itu otak sekaligus jantung ponsel. Kalau prosesornya oke, ponselnya jadi oke. Sebaliknya, kalo prosesornya payah, maka ponselnya juga ikutan payah.

Di masa depan, prosesor tidak cuma berguna buat menenagai ponsel, tapi bisa sampai buat mobil. Teknologi canggih yang mungkin sekarang masih berada di fantasi pembuat film sci-fi, atau masih berada dalam gambar konsep di tangan ilmuwan, seperti navigasi 3D, pengenalan suara dan gerak tubuh, atau konsep hiburan kabin yang lebih canggih, bisa terwujud tak lama lagi.

Ngomong-ngomong soal prosesor, saat ini pasar ponsel pintar dunia didominasi oleh Qualcomm dengan produk andalannya, Snapdragon. Popularitas Snapdragon terjadi berkat kemampuannya sebagai prosesor yang bertenaga dan mampu menjalankan banyak pekerjaan sekaligus dengan cepat, sekaligus fitur hemat energi yang dimilikinya.

Salah satu prosesor Snapdragon yang punya kemampuan wuzz wuzz wuzz adalah Snapdragon 801. Prosesor ini dikenalin ke publik awal tahun lalu dan sudah jadi pendorong untuk ponsel-ponsel kelas atas. (Daftar lengkapnya bisa digugling yah). Jadi, dari segi kemampuan, Snapdragon 801 ini nggak perlu diragukan lagi.

Nah, akhir tahun lalu, ada satu lagi ponsel kelas atas yang memakai Snapdragon 801 sebagai inti dari mesinnya. Ponsel itu adalah Oppo N3, produksi pabrikan Oppo dari Cina. Dipasangnya Snapdragon 801 membuat N3 dijanjikan sebagai ponsel pintar yang koneksinya paling kencang, kinerjanya paling bagus, membuat kameranya tajam dan jelas, kemampuan multimedianya nggak malu-maluin dan yang nggak kalah penting: hemat energi.

Foto dari global.oppo.com
Foto dari global.oppo.com

Adanya prosesor Snapdragon 801 di dalam N3 bikin ponsel berlayar 5,5 inci itu sudah bisa memakai jaringan 4G atau LTE yang sudah digelar sama (setidaknya) tiga operator terbesar di Indonesia saat ini, yaitu Telkomsel, XL dan Indosat.

Tak cuma koneksinya yang dijanjikan bakal ngebut, Snapdragon 801 juga membuat kamera N3 bisa memampatkan lebih banyak megapixel, autofokusnya lebih cepat (cangcing, kalau kata orang Bandung, mah) dan bisa diandalkan buat memotret di tempat yang gelap alias minim cahaya.

Belum cukup di situ, Snapdragon 801 juga bikin N3 bisa merekam video 4K (lebih tajam dari High Definition/HD) dan bisa menghasilkan suara yang caem bak di bioskop waktu dipakai untuk nonton video atau dengerin musik.

Yang Beda dari Bus di Amerika dan Indonesia

Kartu transportasi di NYC, LA dan Chicago

Buat gue, naik transportasi umum di sebuah kota atau negara yang gue kunjungi adalah hal yang termasuk wajib. Dengan naik transportasi umum, gue bisa lihat banyak hal, mulai dari infrastruktur kotanya, sampai ke demografi sosial ekonomi dan tingkah laku masyarakatnya.

Di beberapa kota yang gue kunjungi di Amerika, transportasi umum memegang peranan penting dalam perpindahan orang dan barang. Meski Amerika negara yang kental banget dengan car culture-nya, tapi mereka nggak lantas melupakan pengembangan angkutan umumnya.

Selain New York, kota Los Angeles dan Buffalo banyak mengandalkan bus. Sementara Chicago lebih berimbang di mana bus dan kereta Metro menanggung beban yang relatif sama berat.

Nah, setelah banyak naik bus umum di LA, Buffalo, Chicago dan sedikit di NYC, ada beberapa perbedaan bus di sana dengan di sini.

1. Cuma satu jenis
Di Indonesia, jenis busnya banyak banget. Sampai bingung buat ngapalin. Mulai dari Transjakarta, APTB, Patas AC, Kopaja AC, Kopaja, Metromini, Debora, Koantas Bima, bus besar nggak ber-AC, shuttle bus ke perumahan-perumahan besar di suburban Jakarta, sampai ke angkot.

Bus di LA/Santa Monica

Kalau di Amerika, bus mereka cuma satu jenis. Ya bus kota berukuran penuh (dengan kursi sekitar 40-50 untuk bis tunggal dan 80-90 untuk bus gandeng). PR naik bus di Amerika cuma mengingat-ingat nomor rutenya.

2. Nggak berhenti sembarangan
“Bang kiri, bang!” teriak lo ketika mau turun dari sebuah Metromini di Mampang Prapatan. Maka si abang sopir pun menepi ke kiri (seringnya nggak pake sein) dan pengendara lain dibuat sibuk mengerem biar nggak nabrak si Metromini. Kalau lo beruntung, lo berhenti di tempat yang lo inginkan, kalau enggak, lo diberhentikan 50 meter di depan. Teorinya sih ada halte bus, tapi praktiknya bus boleh berhenti di mana saja. Aturan yang tanpa aturan ini berlaku juga buat naik bus.

Hal yang kaya gitu nggak bisa dilakukan di Amerika. Bus tertib cuma berhenti di halte yang sudah disediakan. Haltenya nggak selalu ada atapnya, lebih sering cuma penanda aja. Tapi yang jelas bus cuma mau menaikkan dan menurunkan penumpang dari halte. Eh tapi di NYC, ada pengecualian di mana penumpang boleh minta turun di mana aja kalau naik bus di atas jam 10 malam.

Bus8
Jadwal di salah satu halte bus di Santa Monica

Yang harus diingat, kadang bus nggak berhenti di sebuah halte kalau di halte itu nggak ada orang yang menunggu bus. Kalau lo mau minta berhenti di halte depan, nggak harus teriak “kiri, mister!” ke sopir, tapi cukup tarik tali stop request yang menjulur di semua sudut bus. Bus yang lebih baru biasanya udah mengganti sistem tali ini dengan tombol. (Note: sangat disarankan ketika turun ucapin “thank you, sir!” ke sopirnya. They’ll appreciate it very much.)

4. Nggak pakai bayar ke kenek
Seorang pemuda memainkan kepingan-kepingan receh di tangannya sampai menimbulkan bunyi “cring cring”. Itu tandanya lo dimintai bayar ongkos. Kalau sopir nggak pake kenek, ya ketika mau turun lo bayar langsung ke sopir yang (di tengah usahanya berjibaku menghentikan bus dan menjaga kopling biar mesin nggak mati) akan memberi lo kembalian.

Bus2
Interior bus gandeng di LA

Apakah ada kenek di Amerika? Ya enggak, lah! Ada beberapa jenis pembayaran yang bisa dilakukan. Beda kota, beda sistem; tapi yang jelas selalu tersedia opsi bayar pakai uang receh atau bayar pakai kartu dan bayarnya selalu ketika kita mulai naik bus (dari pintu depan).

· Di LA, buat bus Metro, bayarnya pakai kartu TAP. Bus yang sama juga menerima pembayaran duit receh. Kalau bayar pakai uang kertas, pastikan pas karena nggak disediain kembalian. Ada satu jenis bus lagi di LA, yaitu Big Blue Bus. Ada kartu buat bayarnya, tapi selama gue di sana gue memilih bayar pake receh karena cukup jarang naik bus ini. Di LA, model tarifnya adalah flat ($1 per ride) tapi pay as you go alias memotong deposit.
· Di Chicago, semua bus dioperasikan oleh CTA (Chicago Transport Authority). Bayarnya bisa pakai receh, tapi disarankan bayar pake kartu Ventra yang dimasukkin ke mesin reader (dan nanti akan keluar lagi). Kartu Ventra juga bisa dipakai buat naik kereta Metro. Tarifnya adalah $10 untuk 24 jam atau $20 buat 72 jam. Lo bebas naik berapa kalipun dan ke jurusan sejauh apapun.
· Di Buffalo, sistem bayarnya agak terbelakang. Karcisnya seharga $5 untuk sehari kalender dan dibeli di sopir busnya. Tiap naik bus, lo tunjukkin secarik kertas tiket yang sudah diberi tanggal ke sopirnya.
· Di New York, busnya agak jarang dan nggak tepat waktu kaya di LA dan Chicago. Bayarnya pakai kartu Metro seharga $30 yang berlaku buat 7 hari. Kartu ini bisa juga dipakai buat subway.

5. Berpendingin udara
Di Jakarta, bus ber-AC paling cuma Tranjakarta, APTB, Kopaja AC dan patas AC. Sisanya, penumpang harus berpanas-panasan di bus yang mesinnya di bawah kursi sopir, dengan pintu bus yang kebuka dan bikin semua asap dan debu terhirup oleh penumpang.

Ada Elvis di bus menuju Hollywood.
Ada Elvis di bus menuju Hollywood.

Bus di Amerika semuanya berpendingin udara. Udah jelas lah ya?

6. Ramah lingkungan
Pernah nggak melihat Metromini atau Kopaja mengeluarkan asap hitam pekat dari knalpotnya? Sering lah ya? Ini karena bus di Jakarta (Indonesia?) kebanyakan masih memakai solar. Usia tua kendaraan dan kurangnya perawatan memperparah polusi udara ini.

Bus6
Bus hibrida di Chicago

Bus-bus di Amerika sudah nggak ada lagi yang pakai mesin diesel kuno. Di LA, semua busnya sudah pakai bahan bakar gas. Sementara di Chicago, Buffalo dan NYC, busnya memakai mesin hibrida yang bahan bakarnya bisa memakai BBM atau gas.

7. Busnya ramah penderita cacat dan pengguna sepeda
Ada dua fitur bus di Amerika yang sangat gue kagumin. Yang pertama adalah bus bisa menurunkan badannya (pakai suspensi hidrolik) dan mengembangkan papan ke tepi jalan buat naik mereka yang berkursi roda. Di dalam kabin, pemakai kursi roda disediakan ruang di depan. Ruangan ini didapat dari kursi yang dilipat. Kalau ada penumpang berkursi roda yang naik, siapapun yang duduk di kursi lipat itu harus berpindah. Kemudian, kursi rodanya akan dikaitkan ke tali agar nggak ngglundung waktu bus bergerak. Biasanya, penumpang berkursi roda itu sendiri bisa mengaitkan pengaman, tapi ada juga yang butuh bantuan sopir. Di Buffalo/Niagara, gue pernah lihat sopir bus yang beranjak dari kursinya dan membantu memasang pengaman ke kursi roda penumpang.

Bus3
Kursi dilipat untuk penyandang cacat

Yang kedua adalah tersedianya dua rak sepeda di bagian muka bus. Jadi, kalo lo bawa sepeda dan mau naik bus, sepeda lo gak perlu masuk kabin, tapi bisa ditaruh di depan kaca sopir. Caranya, setelah bus yang lo setop berhenti, lo buka sendiri rak sepedanya, lalu lo kunci roda sepeda lo biar gak jatuh, dan lo naik ke kabin. Bayarnya sama aja. Waktu turun, jangan lupa menurunkan sepeda lo juga dari rak.

Bus4
Jangan lupa ambil sepedamu

 

Sembilan Hal yang Harus Dilakukan di Chicago

Chicago terngiang-ngiang di kepala gue sejak tahun 2011, ketika seorang wartawan Amerika bilang bahwa kota tercantik di Amerika bukanlah New York, tapi Chicago. Makanya, sehabis gue kelar dengan kerjaan Piala Dunia 2014 di Santa Monica, gue memutuskan untuk pergi ke Chicago.

Gue beli tiket pesawat American Airlines dari Bandara Internasional Los Angeles (LAX) ke Bandara O’Hare Chicago (ORD). Pagi-pagi tanggal 13 Juli 2014, gue berangkat ke LAX. Setelah melalui drama overweight koper dan melewati pemeriksaan ketat TSA, gue akhirnya terbang dan empat jam kemudian sudah mendarat di Chicago.

Waktu Chicago dua jam lebih awal dari Los Angeles. Karena terletak di wilayah utara Amerika, dan kebetulan berlokasi di tepian danau besar, maka cuaca Chicago sedikit lebih dingin. Sebagai gambaran, siang musim panas saja suhunya bisa 12-16 derajat Celcius.

Nah, berikut adalah 9 hal yang harus kamu lakukan kalau di Chicago.

1. Naik transportasi umumnya

Chicago memiliki keseimbangan dalam sistem transportasinya dengan peran yang sama yang diemban bus kota dan kereta komuter. Antara bus dengan KRL terkoneksi dengan baik. Sistem pentarifannya pun memakai kartu yang sama, yakni kartu Ventra yang bisa dibeli denga harga $10 untuk masa 24 jam. Sekali beli kartu ini, maka kamu bisa naik semua bus dan KRL yang disediakan oleh CTA (Chicago Transport Authority).

Chicago10
Bus CTA

Bus Chicago, seperti halnya bus di kota-kota lain di Amerika, kondisinya sangat bagus dengan mesin hibrida antara gas dengan BBM biasa. Jadwal untuk bus bisa dilihat melalui Google Maps. Hasilnya cukup akurat kok. Sementara KRL Chicago disebut dengan L Train. Di sejumlah wilayah, L Train berjalan di rel di atas tanah (elevated), sementara di downtown, L Train kebanyakan berjalan di bawah tanah (underground).

2. Ke Skydeck di Willis Tower

Naiklah ke lantai 103 Willis Tower, gedung setinggi 442 meter yang meruapakan gedung tertinggi di Chicago dan tertinggi kedua di Amerika setelah One WTC. Di skydeck di lantai 103, pengunjung bisa melihat ke seantero kota dan bahkan melihat negara bagian Indiana di seberang Danau Michigan. Tiket masuk buat orang dewasa sebesar $19.50.

3. Duduk-duduk di Navy Pier

Navy Pier adalah dermaga di tepian Danau Michigan. Sore hari, ketika matahari terbenam di antara gedung-gedung pencakar langit, sinarnya akan membuat warna danau dan langit menjadi merah keemasan. Sangat cantik. Hembusan angin di tempat ini lumayan kencang dan dingin sehingga bisa menggigilkan tubuh manusia tropis kayak gue.

Chicago6
Chicago dilihat dari Navy Pier

4. Jalan-jalan atau bersepeda di Grant Park

Bila New York terkenal dengan Central Park-nya, maka Chicago tenar dengan Grant Park-nya. Berukuran 319 acre (sekitar 130 hektare), Grant Park adalah paru-paru Chicago. Terletak di tepi Danau Michigan, Grant Park sangat menyenangkan buat dikunjungi. Kamu bisa jalan kaki, lari-lari atau naik sepeda sewaan.

Chicago3
Persewaan sepeda di Grant Park

5. Berfoto selfie di Cloud Gate

Di tengah kota Chicago, ada sebuah taman yang tidak besar tapi sangat wajib dikunjungi, yakni Millenium Park. Di Millenium Park, ada benda yang jadi ikon kota Chicago, yakni The Cloud Gate. Dibuat oleh seniman Inggris kelahiran India, Anish Kapoor, Cloud Gate menjadi ikon penting kota Chicago.

Chicago5
The Bean

Cloud Gate (sering juga disebut Chicago Bean atau The Bean karena bentuknya yang mirip kacang) terbuat dari logam berkilau yang bisa dipakai ngaca. Nampanglah di sana dan ambillah foto dirimu sendiri di cermin The Bean.

6. Jangan langsung pergi dari Millenium Park

Selain Cloud Gate yang ikonik, di Millenium Park juga ada Jay Pritzker Paviilion, teater terbuka dengan arsitektur indah rancangan Frank Gehry. Kalau beruntung, di Jay Pritzker Pavillion ada pertunjukan musik gratis atau latihan orkestra lokal. Di depan Jay Pritzker Pavillion ada ratusan kursi dan di belakangnya ada halaman rumput besar yang bisa dipakai duduk-duduk menonton pertunjukkan atau untuk berolahraga.

Chicago4
Jay Pritzker Pavillion

Millenium Park juga memiliki air mancur (Crown Fountain), taman (Lurie Garden) dan BP Bridge, jembatan berbentuk melengkung-lengkung yang dirancang oleh (lagi-lagi) Frank Gehry dan berfungsi menghubungkan Millenium Park dengan Maggie Daley Park yang berada di seberang jalan.

Chicago7
Lurie Garden

7. Mengunjungi arena-arena olahraga

Ketika gue kecil, Chicago Bulls sedang jago-jagonya. Ketika ke Chicago, gue sempat mengunjungi markas mereka, United Center. Tak cuma jadi markas Bulls, United Center juga jadi markas klub hoki es Chicago Blackhawks. Sayangnya, karena NBA dan NHL sedang off-season, tidak ada kegiatan apapun di sini.

Chicago11
United Center

Tak hanya United Center, Chicago juga punya venue olahraga lain yang tak kalah megah, yakni Stadion Soldier Field. Tempat ini dipakai sebagai markas klub NFL Chicago Bears dan tahun 1994 pernah dipakai untuk sejumlah pertandingan Piala Dunia.

Chicago9
Soldier Field

Chicago tampaknya tergila-gila dengan olahraga, sampai-sampai mereka punya dua tim baseball, yaitu Chicago Cubs dan Chicago White Sox. Cubs bermarkas di Wrigley Field, stadion berumur 100 tahun, sementara White Sox berkandang di US Cellular Field. Gue cuma mengunjungi Wrigley Field yang dekat dari host AirBnB gue di kawasan Lakeview. Sementara US Cellular Field gak sempat gue kunjungi, cuma melihat dari kejauhan waktu naik KRL.

Chicago2
Wrigley Field

8. Nggak harus berdoa buat ke Katedral Holy Name

Katedral terbesar di Chicago ini bergaya gothic. Eksteriornya indah, demikian juga interiornya. Buat masuk, kamu nggak harus beragama Katolik. Duduk-duduk di aulanya sambil berdiam diri dan menikmati keindahan interior katedral ini sudah cukup. Ingat, jaga kesopanan di rumah ibadah ini.

Chicago8
Katedral Holy Name

9. Lari!

Seperti halnya kota-kota lain di Amerika yang punya trotoar lebar-lebar dan lalu lintas yang nggak mengancam pejalan kaki, Chicago pun demikian. Karena jalannya berbentuk grid-grid, sangat menyenangkan untuk berlari di sana tanpa takut kesasar.

Sebenarnya ada saran ke-10, yakni mengunjungi rumah yang pernah ditinggali Presiden Amerika Barack Obama ketika masih tinggal di Chicago. Agak PR buat ke sana karena letaknya agak jauh dari pusat kota. Yang lebih mengecewakan, ketika gue di sana, di depan jalan masuk rumah Obama ada larangan masuk dari Secret Service dengan ancaman mengerikan buat yang coba-coba melanggar. Jadi, please do search first sebelum kamu mau berkunjung ke tempat ini apakah kamu boleh mendekat dan memfoto-foto rumah Obama.

Chicago1
Dilarang masuk!

TSA

TSA1“Maaf, koper Anda kelebihan berat. Silakan pindahkan ke tas lain atau Anda harus membayar over baggage $400 dolar.” Kalimat petugas di counter check in America Airlines di Bandara Internasional Los Angeles (LAX) itu membuat gue agak panik. Di timbangan, koper gue memang terhitung memiliki berat 58 pound; delapan pound lebih berat dari ketentuan berat maksimal sebuah koper yang masuk ke bagasi. Padahal, buat memasukkan satu koper ke bagasi aja gue udah harus bayar $25 (semua maskapai penerbangan di Amrik emang nggak menggratiskan biaya bagasi), males banget kan kalau harus bayar lagi $400.

Segera saja gue membongkar koper besar yang berisi segala macam barang itu. Pakaian jadi prioritas untuk gue pindahkan ke tas olahraga dan tas punggung yang juga gue bawa. Proses membongkar-bongkar dan memindah-mindahkan itu gue lakukan di dekat counter check in AA, jadi kadang ada saja calon penumpang yang ngeliatin gue yang mulai berpeluh akibat rasa panik yang menjalar.

Beruntunglah kejadian harus memindah-mindahkan isi koper ini terjadi ketika waktu buat terbang masih cukup lama. Pagi itu, 13 Juli 2014, gue udah sampai di LAX sekitar pukul 05.30 pagi. Gue naik Uber dari apartemen di Santa Monica dan jalanan yang sepi di awal hari itu membuat gue cuma membutuhkan 20 menit buat sampai ke bandara. Proses cek-in yang panjang itu membuat gue masih menyisakan setidaknya 1,5 jam sampai ke waktu terbang karena pesawat gue dari Los Angeles ke Chicago dijadwalkan pergi pukul 07.30.

TSA2

Akhirnya, urusan koper itu beres ketika koper gue timbang ulang dan hasilnya menunjukkan 50,5 pound. Masih kelebihan 0,5 pound sih, tapi petugas cek in menoleransi dan gue bisa masuk ke ruang tunggu. (Catatan penting: kalau bepergian yang agak jauh dan agak lama, sangat disarankan punya timbangan portabel buat menimbang koper biar nggak mengalami kejadian kaya gue.)

Proses menuju ruang tunggu inilah yang agak jadi PR. Nggak seperti di Bandara Soekarno Hatta yang cuma melewati satu pemeriksaan yang nggak terlalu rumit, buat masuk ke ruang tunggu di LAX ini prosesnya ruwet walaupun sebenarnya pemeriksaannya juga cuma satu kali.

Proses di antara cek in hingga boarding ke pesawat di bandara Amerika harus melalui pemeriksaan TSA (Transport Security Administration). Pagi itu, antrean calon penumpang sudah cukup panjang memenuhi depan gerbang-gerbang pemeriksaan TSA. Gue memilih salah satu gerbang dengan cukup tenang sembari masih meminum air mineral yang gue bawa dari apartemen. Karena gue udah pernah melalui proses yang sama tahun 2011 (terbang dari Los Angeles, tapi bandaranya di Ontario, ke Las Vegas), gue jadi lebih santai. 

Menjelang gue mendapat giliran diperiksa, gue buang botol air mineral gue di tempat sampah. Lalu perlahan tapi pasti gue melepas blazer, sabuk dan sepatu buat ditempatkan di baki pemeriksaan. Gue juga harus mengeluarkan Mac dari tas punggung, mengeluarkannya dari sleeve-nya, dan menempatkannya di baki terpisah, bersama dengan iPhone gue.

TSA5

Nggak ada masalah ketika gue diperiksa TSA. Badan gue digrepe-grepe dari ujung kepala sampai ujung kaki oleh petugas. Nggak ada benda berbahaya yang terdapat di dalamnya, tentu saja. Lalu gue disuruh untuk berdiri di body scanner yang akan menerawang badan gue sekali lagi untuk mencari-cari benda yang mungkin membahayakan.Sekali lagi, hasilnya nihil. Walhasil, gue dipersilakan meneruskan ke ruang tunggu. 

Ruang tunggu di LAX cukup enak. Ada beberapa restoran dan kafe yang sangat berguna buat mengisi perut atau minum kopi bagi para penumpang penerbangan yang cukup pagi ini. Gue memilih untuk nggak beli apa-apa karena terhitung mulai hari itu, gue bepergian dengan biaya sendiri, jadi sangat diusahakan untuk nggak beli makanan yang mahal-mahal. Hahaha.

TSA4

Sebenarnya, meski gue udah sampai ke ruang tunggu, akhirnya naik pesawat dan mendarat di Chicago 4 jam kemudian, urusan dengan TSA ternyata belum selesai. Waktu udah di Chicago dan lagi membongkar-bongkar dan merapikan ulang koper, satu dari dua gembok yang gue pasang di koper ternyata nggak ada. Setelah dicari, ternyata gembok ada di dalam koper. Artinya, koper gue tadi sempat dibuka oleh TSA. Benar saja, di dalam koper ternyata ada secarik surat dari TSA yang menyatakan bahwa koper gue memang dibuka buat diperiksa sama mereka.

TSA3

Inilah kenapa kemudian penting buat traveller buat memakai gembok koper yang sesuai standar TSA. Sebab, kalau TSA menemukan gembok yang nggak standar, maka mereka akan menjebol koper tersebut. Ingat-ingatlah itu.

Jalan Sepi

IMG_4203-1.JPG

Akhir pekan lalu, berlangsung kumpul-kumpul blogger di sebuah hotel di Jakarta. Kebanyakan yang datang di acara ini adalah mereka yang ngeblog di era keemasan ngeblog, yakni tahun 2005-2008. Istilah era keemasan ini sebenarnya sangat sumir karena menurut beberapa referensi lisan, sejatinya era ngeblog sudah dimulai sejak akhir 1990-an sampai awal 2000-an. Cuma, gue pribadi emang merasa bahwa blogosfer di era 2006-2008 itu sangat hidup dan dinamis dengan berbagai peristiwa, wacana, tren, kontroversi dan lainnya.

Dari acara kumpul-kumpul blogger itu, gue diingatkan tentang banyaknya isu dan narasi yang beredar di blogosfer circa 2004-2009, mulai dari kebebasan berekspresi (kasus penangkapan Herman Saksono), isu monetisasi dan scam internet (kasus Anne Ahira), plagiarisme (kasus Buanadara), “keributan” antara para blogger dengan pemikiran bebas vs blogger Salafi, dan lain-lain. Bak pasar malam, blogosfer saat itu sungguh riuh rendah, tapi masih terasa menyenangkan. Para bloggers sepertinya masih punya banyak waktu buat menulis, berkomentar, berbalas wacana, dan lain-lain.

Belakangan, pesona blog sebagai alat untuk berekspresi di dunia maya sedikit surut. Kehadiran media sosial yang tidak menuntut kemampuan menulis panjang membuat ngeblog jadi terpinggirkan. Lebih mudah untuk mengetikkan dua-tiga kalimat di Twitter yang tak lebih panjang dari 140 karakter ketimbang menuangkan pikiran dalam 6-10 paragraf di sebuah tulisan di blog.

Blogger-blogger yang aktif tinggal segelintir. Sebagian dari mereka masih menulis karena memang ingin menumpahkan pikirannya dalam bentuk tertulis, sebagian lagi menulis karena pesanan penaja atau untuk kontes, sebagian yang lain cuma muncul sesekali dan sebagian lagi lenyap sama sekali.

Dari sisi pembacanya pun demikian. Selain memang sudah sangat kurangnya tulisan di blogosfer (secara kuantitas, apalagi secara kualitas), pembaca pun susut karena para onliners gampang sekali merasa lelah untuk membaca tulisan di blog karena mereka sudah terlalu sering dicekoki tulisan-tulisan pendek di Twitter, Facebook atau Path. Sudah sangat jarang ada kegiatan blogwalking (kalau tidak mau bilang tidak ada), yang juga mulai langka adalah tradisi untuk sekadar meninggalkan komentar—apalagi berharap terjadinya debat atau diskusi di laman blog.

Gue pernah merasakan keresahan soal surutnya kuantitas dan kualitas tulisan di blog ini. Tahun lalu, gue mencoba menginisiasi gerakan “seminggu satu”, yang intinya adalah mengajak para blogger untuk setidaknya membuat satu tulisan per minggu, dengan tema tertentu karena banyak yang beralasan bahwa mereka berhenti menulis karena kehabisan ide. Gue sebenarnya tidak setuju bahwa ide itu bisa habis. Tapi gue pikir tak apalah kalau menulis blog dengan tema yang ditentukan, siapa tahu kelak gairah untuk menulis blog akan hidup lagi dan sudah tidak perlu ada penentuan tema untuk tetap aktif menulis.

Mudah ditebak, gerakan “seminggu satu” nggak bertahan lama. Kalau nggak salah cuma berjalan tiga pekan. Siapa yang salah dalam kegagalan gerakan ini? Selayaknya gue menunjuk diri gue sendiri sebagai biangnya. Gue merasa makin kehabisan energi untuk menulis, bahkan bila frekuensinya cuma satu tulisan dalam sepekan.

(Pembelaan gue: pekerjaan utama gue adalah menulis. Ketika gue udah tiap hari menulis buat media, gue merasa sangat suntuk kalau masih harus menulis (blog) di waktu luang. Meski gue agak jarang nulis di blog sendiri, setidaknya gue kadang masih ngeblog di kolom teknologi atau olahraga. eh ngeblog di Tumblr juga. :p)

Nah, di hari Blogger Nasional yang jatuh tanggal 27 Oktober ini, gue nggak menggantungkan harapan apapun deh. Gue udah nggak pernah lagi bermimpi blogosfer akan seseru dulu dengan segala wacana yang berlalu lalang. Pada akhirnya, meminjam ucapan Paman Tyo, ngeblog memang tidak untuk semua orang. Waktu akan menyeleksi mana orang yang menekuni jalan yang (mulai) sepi ini.

Selamat Hari Blogger!

Setir Kiri

RoadTrip1

Tahun 2011, gue pernah menjalani road trip yang sangat menyenangkan ketika gue pergi dari Las Vegas ke Los Angeles naik mobil. Saat itu, gue beserta sejumlah rekan wartawan dari Indonesia bepergian memakai mobil sewaan yang disetiri sama Antonio, orang Meksiko yang mengantar-ngantar kami selama acara Consumer Electronic Show di Vegas.

Jalan tol I-15 yang kami lewati mengular panjang bak membelah hamparan padang pasir yang luas di negara bagian Nevada dan meliuk-liuk melewati punggung perbukitan ketika sudah memasuki negara bagian California. Menyaksikan daratan luas yang banyak tak berpenghuni, diselingi dengan pemandangan sejumlah pemukiman berukuran kecil hingga menengah sangat impresif bagi gue. Sejak itulah, gue memiliki satu item di di bucket list gue, yaitu melakukan road trip dengan nyetir sendiri di jalan tol Amerika.

Ketika gue disuruh pergi buat tugas awal Juni kemaren, keinginan untuk mewujudkan satu item di bucket list itu muncul lagi. Tapi ketika gue tahu bahwa apartemen gue cuma berjarak satu blok dari kantor, harapan itu agak diredam karena ngapain pakai mobil kalau bisa jalan kaki tiap hari? Lalu, persoalan SIM Indonesia yang nggak diakui di Amerika juga jadi pertimbangan sendiri yang tampaknya bakal bikin kegiatan nyetir di Amerika jadi sulit.

Untungnya nih, house mate gue, Jeff, adalah orang Singapura. Doi punya SIM yang diakui di Amerika jadi mungkin kalau mau sewa mobil di rental dia bakal dibolehin. Untungnya juga, Jeff adalah orang yang senang dengan kegiatan outdoor. Jadi, ketika kami baru beberapa hari tinggal di Santa Monica, kami udah merencanakan untuk sewa mobil buat jalan-jalan kalau ada hari libur.

Jeff aktif bertanya-tanya sama orang-orang di kantor soal rental mobil mana yang oke dari segi harga, apakah ada akun rental korporat yang bisa dipakai biar dapat diskon, kualitas kendaraan dan tentu saja kemudahan penyewaannya. Setelah menimbang-nimbang antara Hertz, Enterprise, Avis dan beberapa rental lain, pilihan jatuh ke Enterprise.

Sebenarnya, syarat inti nyewa mobil di Enterprise itu cuma kartu kredit dan SIM yang diakui di Amerika. SIM Indonesia nggak diakui di sana karena Indonesia bukan negara yang ikut dalam Konvensi Jenewa tentang Lalu Lintas Jalan Raya tahun 1949. (Note: gue nggak ngerti apakah rental-rental mobil di Amerika sampai ngecek apakah SIM dari sebuah negara diakui di sana atau enggak.) Proses registrasi bisa dilakukan secara online, tapi lo tentu saja harus datang ke garasinya Enterprise buat ngambil mobilnya (ya iyalah!). Enaknya Enterprise, lo bisa minta dijemput buat ngambil mobil. Gue terus terang emang cuma terima beres dari proses sewa mobil ini. Semua dihandel sama Jeff. Gue cuma kebagian tugas gantian nyetir kalau misalnya mau road trip ke luar kota. :p

IMG_0717

Lalu datanglah hari di mana libur itu tiba setelah kami digempur pertandingan Piala Dunia selama 16 hari beruntun tanpa jeda. Sore hari sebelum libur itu datang, Jeff udah menyewa Hyundai Elantra (dari depan mirip Grand Avega di Indonesia, tapi bentuknya sedan, jadi ada bagasinya.) dari Enterprise. Pulang dari kantor, kami pergi makan yang agak jauh dari apartemen pakai mobil sewaan itu. Jeff (yang sama dengan gue datang dari negara dengan mobil bersetir kanan dan berjalan di kiri) yang nyetir. Waktu sampai di sebuah perempatan dan mobil harus belok kiri, Jeff agak kebingungan. “Shit, this is confusing!” :)) Untunglah, gak ada masalah lebih serius dan kami bisa berbelok dengan lancar.

IMG_0718

Balik dari makan malam itu, gue menawarkan diri buat nyetir. Deg-degan juga cuy pertama kalinya nyetir kiri. :)) Gue jalan pelan-pelan keluar dari gedung parkir (note: di Santa Monica, public parking di pinggir jalan biasanya bertarif $1 buat 10-20 menit, bergantung lokasi; sementara parkir di dalam gedung biasanya $10 buat 2 jam.). Tangan kanan mencoba meraih tuas buat menyalakan sein, ternyata malah wiper yang menyala. Duh! Ternyata, mobil-mobil Amerika memasang tuas buat sein di kiri.

Setelah beberapa saat, mulai terbiasa juga dengan setir kiri. Tapi gue masih membawa kebiasaan nyetir di Jakarta, yaitu melambat di perempatan karena takut ada yang nyelonong melanggar lampu merah dari samping. Padahal, 99,99% warga di sana mematuhi aturan lampu lalu lintas itu. Sisanya sih biasa aja, cuma masih tetap awkward berjalan di lajur kanan.

Besok paginya, gue dan Jeff pergi ke Big Bear Lake, sebuah kota resor ski yang bisa ditempuh selama dua jam dengan mobil pribadi. Berbekal GPS Garmin yang dibeli seminggu sebelumnya di Amazon, kami (Jeff yang nyetir dan gue yang foto-foto) dengan percaya diri menembus interstate highway buat menuju ke Big Bear yang sedang tidak bersalju karena sedang musim panas itu. Sehabis highway, kemudian kami menyusuri jalan-jalan yang berkelok-kelok di lereng pegunungan.

IMG_0737

Di tengah jalan, kami harus mengisi bensin. Kami menghitung, bensin di dalam mobil hanya akan cukup sampai ke Big Bear Lake, tapi nggak akan cukup kalau dibawa pulang ke Los Angeles. Berbekal bantuan Yelp, kami menemukan pom bensin 76. Pom bensin di Amrik harus self service. Tapi ada aturan tambahan buat kartu kredit yang bukan dikeluarkan di Amerika, maka pembeli harus masuk ke kios dan membayar jumlah bensin yang ingin dibeli. Setelah bilang di pompa nomor berapa, selang pompa sudah dialiri bensin yang siap diisikan secara mandiri ke dalam tangki. (Oh ya, harga bensin di Amerika itu nggak ada subsidinya. Harga untuk satu galon itu berkisar antara $3,95 sampai $4,10. Kalau dirupiahkan, sekitar Rp41.000-45.000 per galon. Satu galon itu sama dengan 3 liter, jadi per liternya kira-kira Rp14.000-15.000.)

IMG_0743

Selesai jalan-jalan dan sepedaan di Big Bear, kami pulang. Kali ini, giliran gue nyetir sampai Los Angeles. Lumayan menantang sih jalur turunnya. Harus hati-hati buat menaklukkan setiap tikungan di sana. Setelah melewati kelokan-kelokan di gunung, mobil kembali masuk highway. Di sini, mobil bisa dipacu sampai 60-80 mil per jam. Tapi hati-hati, ada batasan kecepatan yang kalau dilanggar bisa membuat lo ditilang sama highway patrol. Triknya sih, jangan melanggar batas kecepatan karena pihak berwenang memantau lewat radar; jangan suka berpindah-pindah jalur, ikuti petunjuk dari GPS tentang lane mana yang harus diambil (karena kalau salah lane dan kebablasan, lo harus muter jauh), dan yang tentu saja paling penting adalah fokus menghadapi jalan, jangan main hape atau foto-foto. Ambil foto cuma kalau lagi berhenti di lampu merah aja. :p

IMG_0793

Setelah road trip singkat ke Big Bear itu, sebenarnya kami berencana untuk road trip ke Big Sur yang memakan waktu 5-6 jam ke arah San Francisco. Tapi akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Las Vegas. Nah, cerita road trip ke Vegas (dan kemudian di hari lain ke San Diego) bakal gue ceritain di posting lain deh.