New York, New York

NYC2
Senja di Sungai Hudson

Prolog: Ketika beberapa hari lalu gue melihat Timehop, gue cukup kaget ketika mengetahui kalau perjalanan gue ke Amrik berlangsung setahun lalu. Baru sedikit tulisan tentangnya, jadi gue memaksa diri buat menulis lagi.

Pemandangan di tepi Sungai Hudson petang itu sangat indah. Mentari musim panas masih bertengger di atas cakrawala di arah barat; memantulkan cahaya yang cukup terang di permukaan sungai yang mengalir tenang. Di sebelah barat sungai, gue melihat bangunan West Point, sekolah militer Amerika yang tersohor itu. Gue melaju dengan kecepatan sekitar 80 km per jam di atas kereta Amtrak Lake Shore Limited dari Buffalo ke New York City.

Jantung gue berdegup agak lebih kencang dari biasanya ketika Google Maps gue menunjukkan gue sedikit lagi masuk ke Manhattan. Nggak cukup kencang buat dibilang dagdigdug sih, tapi tetap gue tahu detak jantung ini sedikit lebih cepat dari biasanya. Perasaan excited itu tak lain dan tak bukan adalah karena gue sebentar lagi akan menjejakkan kaki di New York City.

Kereta mulai masuk ke (Pulau) Manhattan.
Kereta mulai masuk ke (Pulau) Manhattan.

New York City (NYC) adalah kota paling urban di dunia. Dia adalah kuali peleburan. Dia adalah si Apel Besar. Dia adalah kota yang tak pernah tidur. Dia adalah, dia adalah, dia adalah. Sederet julukan superlatif lain berseliweran di kepala gue saat itu.

Siapa sih yang nggak bermimpi untuk pergi ke NYC? Meski gue pernah dibilangin kalau kota terindah di Amerika itu bukanlah NYC, tapi Chicago, tapi tetap saja gue merasa bahwa gue harus mengunjungi kota ini. Menjejakkan kaki gue di trotoar lebar yang diinjak oleh jutaan orang lainnya, baik yang cuma turis atau yang mengharapkan untuk mengais nafkah di sana. Menaiki subway-nya yang melegenda, atau memandang takjub gemerlap lampu di Times Square.

Sekitar jam 8 malam, kereta Amtrak gue akhirnya masuk ke Penn Station, stasiun terakhir di rute ini. Gue berdiri dan meraih dua tas yang gue bawa masuk ke kabin. Nggak lama kemudian, kereta benar-benar berhenti. Gue perlahan berjalan ke pintu keluar dan turun dari gerbong. New York, bung!

“Are you still coming?” Sebuah pesan masuk ke layar iPhone gue. Itu adalah pesan dari host AirBnB yang akan gue tumpangi. Dia tanya begitu karena gue bilang ke dia seharusnya gue sampe ke NYC sekitar jam 6 sore. “Sure. Sorry my train was delayed. I will be right there soon,” begitu jawab gue.

Gue harus menunggu bagasi gue keluar dulu karena gue menaruh koper besar gue di sana. Gue pasang earphone dan lewat Youtube gue memutar lagu Empire State of Mind yang menjadi semacam lagu wajib buat orang yang datang ke NYC. Nggak terlalu lama menunggu, akhirnya koper gue nongol juga. Segera saja gue seret barang-barang bawaan gue ke stasiun subway yang berada cukup jauh dari stasiun Amtrak di Penn Station.

Buat naik semua bus dan subway di NYC, gue harus beli tiket mingguan yang harganya $30. Setelah beli kartu Metro dari mesin, gue agak kerepotan dengan barang bawaan gue karena buat mencapai peron gue harus naik tangga yang meski nggak terlalu tinggi tapi cukup bikin pegel juga. Sesampainya di atas, gue ternyata salah peron. Dang! Menurut orang yang gue tanyai, peron itu buat arah Downtown, sementara alamat yang gue tuju ada di Uptown. (Sederhananya: Downtown itu untuk yang nomor jalannya kecil-kecil, 1-42 biasanya. Uptown untuk yang nomor jalannya besar-besar, mulai dari 70 sampai 180-an.)

MTA Metro Card paling atas. Di bawahnya ada TAP dari LA dan Ventra dari Chicago.
MTA Metro Card paling atas. Di bawahnya ada TAP dari LA dan Ventra dari Chicago.

Setelah berpindah ke peron yang benar, akhirnya gue naik juga tuh subway NYC yang tersohor. Sebelumnya gue udah screenshot tuh Google Maps yang memerintahkan gue harus turun di mana. Bikin screenshot cukup penting karena bisa jadi di dalam terowongan kereta nggak ada sinyal seluler.

Suasana di subway NYC yang agak padat.
Suasana di subway NYC yang agak padat.

Kereta agak padat meski jam udah menunjukkan lewat jam 9 malam. Perjalanan gue dari Penn Station ke Stasiun Cathedral Parkway di Uptown ternyata makan waktu cukup lama, nyaris 30 menit. Pelajaran pertama sebagai turis di NYC adalah: subway memang membuat lo bebas macet. Tapi kalau tempat menginap lo jauh dari Downtown, tetap aja butuh waktu lama buat perjalanannya.

(Bersambung)

TSA

TSA1“Maaf, koper Anda kelebihan berat. Silakan pindahkan ke tas lain atau Anda harus membayar over baggage $400 dolar.” Kalimat petugas di counter check in America Airlines di Bandara Internasional Los Angeles (LAX) itu membuat gue agak panik. Di timbangan, koper gue memang terhitung memiliki berat 58 pound; delapan pound lebih berat dari ketentuan berat maksimal sebuah koper yang masuk ke bagasi. Padahal, buat memasukkan satu koper ke bagasi aja gue udah harus bayar $25 (semua maskapai penerbangan di Amrik emang nggak menggratiskan biaya bagasi), males banget kan kalau harus bayar lagi $400.

Segera saja gue membongkar koper besar yang berisi segala macam barang itu. Pakaian jadi prioritas untuk gue pindahkan ke tas olahraga dan tas punggung yang juga gue bawa. Proses membongkar-bongkar dan memindah-mindahkan itu gue lakukan di dekat counter check in AA, jadi kadang ada saja calon penumpang yang ngeliatin gue yang mulai berpeluh akibat rasa panik yang menjalar.

Beruntunglah kejadian harus memindah-mindahkan isi koper ini terjadi ketika waktu buat terbang masih cukup lama. Pagi itu, 13 Juli 2014, gue udah sampai di LAX sekitar pukul 05.30 pagi. Gue naik Uber dari apartemen di Santa Monica dan jalanan yang sepi di awal hari itu membuat gue cuma membutuhkan 20 menit buat sampai ke bandara. Proses cek-in yang panjang itu membuat gue masih menyisakan setidaknya 1,5 jam sampai ke waktu terbang karena pesawat gue dari Los Angeles ke Chicago dijadwalkan pergi pukul 07.30.

TSA2

Akhirnya, urusan koper itu beres ketika koper gue timbang ulang dan hasilnya menunjukkan 50,5 pound. Masih kelebihan 0,5 pound sih, tapi petugas cek in menoleransi dan gue bisa masuk ke ruang tunggu. (Catatan penting: kalau bepergian yang agak jauh dan agak lama, sangat disarankan punya timbangan portabel buat menimbang koper biar nggak mengalami kejadian kaya gue.)

Proses menuju ruang tunggu inilah yang agak jadi PR. Nggak seperti di Bandara Soekarno Hatta yang cuma melewati satu pemeriksaan yang nggak terlalu rumit, buat masuk ke ruang tunggu di LAX ini prosesnya ruwet walaupun sebenarnya pemeriksaannya juga cuma satu kali.

Proses di antara cek in hingga boarding ke pesawat di bandara Amerika harus melalui pemeriksaan TSA (Transport Security Administration). Pagi itu, antrean calon penumpang sudah cukup panjang memenuhi depan gerbang-gerbang pemeriksaan TSA. Gue memilih salah satu gerbang dengan cukup tenang sembari masih meminum air mineral yang gue bawa dari apartemen. Karena gue udah pernah melalui proses yang sama tahun 2011 (terbang dari Los Angeles, tapi bandaranya di Ontario, ke Las Vegas), gue jadi lebih santai. 

Menjelang gue mendapat giliran diperiksa, gue buang botol air mineral gue di tempat sampah. Lalu perlahan tapi pasti gue melepas blazer, sabuk dan sepatu buat ditempatkan di baki pemeriksaan. Gue juga harus mengeluarkan Mac dari tas punggung, mengeluarkannya dari sleeve-nya, dan menempatkannya di baki terpisah, bersama dengan iPhone gue.

TSA5

Nggak ada masalah ketika gue diperiksa TSA. Badan gue digrepe-grepe dari ujung kepala sampai ujung kaki oleh petugas. Nggak ada benda berbahaya yang terdapat di dalamnya, tentu saja. Lalu gue disuruh untuk berdiri di body scanner yang akan menerawang badan gue sekali lagi untuk mencari-cari benda yang mungkin membahayakan.Sekali lagi, hasilnya nihil. Walhasil, gue dipersilakan meneruskan ke ruang tunggu. 

Ruang tunggu di LAX cukup enak. Ada beberapa restoran dan kafe yang sangat berguna buat mengisi perut atau minum kopi bagi para penumpang penerbangan yang cukup pagi ini. Gue memilih untuk nggak beli apa-apa karena terhitung mulai hari itu, gue bepergian dengan biaya sendiri, jadi sangat diusahakan untuk nggak beli makanan yang mahal-mahal. Hahaha.

TSA4

Sebenarnya, meski gue udah sampai ke ruang tunggu, akhirnya naik pesawat dan mendarat di Chicago 4 jam kemudian, urusan dengan TSA ternyata belum selesai. Waktu udah di Chicago dan lagi membongkar-bongkar dan merapikan ulang koper, satu dari dua gembok yang gue pasang di koper ternyata nggak ada. Setelah dicari, ternyata gembok ada di dalam koper. Artinya, koper gue tadi sempat dibuka oleh TSA. Benar saja, di dalam koper ternyata ada secarik surat dari TSA yang menyatakan bahwa koper gue memang dibuka buat diperiksa sama mereka.

TSA3

Inilah kenapa kemudian penting buat traveller buat memakai gembok koper yang sesuai standar TSA. Sebab, kalau TSA menemukan gembok yang nggak standar, maka mereka akan menjebol koper tersebut. Ingat-ingatlah itu.

Setir Kiri

RoadTrip1

Tahun 2011, gue pernah menjalani road trip yang sangat menyenangkan ketika gue pergi dari Las Vegas ke Los Angeles naik mobil. Saat itu, gue beserta sejumlah rekan wartawan dari Indonesia bepergian memakai mobil sewaan yang disetiri sama Antonio, orang Meksiko yang mengantar-ngantar kami selama acara Consumer Electronic Show di Vegas.

Jalan tol I-15 yang kami lewati mengular panjang bak membelah hamparan padang pasir yang luas di negara bagian Nevada dan meliuk-liuk melewati punggung perbukitan ketika sudah memasuki negara bagian California. Menyaksikan daratan luas yang banyak tak berpenghuni, diselingi dengan pemandangan sejumlah pemukiman berukuran kecil hingga menengah sangat impresif bagi gue. Sejak itulah, gue memiliki satu item di di bucket list gue, yaitu melakukan road trip dengan nyetir sendiri di jalan tol Amerika.

Ketika gue disuruh pergi buat tugas awal Juni kemaren, keinginan untuk mewujudkan satu item di bucket list itu muncul lagi. Tapi ketika gue tahu bahwa apartemen gue cuma berjarak satu blok dari kantor, harapan itu agak diredam karena ngapain pakai mobil kalau bisa jalan kaki tiap hari? Lalu, persoalan SIM Indonesia yang nggak diakui di Amerika juga jadi pertimbangan sendiri yang tampaknya bakal bikin kegiatan nyetir di Amerika jadi sulit.

Untungnya nih, house mate gue, Jeff, adalah orang Singapura. Doi punya SIM yang diakui di Amerika jadi mungkin kalau mau sewa mobil di rental dia bakal dibolehin. Untungnya juga, Jeff adalah orang yang senang dengan kegiatan outdoor. Jadi, ketika kami baru beberapa hari tinggal di Santa Monica, kami udah merencanakan untuk sewa mobil buat jalan-jalan kalau ada hari libur.

Jeff aktif bertanya-tanya sama orang-orang di kantor soal rental mobil mana yang oke dari segi harga, apakah ada akun rental korporat yang bisa dipakai biar dapat diskon, kualitas kendaraan dan tentu saja kemudahan penyewaannya. Setelah menimbang-nimbang antara Hertz, Enterprise, Avis dan beberapa rental lain, pilihan jatuh ke Enterprise.

Sebenarnya, syarat inti nyewa mobil di Enterprise itu cuma kartu kredit dan SIM yang diakui di Amerika. SIM Indonesia nggak diakui di sana karena Indonesia bukan negara yang ikut dalam Konvensi Jenewa tentang Lalu Lintas Jalan Raya tahun 1949. (Note: gue nggak ngerti apakah rental-rental mobil di Amerika sampai ngecek apakah SIM dari sebuah negara diakui di sana atau enggak.) Proses registrasi bisa dilakukan secara online, tapi lo tentu saja harus datang ke garasinya Enterprise buat ngambil mobilnya (ya iyalah!). Enaknya Enterprise, lo bisa minta dijemput buat ngambil mobil. Gue terus terang emang cuma terima beres dari proses sewa mobil ini. Semua dihandel sama Jeff. Gue cuma kebagian tugas gantian nyetir kalau misalnya mau road trip ke luar kota. :p

IMG_0717

Lalu datanglah hari di mana libur itu tiba setelah kami digempur pertandingan Piala Dunia selama 16 hari beruntun tanpa jeda. Sore hari sebelum libur itu datang, Jeff udah menyewa Hyundai Elantra (dari depan mirip Grand Avega di Indonesia, tapi bentuknya sedan, jadi ada bagasinya.) dari Enterprise. Pulang dari kantor, kami pergi makan yang agak jauh dari apartemen pakai mobil sewaan itu. Jeff (yang sama dengan gue datang dari negara dengan mobil bersetir kanan dan berjalan di kiri) yang nyetir. Waktu sampai di sebuah perempatan dan mobil harus belok kiri, Jeff agak kebingungan. “Shit, this is confusing!” :)) Untunglah, gak ada masalah lebih serius dan kami bisa berbelok dengan lancar.

IMG_0718

Balik dari makan malam itu, gue menawarkan diri buat nyetir. Deg-degan juga cuy pertama kalinya nyetir kiri. :)) Gue jalan pelan-pelan keluar dari gedung parkir (note: di Santa Monica, public parking di pinggir jalan biasanya bertarif $1 buat 10-20 menit, bergantung lokasi; sementara parkir di dalam gedung biasanya $10 buat 2 jam.). Tangan kanan mencoba meraih tuas buat menyalakan sein, ternyata malah wiper yang menyala. Duh! Ternyata, mobil-mobil Amerika memasang tuas buat sein di kiri.

Setelah beberapa saat, mulai terbiasa juga dengan setir kiri. Tapi gue masih membawa kebiasaan nyetir di Jakarta, yaitu melambat di perempatan karena takut ada yang nyelonong melanggar lampu merah dari samping. Padahal, 99,99% warga di sana mematuhi aturan lampu lalu lintas itu. Sisanya sih biasa aja, cuma masih tetap awkward berjalan di lajur kanan.

Besok paginya, gue dan Jeff pergi ke Big Bear Lake, sebuah kota resor ski yang bisa ditempuh selama dua jam dengan mobil pribadi. Berbekal GPS Garmin yang dibeli seminggu sebelumnya di Amazon, kami (Jeff yang nyetir dan gue yang foto-foto) dengan percaya diri menembus interstate highway buat menuju ke Big Bear yang sedang tidak bersalju karena sedang musim panas itu. Sehabis highway, kemudian kami menyusuri jalan-jalan yang berkelok-kelok di lereng pegunungan.

IMG_0737

Di tengah jalan, kami harus mengisi bensin. Kami menghitung, bensin di dalam mobil hanya akan cukup sampai ke Big Bear Lake, tapi nggak akan cukup kalau dibawa pulang ke Los Angeles. Berbekal bantuan Yelp, kami menemukan pom bensin 76. Pom bensin di Amrik harus self service. Tapi ada aturan tambahan buat kartu kredit yang bukan dikeluarkan di Amerika, maka pembeli harus masuk ke kios dan membayar jumlah bensin yang ingin dibeli. Setelah bilang di pompa nomor berapa, selang pompa sudah dialiri bensin yang siap diisikan secara mandiri ke dalam tangki. (Oh ya, harga bensin di Amerika itu nggak ada subsidinya. Harga untuk satu galon itu berkisar antara $3,95 sampai $4,10. Kalau dirupiahkan, sekitar Rp41.000-45.000 per galon. Satu galon itu sama dengan 3 liter, jadi per liternya kira-kira Rp14.000-15.000.)

IMG_0743

Selesai jalan-jalan dan sepedaan di Big Bear, kami pulang. Kali ini, giliran gue nyetir sampai Los Angeles. Lumayan menantang sih jalur turunnya. Harus hati-hati buat menaklukkan setiap tikungan di sana. Setelah melewati kelokan-kelokan di gunung, mobil kembali masuk highway. Di sini, mobil bisa dipacu sampai 60-80 mil per jam. Tapi hati-hati, ada batasan kecepatan yang kalau dilanggar bisa membuat lo ditilang sama highway patrol. Triknya sih, jangan melanggar batas kecepatan karena pihak berwenang memantau lewat radar; jangan suka berpindah-pindah jalur, ikuti petunjuk dari GPS tentang lane mana yang harus diambil (karena kalau salah lane dan kebablasan, lo harus muter jauh), dan yang tentu saja paling penting adalah fokus menghadapi jalan, jangan main hape atau foto-foto. Ambil foto cuma kalau lagi berhenti di lampu merah aja. :p

IMG_0793

Setelah road trip singkat ke Big Bear itu, sebenarnya kami berencana untuk road trip ke Big Sur yang memakan waktu 5-6 jam ke arah San Francisco. Tapi akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Las Vegas. Nah, cerita road trip ke Vegas (dan kemudian di hari lain ke San Diego) bakal gue ceritain di posting lain deh.

Amtrak (1)

Lakeshore di Chicago
Lakeshore di Chicago

Bagian pertama dari dua tulisan.

Kereta Lakeshore Limited bergerak pelan keluar dari Union Station di tengah kota Chicago. Gerbong yang gue tempati nggak terlalu penuh. Kursi di samping gue nggak ada yang menempati, demikian juga sejumlah kursi di sekitar gue. Di depan gue dan di kursi samping kanannya, ada empat orang yang sepertinya sekeluarga; ada suami dan istri beserta dua orang anak mereka yang (syukurlah) tidak terlalu berisik.

Kondisi gerbong duduk (Amfleet coach) yang gue tempatin nggak terlalu istimewa. Dibanding gerbong kereta Taksaka atau Argo Lawu, misalnya, cuma sedikit lebih baik. Gerbongnya sedikit lebih lebar karena emang kereta di Amerika berjalan di atas rel yang lebih lebar ketimbang rel di Indonesia. Lebarnya gerbong membuat formasi kursi 2-2 ini terasa lapang dan gang di tengah gerbong juga cukup lebar. Kursinya cukup nyaman dan teduh dengan kelir biru.

Gerbong Amfleet car di Lakeshore Limited
Gerbong Amfleet car di Lakeshore Limited

Gue menarik tuas untuk merebahkan sandaran kursi dan menurunkan foot rest di bagian bawah kursi depan. Syukurlah akhirnya kereta ini berangkat, batin gue. Kereta seharusnya berangkat jam 21.30 waktu Chicago, tapi kenyataannya kereta baru beranjak sekitar pukul 22.00. Cuma telat 30 menit, sih. Tapi menurut gue keterlambatan ini agak aneh karena terjadi di infrastuktur transportasi negara semaju Amerika.

Kereta sepertinya memang jadi anak tiri di infrastruktur transportasi Amerika yang sangat berat ke mobil dan jalan raya plus angkutan pesawat. Di sana, angkutan kereta banyak diandalkan untuk angkutan barang dan angkutan manusia jadi prioritas kedua. Fakta bahwa mereka tidak punya sistem kereta cepat seperti halnya yang dimiliki Eropa (Prancis dan Jerman), Jepang atau bahkan Cina menunjukkan bahwa kereta memang bukan transportasi favorit.

Meski gue tahu bahwa kereta api di Amerika nggak canggih-canggih amat, gue merasa tetap perlu untuk mencoba naik Amtrak (satu-satunya penyedia layanan kereta api penumpang di Amerika) sejak gue pertama kali ke negeri Abang Sam itu tahun 2011 lalu. Sebagai self-proclaimed train buff, gue memilih untuk pergi dari Chicago ke Buffalo dan dari Buffalo ke New York City pakai kereta for the sake of experience. Harga tiketnya relatif murah ($72 untuk rute Chicago-Buffalo dan $70 untuk rute Buffalo-NYC, atau sekitar $110 untuk rute Chicago-NYC), tapi harus dikompensasi dengan waktu perjalanan yang cukup lama. Sebagai gambaran, jarak Chicago ke Buffalo adalah 850 km dan ditempuh dengan dalam waktu sekitar 10 jam. Sementara antara Buffalo-NYC, jaraknya sekitar 693 km dan ditempuh dalam waktu yang sama, 10 jam juga.

Brosur Lakeshore Limited.
Brosur Lakeshore Limited.

Meski tergolong ‘anak tiri’ di sistem transportasi Amerika, kereta (Amtrak) punya pelayanan yang oke. Selain proses pemesanan yang sangat mudah di web mereka, fasilitas di stasiun-stasiun pun cukup menyenangkan. Misalnya, ketika gue naik dari Chicago Union Station, gue bisa melakukan cek in bagasi. Ada satu koper besar (yang nyaris membuat gue over baggage di penerbangan dari Los Angeles ke Chicago) yang gue masukkan ke bagasi karena beratnya nyaris 30 kg. Selain boleh menaruh satu koper (atau tas) yang maksimal beratnya 50 pound (nyaris 30 kg) di bagasi, penumpang Amtrak juga boleh membawa dua tas yang tidak terlalu besar ke dalam kabin.

Di Union Station Chicago yang memang salah satu stasiun terbesar di Amerika, calon penumpang bisa membeli makanan di restoran-restoran yang ada di dalam stasiun atau membeli suvenir-suvenir seperti layaknya berada di bandara. Sehabis cek in bagasi, masih ada waktu 30 menit hingga jadwal kereta diberangkatkan. Gue yang sejak cabut dari rumah host gue belum makan, mengambil kesempatan untuk beli dua potong roti dan sebotol air minum buat di perjalanan.

Tidak banyak yang gue bisa lihat selama perjalanan kereta dari Chicago ke Buffalo karena perjalanan dilakukan malam hari. Di antara kegelapan malam, sesekali terselip pemandangan kota kecil dengan beberapa rumah dan jalan yang lampunya menyala. Selain itu, kadang kereta berjalan di sisi atau melewati jalan tol (Interstate) yang tidak cukup ramai dilintasi kendaraan.

Leg room di Lakeshore.
Leg room di Lakeshore.

Kereta berhenti di pemberhentian pertama setelah Chicago, South Bend. Artinya, gue udah meninggalkan negara bagian Illinois dan sekarang sudah memasuki negara bagian Indiana. Kereta berhenti kira-kira 7-9 menit dan kemudian berjalan lagi. Setelah South Bend, gue udah terlelap tidur.

Bangun-bangun, gue udah meninggalkan negara bagian Indiana dan kini berada di negara bagian Ohio, tepatnya di Cleveland. Cuaca masih terang-terang tanah. Gue menebak Stasiun Cleveland terletak agak di pinggiran kota, dengan peron yang tidak istimewa—tidak sebaik yang gue temukan di Chicago.

Kayaknya ini di sekitar Cleveland.
Kayaknya ini di sekitar Cleveland.

Setelah berhenti sebentar, kereta melanjutkan perjalanan lagi. Karena hari sudah cukup terang, gue mulai bisa melihat pemandangan di luar jendela. Jalur kereta ini kebanyakan berada di tengah hutan dan sesekali kereta berjalan bersisian dengan jalan raya. Kota-kota kecil dengan pekarangan yang luas, pohon-pohon hijau yang rimbun, jalanan yang berkelok-kelok dengan bukit-bukit yang berada di pinggirnya menjadi menu untuk para penumpang yang mungkin belum lama membuka matanya.

Di perjalanan naik Lakeshore Limited.
Di perjalanan naik Lakeshore Limited.

Kereta yang gue tumpangi kemudian meninggalkan negara bagian Ohio dan masuk ke negara bagian Pennsylvania. Lalu kami berhenti di kota Erie. Stasiun Erie juga berukuran kecil. Tidak banyak penumpang yang turun naik di sini dan kereta pun melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir gue, Buffalo.

Sekitar pukul 08.30 pagi, kereta akhirnya sampai di Buffalo, negara bagian New York. Stasiun Depew (yang sebenarnya terletak di luar kota Buffalo) berukuran kecil saja. Bangunannya mungkin cuma berukuran 20 m x 30 meter, membuatnya bahkan terlihat mini kalau dibandingkan dengan Stasiun Purwokerto, misalnya.


IMG_1892

Gue masuk bangunan stasiun dan menunggu bagasi gue diturunkan dari kereta. Tak lama kemudian gue sudah mendapatkan koper besar gue. Kemudian gue bertanya ke petugas di Stasiun Depew apakah ada fasilitas loker atau penitipan barang buat gue meninggalkan koper besar gue karena gue merasa terlalu repot harus nyeret-nyeret koper berat itu. Apalagi, gue besok akan naik kereta dari tempat itu lagi sehingga lebih baik kalau ada penitipan di Stasiun Depew. (Tip: Banyak stasiun Amtrak yang punya fasilitas penitipan barang semacam ini. Kalo lo memiliki pola trip yang mirip dengan gue, cara gue ini bisa dicoba.)

IMG_1899

Petugas di Stasiun Depew mengatakan bahwa ada fasilitas penitipan barang dengan tarif $4 untuk 24 jam. Gue langsung bayar tunai dan gue dapat tanda terima yang harus gue tunjukkan kalau mau mengambilnya lagi besok. Akhirnya gue melenggang ke Buffalo dengan membawa satu tas punggung dan satu tas olahraga yang berisi barang-barang terpenting saja kayak baju, sepatu dan peralatan mandi.

Beres dengan urusan bagasi, gue melangkah ke luar stasiun sembari mengecek Google Maps gue untuk mendapatkan rute bus yang harus gue tumpangin dari Depew menuju host gue di kota Buffalo. Cuma ada satu bus yang lewat Stasiun Depew dan buat mencapai tujuan gue, gue mesti pindah dua bus lagi. Nah, cerita soal bagaimana gue sampai ke kota Buffalo akan gue ceritakan di posting lain.

Kota (2)

NJ Skyline

Setelah selama sebulan tinggal di Santa Monica dan cuma sempat jalan-jalan ke kota-kota di dekatnya, selesai Piala Dunia lalu gue langsung cabut ke daerah timur Amerika, dimulai dari Chicago dan berakhir di New York City sebelum akhirnya gue terbang pulang ke Indonesia.

5. Chicago
Tahun 2011, ketika gue lagi di Las Vegas, ada orang Amerika bertanya ke (kalo nggak salah) seorang wartawan dari Amerika Selatan. Dia tanya, “Menurutmu, kota paling Indah di Amerika apa? Kalau kamu bilang New York City, kamu salah. Kota paling indah di Amerika adalah Chicago.” Mengingat dialog itu, sejak sebelum berangkat gue udah memutuskan buat pergi ke Chicago selepas kerjaan di Santa Monica/LA selesai.

IMG_1709

Chicago punya julukan Windy City karena dia terletak di tepi Danau Michigan, satu dari lima danau besar (Great Lakes) di Amerika. Angin itu bikin cuaca di Chicago relatif lebih dingin ketimbang LA. Gue sempat merasa salah kostum karena bepergian cuma pakai celana pendek dan t-shirt, lalu di luaran ternyata suhunya cuma 16 derajt (padahal summer). Cuacanya juga jadi kurang enak karena sering mendung dan gerimis.

IMG_1828

Dari segi transportasi, Chicago menurut gue lebih baik dari LA karena memiliki gabungan yang pas antara transportasi rel (MRT) dan transportasi bus. Kalau di NYC nyaris seluruh jalur MRT berada di bawah tanah, MRT di Chicago banyak juga yang terdapat di atas tanah. Mungkin cuma di kawasan Downtown di mana MRT Chicago banyak berada di bawah tanah.

IMG_1740

Ada banyak taman-taman besar di Chicago, yang paling besar adalah Lincoln Park. Taman ini luas dan hijau, menjadikannya sebagai tempat yang sangat menyenangkan buat berolahraga. Selain Lincoln Park, ada taman (yang tidak terlalu besar) di tengah kota bernama Millenium Park. Di Millenium Park ada banyak bangunan keren kayak The Cloud Gate, patung berbentuk seperti kacang raksasa (makanya sering disebut Chicago Beans) yang terbuat dari logam dan bisa dipakai mengaca. Chicago Beans dibuat oleh seniman Inggris kelahiran India, Anish Kapoor. Selain itu, di Millenium Park juga ada Jay Pritzker Pavillion, yaitu panggung yang bisa dipakai untuk pertunjukkan kesenian. Jay Pritzker Pavillion dirancang oleh arsitek tenar, Frank Gehry.

6. Buffalo
Gue pergi dari Chicago ke Buffalo dengan naik kereta api Amtrak selama kurang lebih 10 jam. Buffalo adalah kota terdekat dari air terjun Niagara yang terletak di perbatasan AS-Kanada. Gue cuma mengunjungi Buffalo kurang dari 24 jam dan frankly speaking, ini adalah kota yang paling nggak gue senangi di Amerika.

Buffalo

Buffalo terhitung kota kecil yang penduduknya cuma kurang dari 300 ribu jiwa, tapi mereka adalah kota terbesar kedua di New York State setelah New York City. Cuacanya cukup dingin (sekitar 13 derajat celcius di waktu malam-pagi dan 16-20 derajat celcius di siang hari) walau pun matahari bersinar cerah.

IMG_2046

Dulu Buffalo adalah kota industri (karena dekat dengan pembangkit listrik Niagara), tapi surutnya masa kejayaan industri besar, kejayaan Buffalo juga perlahan surut. Buffalo sekarang adalah kota dengan jumlah rumah kosong terbesar kedua di Amerika (setelah St Louis). Akibatnya, Buffalo terasa sepi dan (kalau malam) agak seram.

Transportasi umum di Buffalo mengandalkan bus. Sebenarnya ada juga MRT tapi cuma ada satu line dan gue gak pernah naik. Bus umum di Buffalo sedikit, rentang antar bus bervariasi mulai dari 10 menit sekali (yang jalan di dalam kota) sampai sejam sekali (bus yang menuju ke daerah suburban seperti ke Cheektowaga, lokasi stasiun Amtrak Buffalo-Depew).

Jam setengah 9 malam, bus kota sudah sedikit banget yang beroperasi. Malam itu gue berniat cari makan dan setelah nunggu bus selama 30 menit nggak dapat-dapat, akhirnya gue jalan kaki. Jalanan di Buffalo jam 9 malam udah sepiii. Gue agak cemas juga sih jalan sendirian begitu. Apalagi, banyak bangunan kosong yang makin membuat bulu kuduk meremang.

7. New York City
Dari Buffalo, kembali gue naik Amtrak ke NYC selama nyaris 10 jam. Bisa dibilang, berkunjung ke New York itu wajib dilakuin sebelum mati. NYC adalah kota terbesar di dunia, tempat pembauran terbesar di dunia, kota paling dinamis di dunia dan segala hal fantastis lain yang disematkan ke kota ini.

Times Square

Transportasi umum di NYC adalah yang paling masif dari seluruh kota di Amerika yang gue kunjungi. NYC sangat bergantung kepada MRT yang berjalan 24 jam. Sementara, bus di NYC agak kurang bisa diandalkan seperti halnya bus di LA. Di NYC, naik transportasi umum jauh lebih menyenangkan dibanding bawa kendaraan pribadi karena macet banget dan tarif parkir di sana mahalnya minta ampun. Gue sampai pada kesimpulan bahwa cuma dua jenis orang yang mau nyetir sendiri di NYC, yaitu: 1. Orang yang nggak mikir lagi soal duit, 2. Orang gila.

NYC adalah kota yang sangat padat. Bangunan tinggi di mana-mana, tak terkecuali bangunan apartemen. Ruang jadi hal yang sangat berharga di sana mengingat keterbatasan lahan. Gue yang (mulai) terbiasa dengan kelegaan yang gue nikmati di Santa Monica lama-lama merasa klaustrofobik juga dengan kepadatan NYC. Di mana-mana bangunan, di mana-mana ada orang.

 

Tapi NYC adalah kota yang sangat menggilai taman. Tentu saja, yang terbesar adalah Central Park yang terletak tepat di tengah-tengah Manhattan, memanjang dari 59th Street hingga 110th Street dan melebar dari 5h Avenue hingga 8th Avenue. Di luar Central Park, banyak bertebaran taman-taman yang lebih kecil yang bisa dimanfaatkan oleh orang-orang sekadar untuk duduk-duduk, ngobrol, makan atau baca buku.

IMG_2204

Secara umum, gue nggak terlalu suka cuaca di NYC yang menurut gue juga masih cukup dingin kaya di Chicago. Selain itu, langit di atas NYC juga jarang terlihat biru cerah mengingat tingginya tingkat polusi di kota ini.

 

IMG_2217

Bicara soal tempat pembauran (melting pot)dunia, NYC memang juaranya. Selama 2,5 hari gue di NYC, gue udah pernah melihat nyaris segalam macam orang; mulai dari orang Cina sampai Afrika, orang Eropa Timur sampai Arab, semuanya kayaknya ada di sana. Kuping gue pernah mendengar orang-orang bercakap-cakap pakai bahasa Prancis, Jerman, Polandia (gue tahu itu Polandia karena orangnya pakai t-shirt bertuliskan Polska something, bukan karena gue ngerti bahasa Polandia. :p), China, Jepang, bahkan Indonesia.

IMG_2158

NYC juga memiliki buanyak banget bangunan-bangunan dengan arsitektur keren. Mulai dari yang lawas seperti Brooklyn Bridge, Museum of Modern Arts (MoMA), Empire State Building, Times Square, hingga ke yang cukup kontemporer seperti One World Trade Center dan High Line Park.

Kota (1)

 

Kota8

Selama ini, gue adalah orang yang lebih suka bepergian ke gunung ketimbang pantai. Lalu belakangan, gue ternyata punya satu kegemaran baru, yaitu pergi ke kota. Kesadaran bahwa gue suka kota ini semata bukan karena gue pergi ke Amerika, tapi juga berdasar pengalaman gue bepergian ke sejumlah kota.

Kenapa gue suka ke kota? Pertama, kota itu dinamis. Ada banyak orang yang pasti punya kekhasan dan keunikan sendiri. Yang kedua, arsitektur. Di kota (terutama kota besar) biasanya terdapat banyak bangunan (lama maupun baru) yang punya desain menarik dan keren. Ketiga, faktor transportasi. Jadi traveler kere dengan budget terbatas itu ke mana-mana harus naik angkutan umum kan. Nah, biasanya kota besar itu punya angkutan umum yang baik.

Dari perjalanan gue ke Amerika, gue mengunjungi setidaknya tujuh kota: Santa Monica, Los Angeles, Las Vegas, San Diego, Chicago, Buffalo dan New York City. Tujuh dari delapan tempat yang gue kunjungi di Amerika adalah kota. Satu-satunya tempat yang gue kunjungi yang bukan kota adalah Big Bear, sebuah resor salju yang terletak dua jam naik mobil dari Los Angeles.

Gue mau cerita sedikit sih karakter kota-kota yang gue kunjungi.

1. Santa Monica

Kota2
Tempat gue menghabiskan 32 hari dari 40 hari perjalanan gue. Kota kecil di pinggiran barat LA, tepat berada di tepi Samudera Pasifik. Cuacanya selalu sempurna. Kalau panas nggak terlalu panas dan kalau dingin nggak terlalu dingin. Langitnya selalu biru nyaris tanpa awan. Faktor cuaca ini bukan hanya karena gue di sana pas musim semi dan panas. Dulu, musim dingin 2011 gue ke LA dan Santa Monica juga dan cuacanya menyenangkan.

Sarana transportasinya bagus (karena bertetangga dengan LA dan punya sistem transportasi yang terintegrasi sama LA dan kota-kota sekitarnya), trotoarnya lebar-lebar, banyak tempat makan dan hangout yang seru. Makananannya sangat beragam, mulai dari Amerika, Eropa, Amerika Selatan, hingga ke masakan Asia (Thailand, Vietnam, Jepang, Cina, dan lain-lain.)

2. Los Angeles
Mirip lah dengan Santa Monica, tapi lebih kosmopolitan karena LA adalah kota terbesar kedua di Amerika setelah NYC. Sistem transportasinya bagus dan sangat bergantung sama bus. LA punya subway, tapi jangkauannya masih tidak terlalu luas. Dari segi cuaca juga sama dengan Santa Monica, cuma langitnya lebih terpapar polusi.

Bus LA-Santa Monica

Banyak bangunan-bangunan keren di LA. Yang paling mengesankan buat gue adalah Walt Disney Concert Hall dan Griffith Observatory. Selain itu, ada juga Staples Center, Katedral Our Lady of the Angeles, Grant Park, Union Station, dan sebagainya.

Kota3

Di LA juga ada China Town yang banyak restoran Asia-nya. Di kawasan Westwood, ada restoran Indonesia dengan rasa yang lumayan, namanya Ramayani. Satu lagi restoran Indonesia di LA ada di kawasan Culver City, bernama Simpang Asia.

Kalau gue disuruh milih tinggal di mana di Amerika, gue akan memilih Los Angeles. Gue suka dengan cuacanya, selain itu kepadatan dan keramaiannya juga pas, nggak seperti NYC yang gedung-gedungnya berimpitan dan buanyak banget orang di mana-mana.

3. San Diego
Gak banyak yang bisa gue jelajahi di San Diego karena gue di sana cuma setengah hari. Yang jelas di San Diego ada kawasan Hillcrest yang punya sederetan restoran, kafe dan toko buku yang keren-keren.

Kota6

Selain itu, ada juga salah satu kebun binatang terbesar di dunia (dan mungkin kebun binatang yang paling terkenal di dunia), San Diego Zoo. Buat menjelajahi San Diego Zoo, mungkin dibutuhkan waktu setengah hari sendiri mengingat luasnya dan banyaknya koleksi binatang mereka.

Kota5

Transportasi di San Diego tampaknya juga mengandalkan bus kota, seperti LA. Gue nggak pernah naik angkutan umum di San Diego karena gue dan house mate gue, Jeff, pakai mobil rental dari LA.

4. Las Vegas
Dua kunjungan gue ke Amerika (dua-duanya tahun 2011) adalah mengunjungi kota ini. Kota ini adalah kota pusat hiburan (terutama judi), sampai-sampai punya julukan The Sin City. Kota ini terletak di gurun Nevada, jadi kalau musim panas suhunya panas banget, sementara kalau musim dingin suhunya dingin banget.

Kemarin ke sana udah bulan Juli, udah masuk musim panas, dan suhu Las Vegas mencapai 43 derajat celcius di waktu siang. Puanas banget! Tengah malam, suhunya masih mencapai 36 derajat celcius. Suhu paling dingin Las Vegas bulan Juli adalah sekitar 32 derajat celcius pukul 03.00. Dulu perasaan waktu ke sana bulan Juni 2011, suhunya nggak sepanas ini. Kalau siang paling 36 derajat celcius dan tengah malah udah 29 derajat celcius. Dengan cuaca begini, nggak terlalu nyaman buat jalan-jalan. Pengunjung pun lebih banyak ngadem di dalam kafe, restoran, hotel dan kasino.

Las Vegas adalah kota yang hidup di waktu malam. Cahaya gemerlap dari hotel-hotel besar dan kasino menghiasi kota ini. Ketika siang, saat lampu-lampu tidak diperlukan karena matahari sudah sangat benderang, Vegas ‘hanya’ sebuah kota biasa di Amerika.

Kota7

Bangunan-bangunan di Vegas banyak menarik, tapi sedikit yang orisinal. Di sana ada hotel New York-New York yang memajang Patung Liberty tiruan di depannya. Juga ada Menara Eiffel tiruan, ada kanal Venesia tiruan, dan beberapa tiruan lain. Pokoknya, imitation at its best lah.

Kota4

Transportasi umum di Vegas adalah monorel dan bus kota. Gue nggak nyoba bus kota, cuma ke mana-mana memakai monorel. Monorelnya juga cuma satu line. Monorel ini berjalan dari ujung ke ujung dan di tiap-tiap pemberhentiannya pasti ada hotel dan kasino besar yang berharap dikunjungi turis.

(Cerita tentang Chicago, Buffalo dan New York City bakal gue ceritain di bagian kedua.)

Ngapain Sih?

War room

Jadi, banyak yang bertanya sebenarnya gue ngapain sampai nyaris 40 hari di Amerika? Kok mau-maunya Yahoo ngirim gue ke sana? Buat apa?

Yah, intinya sih ke sana kerja. Setidaknya di 32 hari dari total 40 hari itu. Gue mengerjakan kanal Piala Dunia 2014. Kerjaannya sebenarnya sama saja dengan yang gue lakukan secara reguler di Jakarta. Tapi ada tujuannya mengapa gue disuruh mengerjakan itu semua di Santa Monica.

Brainstorming
Ada sekitar 30 orang penulis dan editor olahraga dari seluruh dunia yang hadir di Santa Monica. Kami ditempatkan di sebuah ruangan bernama ‘war room’. Tujuannya berkumpulnya para editor olahraga ini adalah agar mereka mudah untuk brainstorming, buat tukar menukar ide, saling melontarkan pertanyaan, dan sebagainya.

Apalagi, kami punya program wawancara Yahoo Global Football Ambassador, Jose Mourinho. Jadi, sebelum mewawancarai Mourinho lewat video call, biasanya kami diskusi dulu untuk membuat pertanyaan dan mengutak-atik angle-nya agar cocok dengan Mourinho. Nggak harus selalu pertanyaan yang “aman” alias yg nggak membuat Mou kesal dan menghentikan wawancara. Kadang, justru kami berusaha membuat pertanyaan yang agak kontroversial agar Mourinho bisa mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang tidak umum.

Saling mengenal
Selain soal brainstorming, mengumpulkan para editor olahraga dalam satu tempat berarti membuat mereka bisa mengenal satu sama lain dan mungkin di masa depan bisa membuat para editor berkolaborasi sesuai dengan kepentingan dan kemampuan negara masing-masing. Sebagai contoh, selesai Piala Dunia, editor Yahoo Sports Italia menghubungi saya untuk minta foto-foto pertandingan uji coba Juventus di Jakarta.

war room

Lalu, mengapa Santa Monica? Kenapa bukan di tempat penyelenggaraan Piala Dunia di Brasil? Ada sejumlah alasan.

1. Logistik
Kehadiran 30-40 orang editor internasional di Brasil tentu membutuhkan tempat, baik itu hotel atau apartemen. Padahal, sejak setahun lalu, harga sewa kamar hotel dan apartemen di Brasil sudah naik lebih dari 100%. Tentu saja, dari sisi finansial ini nggak ekonomis.

Masih soal kehadiran 30-40 orang itu, kantor Yahoo di Brasil yang terletak di Sao Paulo juga tampaknya akan kesulitan menampung tambahan banyak orang sekaligus.

2, Soal jarak
Sao Paulo dan Rio de Janeiro, dua kota terbesar di Brasil, punya ukuran raksasa. Dari satu tempat ke tempat lain jaraknya berjauhan. Dengan sistem transportasi umum yang tidak terlalu baik, agak susah bagi orang asing untuk berpindah-pindah tempat di kedua kota itu.

3. Koneksi internet
Kerjaan Piala Dunia bukan sekadar teks, tapi juga melibatkan transfer file-file foto dan video. Juga ada live blogging. Dibutuhkan koneksi internet yang mumpuni buat melakukan itu semua. Di Brasil, kabarnya koneksi internetnya tidak terlalu bagus. Mungkin lebih baik dari Indonesia, tapi jelas masih jauh dibanding Amerika atau Kanada.

4. Keamanan
Seperti kita tahu, menjelang dan selama Piala Dunia, Brasil banyak menghadapi unjuk rasa yang tidak jarang berujung kericuhan bahkan kerusuhan. Memastikan 30-40 orang asing agar tetap aman selalu membutuhkan usaha yang besar dan pasti prosesnya rumit. Mengambil risiko sepertinya bukan pilihan.

Melihat berbagai pertimbangan itu, maka akhirnya dipilihlah kantor Yahoo di Santa Monica (bukan kantor Yahoo yang lain seperti Sunnyvale, New York, atau Miami) sebagai lokasi war room. Alasannya adalah karena kantor dan kota Santa Monica bisa memenuhi syarat yang mungkin tidak bisa disediakan di Brasil. Lagipula, nyaris semua penulis Yahoo Sports Amerika juga aslinya memang berkantor di Santa Monica.

Selain itu, Santa Monica juga memiliki kelebihan dalam hal zona waktu. Di Santa Monica, pertandingan paling awal berlangsung jam 09.00 pagi dan yang paling akhir jam 15.00. Ini memudahkan editor karena pas dengan jam kerja. Pertandingan paling sore pun berakhir jam 17.00, masih masuk waktu kerja yang normal. Bila war room digelar di wilayah timur Amerika seperti di New York atau Miami, maka pertandingan paling akhir dimainkan jam 18.00 dan akan berakhir jam 20.00. Agak melelahkan buat editor.

Kiri ke kanan: Jeff Oon (Singapura), Jim Hu (Amerika), Karel Rodriguez (Spanyol), Cassiano Gobett (Brasil), Mohab Maghdy (Mesir)
Kiri ke kanan: Jeff Oon (Singapura), Jim Hu (Amerika), Karel Rodriguez (Spanyol), Cassiano Gobett (Brasil), Mohab Maghdy (Mesir)

Bagi gue dan Jeff yang berasal dari Asia Tenggara, bekerja di zona waktu 14 jam (15 jam bagi Jeff) di belakang akan menguntungkan karena berarti kami bekerja di saat waktu di Asia malam hari. Jadinya, punya dua shift kerja karena editor di Jakarta dan Singapura bisa bekerja di waktu kantor normal.