Bacaan 2012

BukuBuku

Awal tahun lalu, saya menulis kritik terhadap diri saya sendiri perihal membaca buku. Tahun 2011, saya cuma membaca 7-8 buku saja. Untuk seorang yang pekerjaannya setiap hari adalah menulis dan menyunting, tentu ini memalukan. Di akhir tulisan itu, saya menargetkan bisa membaca 15 buku selama 2012.

Setelah setahun, saya menilik ulang buku apa saja yang sudah saya selama setahun. Untunglah ada Goodreads, jadi catatan saya ini lumayan akurat. Kesimpulannya, saya berhasil membaca 25 buku. Rinciannya, buku fiksi berbahasa Indonesia 9 buku, fiksi berbahasa Inggris 12 buku dan nonfiksi 4 buku.

Iya, jumlah buku nonfiksinya paling sedikit. Empat buku nonfiksi yang saya baca adalah Subwayland (buku kumpulan kolom di New York Times yang temanya tentang subway kota NY. Buku saya pinjam dari Cyapila yang ternyata pinjam dari Robin), Soccer 365 (buku yang kebanyakan berisi foto, isinya tentang sejarah Piala Dunia sejak 1938 sampai 2006), Barack Obama in His Own Words (isinya tentang ucapan-ucapan Obama mengenai banyak isu, buku ini dibeli saat ada diskon di Gramedia Yogya) dan Anak Singkong (buku ini nggak beli karena dikasih oleh teman di Detik).

Daftar lengkapnya begini:

  1. Subwayland: Adventures in the World Beneath New York
  2. Soccer: 365 Days
  3. Barack Obama: In His Own Words
  4. Chairul Tanjung Si Anak Singkong

Fiksi masih menjadi minat utama saya. Buku fiksi berbahasa Indonesia yang saya baca kualitasnya bervariasi. Ada yang jelek kaya 1 Perempuan 14 Laki-laki yang menurut saya sampah, yang agak lumayan seperti Sang Musafir dan Perempuan yang Melukis Wajah, atau yang bagus seperti 9 dari Nadira dan Cerita Cinta Enrico. Ada dua buku yang mungkin lebih tepat ditujukan buat anak di sini, yaitu James dan Persik Raksasa serta Gadis Korek Api. Meski sebenarnya ditujukan buat anak-anak, saya tetap menikmati membaca 2 buku itu kok.

Daftar lengkapnya begini nih:

1. Jalan Tak Ada Ujung

2. Cerita Cinta Enrico

3. Perempuan yang Melukis Wajah

4. James dan Persik Raksasa

5. Gadis Korek Api

6. Sang Musafir

7. 9 dari Nadira

8. 1 Perempuan 14 Laki-laki

9. Gadis Jeruk

Tahun 2012, saya makin gemar membeli dan membaca buku fiksi berbahasa Inggris. Dari yang klasik seperti Anna Karenina (belum dibaca) dan Dubliners, lalu yang modern semacam Love in the Time of Cholera, sampai yang kontemporer semacam The Road atau The Perks of Being a Wallflower. Buku berbahasa Inggris terbaik yang saya baca tahun ini adalah The Catcher in the Rye (jelas!). Saya juga sangat suka dengan Norwegian Wood, A Visit from the Goon Squad dan The Girl with the Dragon Tattoo.

Daftar lengkapnya:

1. Love in the Time of Cholera

2. The Sense of an Ending

3. A Visit from the Goon Squad

4. Dubliners

5. The Perks of Being a Wallflower

6. Franny and Zooey

7. The Kite Runner

8. The Girl with the Dragon Tattoo

9. The Catcher in the Rye

10. Kafka on the Shore

11. Norwegian Wood

12. The Road

Oya, terakhir, saya juga mengoleksi empat buku Le Petit Prince dalam bahasa Inggris, Prancis, Belanda dan Catalan. Tiga buku terakhir titip ke teman saya Lana yang lagi ke Eropa (if you happen to read this, I remember my due to you :p).

Iklan

Norwegian Wood

Naoko pertama kali menjumpai orang bunuh diri di usia 11 tahun ketika ia melihat kakak perempuannya tergantung tak bernyawa di kamar rumahnya. Menjelang dewasa, peristiwa bunuh diri kembali menghantamnya. Kejadian kedua ini sangat memukul Naoko karena terjadi pada Kizuki, kekasihnya.

Dua peristiwa pedih itu sangat memukul batin Naoko. Jiwa gadis muda itu terguncang. Ia seperti hilang ditelan kesedihan mendalam. Ia tidak pernah jadi ‘normal’ lagi. Meski ia punya Toru, sahabatnya (dan juga sahabat Kizuki) yang sangat mencintainya, Naoko merasa hampa di dalam dirinya.

Toru mencintai Naoko dengan segala kekurangannya, walau ia menyadari bahwa ia tidak akan pernah mampu menggantikan posisi Kizuki di dalam hati Naoko. Toru dan Naoko kemudian berpisah dan Toru yang meneruskan kuliah di Tokyo bertemu dengan Midori. Berbeda dengan Naoko yang tertutup dan menarik diri, Midori adalah seorang gadis yang ceria, terbuka dan penuh energi.

Haruki Murakami menceritakan sebuah kisah tentang perubahan Toru dari seorang remaja menjadi dewasa; bergelut dengan perubahan dan modernisasi yang tengah menggeliat di Jepang akhir tahun 1960-an, serta dipenuhi dilema antara terus bersama Naoko yang sangat ia cintai tetapi kejiwaannya terganggu atau memilih Midori.

Saya suka dengan gaya deskripsi Murakami di Norwegian Wood. Di tangannya, suasana asrama kampus tempat Toru tinggal, keramaian kota Tokyo yang riuh rendah, atau ketenangan yang menghanyutkan di hutan tempat Naoko dirawat menjadi sangat hidup. Pendewasaan tidak datang dalam semalam dan tidak menempuh jalan beraspal yang lurus.

Meski indah, novel ini sangat terasa muramnya karena banyak bertutur soal kehilangan, kesedihan dan kematian. Lagu-lagu The Beatles yang menemani kisah ini mengalir membuat melankoli jadi terasa kian kental. Bagi saya, Norwegian Wood adalah salah satu kisah paling indah sekaligus yang menyesakkan yang pernah saya baca.