Yang Beda dari Bus di Amerika dan Indonesia

Kartu transportasi di NYC, LA dan Chicago

Buat gue, naik transportasi umum di sebuah kota atau negara yang gue kunjungi adalah hal yang termasuk wajib. Dengan naik transportasi umum, gue bisa lihat banyak hal, mulai dari infrastruktur kotanya, sampai ke demografi sosial ekonomi dan tingkah laku masyarakatnya.

Di beberapa kota yang gue kunjungi di Amerika, transportasi umum memegang peranan penting dalam perpindahan orang dan barang. Meski Amerika negara yang kental banget dengan car culture-nya, tapi mereka nggak lantas melupakan pengembangan angkutan umumnya.

Selain New York, kota Los Angeles dan Buffalo banyak mengandalkan bus. Sementara Chicago lebih berimbang di mana bus dan kereta Metro menanggung beban yang relatif sama berat.

Nah, setelah banyak naik bus umum di LA, Buffalo, Chicago dan sedikit di NYC, ada beberapa perbedaan bus di sana dengan di sini.

1. Cuma satu jenis
Di Indonesia, jenis busnya banyak banget. Sampai bingung buat ngapalin. Mulai dari Transjakarta, APTB, Patas AC, Kopaja AC, Kopaja, Metromini, Debora, Koantas Bima, bus besar nggak ber-AC, shuttle bus ke perumahan-perumahan besar di suburban Jakarta, sampai ke angkot.

Bus di LA/Santa Monica

Kalau di Amerika, bus mereka cuma satu jenis. Ya bus kota berukuran penuh (dengan kursi sekitar 40-50 untuk bis tunggal dan 80-90 untuk bus gandeng). PR naik bus di Amerika cuma mengingat-ingat nomor rutenya.

2. Nggak berhenti sembarangan
“Bang kiri, bang!” teriak lo ketika mau turun dari sebuah Metromini di Mampang Prapatan. Maka si abang sopir pun menepi ke kiri (seringnya nggak pake sein) dan pengendara lain dibuat sibuk mengerem biar nggak nabrak si Metromini. Kalau lo beruntung, lo berhenti di tempat yang lo inginkan, kalau enggak, lo diberhentikan 50 meter di depan. Teorinya sih ada halte bus, tapi praktiknya bus boleh berhenti di mana saja. Aturan yang tanpa aturan ini berlaku juga buat naik bus.

Hal yang kaya gitu nggak bisa dilakukan di Amerika. Bus tertib cuma berhenti di halte yang sudah disediakan. Haltenya nggak selalu ada atapnya, lebih sering cuma penanda aja. Tapi yang jelas bus cuma mau menaikkan dan menurunkan penumpang dari halte. Eh tapi di NYC, ada pengecualian di mana penumpang boleh minta turun di mana aja kalau naik bus di atas jam 10 malam.

Bus8
Jadwal di salah satu halte bus di Santa Monica

Yang harus diingat, kadang bus nggak berhenti di sebuah halte kalau di halte itu nggak ada orang yang menunggu bus. Kalau lo mau minta berhenti di halte depan, nggak harus teriak “kiri, mister!” ke sopir, tapi cukup tarik tali stop request yang menjulur di semua sudut bus. Bus yang lebih baru biasanya udah mengganti sistem tali ini dengan tombol. (Note: sangat disarankan ketika turun ucapin “thank you, sir!” ke sopirnya. They’ll appreciate it very much.)

4. Nggak pakai bayar ke kenek
Seorang pemuda memainkan kepingan-kepingan receh di tangannya sampai menimbulkan bunyi “cring cring”. Itu tandanya lo dimintai bayar ongkos. Kalau sopir nggak pake kenek, ya ketika mau turun lo bayar langsung ke sopir yang (di tengah usahanya berjibaku menghentikan bus dan menjaga kopling biar mesin nggak mati) akan memberi lo kembalian.

Bus2
Interior bus gandeng di LA

Apakah ada kenek di Amerika? Ya enggak, lah! Ada beberapa jenis pembayaran yang bisa dilakukan. Beda kota, beda sistem; tapi yang jelas selalu tersedia opsi bayar pakai uang receh atau bayar pakai kartu dan bayarnya selalu ketika kita mulai naik bus (dari pintu depan).

· Di LA, buat bus Metro, bayarnya pakai kartu TAP. Bus yang sama juga menerima pembayaran duit receh. Kalau bayar pakai uang kertas, pastikan pas karena nggak disediain kembalian. Ada satu jenis bus lagi di LA, yaitu Big Blue Bus. Ada kartu buat bayarnya, tapi selama gue di sana gue memilih bayar pake receh karena cukup jarang naik bus ini. Di LA, model tarifnya adalah flat ($1 per ride) tapi pay as you go alias memotong deposit.
· Di Chicago, semua bus dioperasikan oleh CTA (Chicago Transport Authority). Bayarnya bisa pakai receh, tapi disarankan bayar pake kartu Ventra yang dimasukkin ke mesin reader (dan nanti akan keluar lagi). Kartu Ventra juga bisa dipakai buat naik kereta Metro. Tarifnya adalah $10 untuk 24 jam atau $20 buat 72 jam. Lo bebas naik berapa kalipun dan ke jurusan sejauh apapun.
· Di Buffalo, sistem bayarnya agak terbelakang. Karcisnya seharga $5 untuk sehari kalender dan dibeli di sopir busnya. Tiap naik bus, lo tunjukkin secarik kertas tiket yang sudah diberi tanggal ke sopirnya.
· Di New York, busnya agak jarang dan nggak tepat waktu kaya di LA dan Chicago. Bayarnya pakai kartu Metro seharga $30 yang berlaku buat 7 hari. Kartu ini bisa juga dipakai buat subway.

5. Berpendingin udara
Di Jakarta, bus ber-AC paling cuma Tranjakarta, APTB, Kopaja AC dan patas AC. Sisanya, penumpang harus berpanas-panasan di bus yang mesinnya di bawah kursi sopir, dengan pintu bus yang kebuka dan bikin semua asap dan debu terhirup oleh penumpang.

Ada Elvis di bus menuju Hollywood.
Ada Elvis di bus menuju Hollywood.

Bus di Amerika semuanya berpendingin udara. Udah jelas lah ya?

6. Ramah lingkungan
Pernah nggak melihat Metromini atau Kopaja mengeluarkan asap hitam pekat dari knalpotnya? Sering lah ya? Ini karena bus di Jakarta (Indonesia?) kebanyakan masih memakai solar. Usia tua kendaraan dan kurangnya perawatan memperparah polusi udara ini.

Bus6
Bus hibrida di Chicago

Bus-bus di Amerika sudah nggak ada lagi yang pakai mesin diesel kuno. Di LA, semua busnya sudah pakai bahan bakar gas. Sementara di Chicago, Buffalo dan NYC, busnya memakai mesin hibrida yang bahan bakarnya bisa memakai BBM atau gas.

7. Busnya ramah penderita cacat dan pengguna sepeda
Ada dua fitur bus di Amerika yang sangat gue kagumin. Yang pertama adalah bus bisa menurunkan badannya (pakai suspensi hidrolik) dan mengembangkan papan ke tepi jalan buat naik mereka yang berkursi roda. Di dalam kabin, pemakai kursi roda disediakan ruang di depan. Ruangan ini didapat dari kursi yang dilipat. Kalau ada penumpang berkursi roda yang naik, siapapun yang duduk di kursi lipat itu harus berpindah. Kemudian, kursi rodanya akan dikaitkan ke tali agar nggak ngglundung waktu bus bergerak. Biasanya, penumpang berkursi roda itu sendiri bisa mengaitkan pengaman, tapi ada juga yang butuh bantuan sopir. Di Buffalo/Niagara, gue pernah lihat sopir bus yang beranjak dari kursinya dan membantu memasang pengaman ke kursi roda penumpang.

Bus3
Kursi dilipat untuk penyandang cacat

Yang kedua adalah tersedianya dua rak sepeda di bagian muka bus. Jadi, kalo lo bawa sepeda dan mau naik bus, sepeda lo gak perlu masuk kabin, tapi bisa ditaruh di depan kaca sopir. Caranya, setelah bus yang lo setop berhenti, lo buka sendiri rak sepedanya, lalu lo kunci roda sepeda lo biar gak jatuh, dan lo naik ke kabin. Bayarnya sama aja. Waktu turun, jangan lupa menurunkan sepeda lo juga dari rak.

Bus4
Jangan lupa ambil sepedamu

 

Sembilan Hal yang Harus Dilakukan di Chicago

Chicago terngiang-ngiang di kepala gue sejak tahun 2011, ketika seorang wartawan Amerika bilang bahwa kota tercantik di Amerika bukanlah New York, tapi Chicago. Makanya, sehabis gue kelar dengan kerjaan Piala Dunia 2014 di Santa Monica, gue memutuskan untuk pergi ke Chicago.

Gue beli tiket pesawat American Airlines dari Bandara Internasional Los Angeles (LAX) ke Bandara O’Hare Chicago (ORD). Pagi-pagi tanggal 13 Juli 2014, gue berangkat ke LAX. Setelah melalui drama overweight koper dan melewati pemeriksaan ketat TSA, gue akhirnya terbang dan empat jam kemudian sudah mendarat di Chicago.

Waktu Chicago dua jam lebih awal dari Los Angeles. Karena terletak di wilayah utara Amerika, dan kebetulan berlokasi di tepian danau besar, maka cuaca Chicago sedikit lebih dingin. Sebagai gambaran, siang musim panas saja suhunya bisa 12-16 derajat Celcius.

Nah, berikut adalah 9 hal yang harus kamu lakukan kalau di Chicago.

1. Naik transportasi umumnya

Chicago memiliki keseimbangan dalam sistem transportasinya dengan peran yang sama yang diemban bus kota dan kereta komuter. Antara bus dengan KRL terkoneksi dengan baik. Sistem pentarifannya pun memakai kartu yang sama, yakni kartu Ventra yang bisa dibeli denga harga $10 untuk masa 24 jam. Sekali beli kartu ini, maka kamu bisa naik semua bus dan KRL yang disediakan oleh CTA (Chicago Transport Authority).

Chicago10
Bus CTA

Bus Chicago, seperti halnya bus di kota-kota lain di Amerika, kondisinya sangat bagus dengan mesin hibrida antara gas dengan BBM biasa. Jadwal untuk bus bisa dilihat melalui Google Maps. Hasilnya cukup akurat kok. Sementara KRL Chicago disebut dengan L Train. Di sejumlah wilayah, L Train berjalan di rel di atas tanah (elevated), sementara di downtown, L Train kebanyakan berjalan di bawah tanah (underground).

2. Ke Skydeck di Willis Tower

Naiklah ke lantai 103 Willis Tower, gedung setinggi 442 meter yang meruapakan gedung tertinggi di Chicago dan tertinggi kedua di Amerika setelah One WTC. Di skydeck di lantai 103, pengunjung bisa melihat ke seantero kota dan bahkan melihat negara bagian Indiana di seberang Danau Michigan. Tiket masuk buat orang dewasa sebesar $19.50.

3. Duduk-duduk di Navy Pier

Navy Pier adalah dermaga di tepian Danau Michigan. Sore hari, ketika matahari terbenam di antara gedung-gedung pencakar langit, sinarnya akan membuat warna danau dan langit menjadi merah keemasan. Sangat cantik. Hembusan angin di tempat ini lumayan kencang dan dingin sehingga bisa menggigilkan tubuh manusia tropis kayak gue.

Chicago6
Chicago dilihat dari Navy Pier

4. Jalan-jalan atau bersepeda di Grant Park

Bila New York terkenal dengan Central Park-nya, maka Chicago tenar dengan Grant Park-nya. Berukuran 319 acre (sekitar 130 hektare), Grant Park adalah paru-paru Chicago. Terletak di tepi Danau Michigan, Grant Park sangat menyenangkan buat dikunjungi. Kamu bisa jalan kaki, lari-lari atau naik sepeda sewaan.

Chicago3
Persewaan sepeda di Grant Park

5. Berfoto selfie di Cloud Gate

Di tengah kota Chicago, ada sebuah taman yang tidak besar tapi sangat wajib dikunjungi, yakni Millenium Park. Di Millenium Park, ada benda yang jadi ikon kota Chicago, yakni The Cloud Gate. Dibuat oleh seniman Inggris kelahiran India, Anish Kapoor, Cloud Gate menjadi ikon penting kota Chicago.

Chicago5
The Bean

Cloud Gate (sering juga disebut Chicago Bean atau The Bean karena bentuknya yang mirip kacang) terbuat dari logam berkilau yang bisa dipakai ngaca. Nampanglah di sana dan ambillah foto dirimu sendiri di cermin The Bean.

6. Jangan langsung pergi dari Millenium Park

Selain Cloud Gate yang ikonik, di Millenium Park juga ada Jay Pritzker Paviilion, teater terbuka dengan arsitektur indah rancangan Frank Gehry. Kalau beruntung, di Jay Pritzker Pavillion ada pertunjukan musik gratis atau latihan orkestra lokal. Di depan Jay Pritzker Pavillion ada ratusan kursi dan di belakangnya ada halaman rumput besar yang bisa dipakai duduk-duduk menonton pertunjukkan atau untuk berolahraga.

Chicago4
Jay Pritzker Pavillion

Millenium Park juga memiliki air mancur (Crown Fountain), taman (Lurie Garden) dan BP Bridge, jembatan berbentuk melengkung-lengkung yang dirancang oleh (lagi-lagi) Frank Gehry dan berfungsi menghubungkan Millenium Park dengan Maggie Daley Park yang berada di seberang jalan.

Chicago7
Lurie Garden

7. Mengunjungi arena-arena olahraga

Ketika gue kecil, Chicago Bulls sedang jago-jagonya. Ketika ke Chicago, gue sempat mengunjungi markas mereka, United Center. Tak cuma jadi markas Bulls, United Center juga jadi markas klub hoki es Chicago Blackhawks. Sayangnya, karena NBA dan NHL sedang off-season, tidak ada kegiatan apapun di sini.

Chicago11
United Center

Tak hanya United Center, Chicago juga punya venue olahraga lain yang tak kalah megah, yakni Stadion Soldier Field. Tempat ini dipakai sebagai markas klub NFL Chicago Bears dan tahun 1994 pernah dipakai untuk sejumlah pertandingan Piala Dunia.

Chicago9
Soldier Field

Chicago tampaknya tergila-gila dengan olahraga, sampai-sampai mereka punya dua tim baseball, yaitu Chicago Cubs dan Chicago White Sox. Cubs bermarkas di Wrigley Field, stadion berumur 100 tahun, sementara White Sox berkandang di US Cellular Field. Gue cuma mengunjungi Wrigley Field yang dekat dari host AirBnB gue di kawasan Lakeview. Sementara US Cellular Field gak sempat gue kunjungi, cuma melihat dari kejauhan waktu naik KRL.

Chicago2
Wrigley Field

8. Nggak harus berdoa buat ke Katedral Holy Name

Katedral terbesar di Chicago ini bergaya gothic. Eksteriornya indah, demikian juga interiornya. Buat masuk, kamu nggak harus beragama Katolik. Duduk-duduk di aulanya sambil berdiam diri dan menikmati keindahan interior katedral ini sudah cukup. Ingat, jaga kesopanan di rumah ibadah ini.

Chicago8
Katedral Holy Name

9. Lari!

Seperti halnya kota-kota lain di Amerika yang punya trotoar lebar-lebar dan lalu lintas yang nggak mengancam pejalan kaki, Chicago pun demikian. Karena jalannya berbentuk grid-grid, sangat menyenangkan untuk berlari di sana tanpa takut kesasar.

Sebenarnya ada saran ke-10, yakni mengunjungi rumah yang pernah ditinggali Presiden Amerika Barack Obama ketika masih tinggal di Chicago. Agak PR buat ke sana karena letaknya agak jauh dari pusat kota. Yang lebih mengecewakan, ketika gue di sana, di depan jalan masuk rumah Obama ada larangan masuk dari Secret Service dengan ancaman mengerikan buat yang coba-coba melanggar. Jadi, please do search first sebelum kamu mau berkunjung ke tempat ini apakah kamu boleh mendekat dan memfoto-foto rumah Obama.

Chicago1
Dilarang masuk!

TSA

TSA1“Maaf, koper Anda kelebihan berat. Silakan pindahkan ke tas lain atau Anda harus membayar over baggage $400 dolar.” Kalimat petugas di counter check in America Airlines di Bandara Internasional Los Angeles (LAX) itu membuat gue agak panik. Di timbangan, koper gue memang terhitung memiliki berat 58 pound; delapan pound lebih berat dari ketentuan berat maksimal sebuah koper yang masuk ke bagasi. Padahal, buat memasukkan satu koper ke bagasi aja gue udah harus bayar $25 (semua maskapai penerbangan di Amrik emang nggak menggratiskan biaya bagasi), males banget kan kalau harus bayar lagi $400.

Segera saja gue membongkar koper besar yang berisi segala macam barang itu. Pakaian jadi prioritas untuk gue pindahkan ke tas olahraga dan tas punggung yang juga gue bawa. Proses membongkar-bongkar dan memindah-mindahkan itu gue lakukan di dekat counter check in AA, jadi kadang ada saja calon penumpang yang ngeliatin gue yang mulai berpeluh akibat rasa panik yang menjalar.

Beruntunglah kejadian harus memindah-mindahkan isi koper ini terjadi ketika waktu buat terbang masih cukup lama. Pagi itu, 13 Juli 2014, gue udah sampai di LAX sekitar pukul 05.30 pagi. Gue naik Uber dari apartemen di Santa Monica dan jalanan yang sepi di awal hari itu membuat gue cuma membutuhkan 20 menit buat sampai ke bandara. Proses cek-in yang panjang itu membuat gue masih menyisakan setidaknya 1,5 jam sampai ke waktu terbang karena pesawat gue dari Los Angeles ke Chicago dijadwalkan pergi pukul 07.30.

TSA2

Akhirnya, urusan koper itu beres ketika koper gue timbang ulang dan hasilnya menunjukkan 50,5 pound. Masih kelebihan 0,5 pound sih, tapi petugas cek in menoleransi dan gue bisa masuk ke ruang tunggu. (Catatan penting: kalau bepergian yang agak jauh dan agak lama, sangat disarankan punya timbangan portabel buat menimbang koper biar nggak mengalami kejadian kaya gue.)

Proses menuju ruang tunggu inilah yang agak jadi PR. Nggak seperti di Bandara Soekarno Hatta yang cuma melewati satu pemeriksaan yang nggak terlalu rumit, buat masuk ke ruang tunggu di LAX ini prosesnya ruwet walaupun sebenarnya pemeriksaannya juga cuma satu kali.

Proses di antara cek in hingga boarding ke pesawat di bandara Amerika harus melalui pemeriksaan TSA (Transport Security Administration). Pagi itu, antrean calon penumpang sudah cukup panjang memenuhi depan gerbang-gerbang pemeriksaan TSA. Gue memilih salah satu gerbang dengan cukup tenang sembari masih meminum air mineral yang gue bawa dari apartemen. Karena gue udah pernah melalui proses yang sama tahun 2011 (terbang dari Los Angeles, tapi bandaranya di Ontario, ke Las Vegas), gue jadi lebih santai. 

Menjelang gue mendapat giliran diperiksa, gue buang botol air mineral gue di tempat sampah. Lalu perlahan tapi pasti gue melepas blazer, sabuk dan sepatu buat ditempatkan di baki pemeriksaan. Gue juga harus mengeluarkan Mac dari tas punggung, mengeluarkannya dari sleeve-nya, dan menempatkannya di baki terpisah, bersama dengan iPhone gue.

TSA5

Nggak ada masalah ketika gue diperiksa TSA. Badan gue digrepe-grepe dari ujung kepala sampai ujung kaki oleh petugas. Nggak ada benda berbahaya yang terdapat di dalamnya, tentu saja. Lalu gue disuruh untuk berdiri di body scanner yang akan menerawang badan gue sekali lagi untuk mencari-cari benda yang mungkin membahayakan.Sekali lagi, hasilnya nihil. Walhasil, gue dipersilakan meneruskan ke ruang tunggu. 

Ruang tunggu di LAX cukup enak. Ada beberapa restoran dan kafe yang sangat berguna buat mengisi perut atau minum kopi bagi para penumpang penerbangan yang cukup pagi ini. Gue memilih untuk nggak beli apa-apa karena terhitung mulai hari itu, gue bepergian dengan biaya sendiri, jadi sangat diusahakan untuk nggak beli makanan yang mahal-mahal. Hahaha.

TSA4

Sebenarnya, meski gue udah sampai ke ruang tunggu, akhirnya naik pesawat dan mendarat di Chicago 4 jam kemudian, urusan dengan TSA ternyata belum selesai. Waktu udah di Chicago dan lagi membongkar-bongkar dan merapikan ulang koper, satu dari dua gembok yang gue pasang di koper ternyata nggak ada. Setelah dicari, ternyata gembok ada di dalam koper. Artinya, koper gue tadi sempat dibuka oleh TSA. Benar saja, di dalam koper ternyata ada secarik surat dari TSA yang menyatakan bahwa koper gue memang dibuka buat diperiksa sama mereka.

TSA3

Inilah kenapa kemudian penting buat traveller buat memakai gembok koper yang sesuai standar TSA. Sebab, kalau TSA menemukan gembok yang nggak standar, maka mereka akan menjebol koper tersebut. Ingat-ingatlah itu.

Kota (2)

NJ Skyline

Setelah selama sebulan tinggal di Santa Monica dan cuma sempat jalan-jalan ke kota-kota di dekatnya, selesai Piala Dunia lalu gue langsung cabut ke daerah timur Amerika, dimulai dari Chicago dan berakhir di New York City sebelum akhirnya gue terbang pulang ke Indonesia.

5. Chicago
Tahun 2011, ketika gue lagi di Las Vegas, ada orang Amerika bertanya ke (kalo nggak salah) seorang wartawan dari Amerika Selatan. Dia tanya, “Menurutmu, kota paling Indah di Amerika apa? Kalau kamu bilang New York City, kamu salah. Kota paling indah di Amerika adalah Chicago.” Mengingat dialog itu, sejak sebelum berangkat gue udah memutuskan buat pergi ke Chicago selepas kerjaan di Santa Monica/LA selesai.

IMG_1709

Chicago punya julukan Windy City karena dia terletak di tepi Danau Michigan, satu dari lima danau besar (Great Lakes) di Amerika. Angin itu bikin cuaca di Chicago relatif lebih dingin ketimbang LA. Gue sempat merasa salah kostum karena bepergian cuma pakai celana pendek dan t-shirt, lalu di luaran ternyata suhunya cuma 16 derajt (padahal summer). Cuacanya juga jadi kurang enak karena sering mendung dan gerimis.

IMG_1828

Dari segi transportasi, Chicago menurut gue lebih baik dari LA karena memiliki gabungan yang pas antara transportasi rel (MRT) dan transportasi bus. Kalau di NYC nyaris seluruh jalur MRT berada di bawah tanah, MRT di Chicago banyak juga yang terdapat di atas tanah. Mungkin cuma di kawasan Downtown di mana MRT Chicago banyak berada di bawah tanah.

IMG_1740

Ada banyak taman-taman besar di Chicago, yang paling besar adalah Lincoln Park. Taman ini luas dan hijau, menjadikannya sebagai tempat yang sangat menyenangkan buat berolahraga. Selain Lincoln Park, ada taman (yang tidak terlalu besar) di tengah kota bernama Millenium Park. Di Millenium Park ada banyak bangunan keren kayak The Cloud Gate, patung berbentuk seperti kacang raksasa (makanya sering disebut Chicago Beans) yang terbuat dari logam dan bisa dipakai mengaca. Chicago Beans dibuat oleh seniman Inggris kelahiran India, Anish Kapoor. Selain itu, di Millenium Park juga ada Jay Pritzker Pavillion, yaitu panggung yang bisa dipakai untuk pertunjukkan kesenian. Jay Pritzker Pavillion dirancang oleh arsitek tenar, Frank Gehry.

6. Buffalo
Gue pergi dari Chicago ke Buffalo dengan naik kereta api Amtrak selama kurang lebih 10 jam. Buffalo adalah kota terdekat dari air terjun Niagara yang terletak di perbatasan AS-Kanada. Gue cuma mengunjungi Buffalo kurang dari 24 jam dan frankly speaking, ini adalah kota yang paling nggak gue senangi di Amerika.

Buffalo

Buffalo terhitung kota kecil yang penduduknya cuma kurang dari 300 ribu jiwa, tapi mereka adalah kota terbesar kedua di New York State setelah New York City. Cuacanya cukup dingin (sekitar 13 derajat celcius di waktu malam-pagi dan 16-20 derajat celcius di siang hari) walau pun matahari bersinar cerah.

IMG_2046

Dulu Buffalo adalah kota industri (karena dekat dengan pembangkit listrik Niagara), tapi surutnya masa kejayaan industri besar, kejayaan Buffalo juga perlahan surut. Buffalo sekarang adalah kota dengan jumlah rumah kosong terbesar kedua di Amerika (setelah St Louis). Akibatnya, Buffalo terasa sepi dan (kalau malam) agak seram.

Transportasi umum di Buffalo mengandalkan bus. Sebenarnya ada juga MRT tapi cuma ada satu line dan gue gak pernah naik. Bus umum di Buffalo sedikit, rentang antar bus bervariasi mulai dari 10 menit sekali (yang jalan di dalam kota) sampai sejam sekali (bus yang menuju ke daerah suburban seperti ke Cheektowaga, lokasi stasiun Amtrak Buffalo-Depew).

Jam setengah 9 malam, bus kota sudah sedikit banget yang beroperasi. Malam itu gue berniat cari makan dan setelah nunggu bus selama 30 menit nggak dapat-dapat, akhirnya gue jalan kaki. Jalanan di Buffalo jam 9 malam udah sepiii. Gue agak cemas juga sih jalan sendirian begitu. Apalagi, banyak bangunan kosong yang makin membuat bulu kuduk meremang.

7. New York City
Dari Buffalo, kembali gue naik Amtrak ke NYC selama nyaris 10 jam. Bisa dibilang, berkunjung ke New York itu wajib dilakuin sebelum mati. NYC adalah kota terbesar di dunia, tempat pembauran terbesar di dunia, kota paling dinamis di dunia dan segala hal fantastis lain yang disematkan ke kota ini.

Times Square

Transportasi umum di NYC adalah yang paling masif dari seluruh kota di Amerika yang gue kunjungi. NYC sangat bergantung kepada MRT yang berjalan 24 jam. Sementara, bus di NYC agak kurang bisa diandalkan seperti halnya bus di LA. Di NYC, naik transportasi umum jauh lebih menyenangkan dibanding bawa kendaraan pribadi karena macet banget dan tarif parkir di sana mahalnya minta ampun. Gue sampai pada kesimpulan bahwa cuma dua jenis orang yang mau nyetir sendiri di NYC, yaitu: 1. Orang yang nggak mikir lagi soal duit, 2. Orang gila.

NYC adalah kota yang sangat padat. Bangunan tinggi di mana-mana, tak terkecuali bangunan apartemen. Ruang jadi hal yang sangat berharga di sana mengingat keterbatasan lahan. Gue yang (mulai) terbiasa dengan kelegaan yang gue nikmati di Santa Monica lama-lama merasa klaustrofobik juga dengan kepadatan NYC. Di mana-mana bangunan, di mana-mana ada orang.

 

Tapi NYC adalah kota yang sangat menggilai taman. Tentu saja, yang terbesar adalah Central Park yang terletak tepat di tengah-tengah Manhattan, memanjang dari 59th Street hingga 110th Street dan melebar dari 5h Avenue hingga 8th Avenue. Di luar Central Park, banyak bertebaran taman-taman yang lebih kecil yang bisa dimanfaatkan oleh orang-orang sekadar untuk duduk-duduk, ngobrol, makan atau baca buku.

IMG_2204

Secara umum, gue nggak terlalu suka cuaca di NYC yang menurut gue juga masih cukup dingin kaya di Chicago. Selain itu, langit di atas NYC juga jarang terlihat biru cerah mengingat tingginya tingkat polusi di kota ini.

 

IMG_2217

Bicara soal tempat pembauran (melting pot)dunia, NYC memang juaranya. Selama 2,5 hari gue di NYC, gue udah pernah melihat nyaris segalam macam orang; mulai dari orang Cina sampai Afrika, orang Eropa Timur sampai Arab, semuanya kayaknya ada di sana. Kuping gue pernah mendengar orang-orang bercakap-cakap pakai bahasa Prancis, Jerman, Polandia (gue tahu itu Polandia karena orangnya pakai t-shirt bertuliskan Polska something, bukan karena gue ngerti bahasa Polandia. :p), China, Jepang, bahkan Indonesia.

IMG_2158

NYC juga memiliki buanyak banget bangunan-bangunan dengan arsitektur keren. Mulai dari yang lawas seperti Brooklyn Bridge, Museum of Modern Arts (MoMA), Empire State Building, Times Square, hingga ke yang cukup kontemporer seperti One World Trade Center dan High Line Park.