Intelejen

Kata intelejen sangat lekat dengan sebuah perihal yang serius. Urusan akbar yang dijalankan oleh segilintir kaum terpilih menyangkut keselamatan sebuah kelompok atau negara di tengah lingkungan dunia yang kacau balau ini.

Tetapi toh intelejen bukanlah sebuah perkara yang suci hama. Intelejen bisa salah, bisa konyol, juga bisa bodoh dan kacau. Tim Weiner yang pernah memenangi Hadiah Pulitzer itu menuliskannya dengan memikat dalam lebih dari 800 halaman buku ‘Membongkar Kegagalan CIA: Spionasi Amatiran Sebuah Negara Adidaya’; sebuah buku yang mendapat perhatian lebih di sini oleh musabab cerita tentang Adam Malik-nya.

Intelejen, spionase, telik sandi atau apapun namanya dapat menjadi bahan lelucon satir dan diolok-olok. Itu setidaknya yang dilakukan oleh Joel dan Ethan Coen (Coen Brothers) dalam film besutan mereka ‘Burn After Reading’.

Film ini bertitik pangkal dari Ozzy, seorang pegawai (agen?) CIA yang daripada dipindah ke pos yang tidak ia sukai lantas lebih memilih mengundurkan diri dan kemudian berniat menulis buku.

Ozzy, selain bermasalah dengan kegemarannya minum (sesuatu yang membuatnya nyaris dipindah oleh CIA), juga bermasalah dengan rumah tangganya. Istrinya yang dokter gigi, Katie, berselingkuh dengan seorang lelaki dan belakangan berniat mengajukan perceraian dan menyewa jasa pengacara untuk menyelidiki Ozzy dan catatan keuangan dan pribadinya.

Persoalan menjadi rumit tatkala CD milik Ozzy dicuri oleh pengacara yang disewa Katie namun kemudian tertinggal di sebuah pusat kebugaran. CD itu ditemukan oleh dua pegawai rendahan pusat kebugaran yang berpikir bahwa mereka bisa memperoleh duit hasil dari memeras Ozzy. Salah satu dari mereka, Linda, bermimpi untuk memakai uang itu kelak untuk melakukan operasi plastik.

Dari hal yang remeh temeh seperti ini, persoalan membesar hingga melibatkan petinggi-petinggi CIA dan bahkan Kedutaan Besar Rusia. Coen bersaudara dengan sukses mengubah perkara intelejen yang rumit dan mengawang-awang itu menjadi ajang menertawakan biro telik sandi yang panik dan bingung.

Coen bersaudara dengan cerdas mengejek kegagapan intelejen Amerika menghadapi persoalan. Kegagapan yang sudah sejak lama terungkap ketika mereka gagal membendung serangan teroris pada September 2001.

CIA dan rekan-rekannya seperti ‘intel melayu’ yang bengong melihat negaranya diobrak-abrik. Ya mungkin mirip lah dengan telik sandi ‘intel melayu’ sesungguhnya yang malah gemar menginteli warganya sendiri dan menyingkirkan pembela hak asasi manusia.

Bond yang Tak Lagi Mengejutkan

Ketika menonton Casino Royale, saya takjub dengan interpretasi Daniel Craig tentang tokoh agen rahasia paling terkenal di dunia, James Bond.

Bond yang lekat dengan citra pria flamboyan –dan itu didukung dengan pemilihan aktor yang memang juga flamboyan seperti Sean Connery atau Pierce Brosnan– sukses diacak-acak oleh Craig. Lewat akting Craig, Bond jadi sosok agen rahasia yang dingin, nggak suka basa-basi dan nyebelin dalam bicara dan bertindak.

Namun kejutan hanya tercipta satu kali. Ketika formula yang sama diterapkan ke film Bond berikut, maka unsur excitementnya jauh menurun.

Quantum of Solace masih menghadirkan Bond yang beringas. Bahkan agen 007 ini hobi sekali membunuh lawannya, sebuah hal yang mendatangkan kegusaran dari atasannya di MI6, M (nggak ada yang lebih cocok memerankan M ketimbang Judi Dench).

Tapi nonton QOS sudah nggak setegang atau setakjub nonton Casino. Kekasaran Bond atau tidak adanya line ‘martini, shaken not stirred’ bukanlah hal baru; meski harus diakui akting Craig tetap meyakinkan.

Jalan cerita? Jangan ditanya. Semua film Bond itu ceritanya klise, standar soal good vs evil, Barat melawan kelompok teroris atau Blok Timur. Jalan ceritanya predictable dengan akhir yang juga klise.

Saya menyukai film-film Bond karena semata memang saya seneng sama genre film aksi. Terlalu banyak nonton film seperti A Beautiful Mind bisa membuat bosan. Sekali-sekali, nonton James Bond atau Hot Fuzz juga perlu (ah, perpaduan paling pas ya The Departed dan yang terbaik jelas Pulp Fiction).

Namun gara-gara Casino, saya memang berharap lebih kepada film Bond –dan Craig. Tapi saya hal itu nggak saya dapatkan di QOS karena seperti saya bilang, kejutan hanya terjadi satu kali.

Di luar hal itu, dua perempuan Bond, Olga Kurylenko dan Emma Arterton, jelas kalah cantik dan seksi dibanding Eva Green yang memerankan Vesper. Lebih-lebih lagi sutradara Marc Forster juga membatasi jumlah adegan percintaan yang dilakukan Bond. Hanya sekali 007 meniduri perempuan di QOS, itu pun dengan seorang perempuan yang perannya di film itu nggak penting.

Oya, buat yang mengharapkan ada kalimat tenar ‘my name is Bond, James Bond’, siap-siap kecewa karena line itu nggak bakal Anda temukan di film ini.