Jalan Tikus

Jalan2

Akhir pekan kemarin, gue membantu teman gue pindahan. Dia yang awalnya hidup berpindah-pindah dari satu kos ke kos lain, lalu tinggal di apartemen, sekarang punya rumah sendiri. Dari yang tinggal di Jakarta Selatan, sekarang dia tinggal di selatan Jakarta alias Kota Depok, Jawa Barat.

Depok adalah satu dari lima daerah penyangga atau suburban dari sebuah metropolitan raksasa bernama Jakarta. Empat penyangga lainnya adalah Bogor, Bekasi, Tangerang dan Tangerang Selatan. Kelima daerah ini punya peran penting bagi Jakarta karena tak cuma berperan sebagai lokasi tempat tinggal banyak orang yang bekerja di Jakarta, tapi juga punya fungsi lain seperti pemasok sumber daya alam, hasil pertanian hingga ke penyeimbang lingkungan.

Proses perjalanan pindah ke Depok itu gue lakukan dengan menumpang mobil pick up yang disewa untuk mengangkut barang-barang teman gue. Perjalanan yang gue lakuin bersama mobil pick up itu cukup berliku-liku. Melewati jalan-jalan sempit di Jagakarsa, lalu sampai ke Tanah Baru.

Sepengamatan gue, jalan-jalan di kawasan Jagakarsa dan Depok ini jauh dari ideal. Jalannya sempit, di beberapa tempat masih dilintasi pejalan kaki (yang terpaksa turun ke aspal karena nggak ada trotoar), kadang juga dilintasi gerobak bakso dan mie ayam, lalu ada motor dan mobil yang parkir di tepi jalan, pedagang-pedagang aneka barang, dan lain-lain.

IMG_2015-04-05 22:47:46

Jalan Tanah Baru misalnya. Jalan yang sepertinya cukup penting dan membentang cukup panjang dari utara ke selatan kondisinya cukup memprihatinkan. Sempit dan penuh dengan kendaraan dan manusia. 

Gue lalu teringat pengalaman gue kira-kira setahun lalu nyetir ke sebuah tempat di kawasan Pondok Ranji, Tangerang Selatan, untuk datang ke resepsi seorang teman. Kondisinya mirip. Alhasil, nyetir mobil matic ternyata nggak bisa menghentikan rasa capek yang gue alami begitu udah sampai Jakarta Selatan.

Antara Jagakarsa, Depok dan Tangerang Selatan memiliki masalah yang sama terkait ketersediaan jalan. Kalau lo melihat ke Google Maps, cobalah zoom ke daerah-daerah yang gue sebutin di atas dan lihat betapa tidak teraturnya bentuk-bentuk jalan di sana. Gue gagal menemukan jalan protokol (selain Jalan Margonda di Depok, tampaknya) yang bisa menjadi tulang punggung transportasi di daerah tersebut. 

Tidak cuma sempit dan ramai sehingga membuat perjalanan terasa lama dan melelahkan, tapi dari segi desain pun jalan-jalan di kawasan suburban ini (sesungguhnya, di Jakarta juga), tidak teratur. Padahal, desain jalan yang terbaik adalah jalan yang berbentuk grid (berbentuk anyaman jalan-jalan secara horisontal dan vertikal) karena mempermudah perpindahan antarsegmen.

Jalan1

Menurut pengamatan gue yang sotoy ini, terbelakangnya infrastruktur jalan di Jakarta dan kawasan penyangganya adalah akibat dari perkembangan kota yang tidak teratur dan terencana sehingga mendapatkan sebutan urban sprawl. Perkembangan daerah-daerah penyangga Jakarta lebih mirip pemanjangan akar pohon yang menjalar ke sana ke mari tanpa ada usaha mengaturnya.

Pemerintah daerah kawasan penyangga tersebut seperti kehabisan akal untuk mengatur perkembangan wilayahnya. Tidak ada masterplan terpadu tentang zoning, rencana pembangunan infrastruktur publik, ruang terbuka hijau, dan seterusnya. Tampaknya, mereka hanya bisa berpikir mengenai bagaimana mendapatkan pemasukan daerah (atau malah pemasukan pribadi) sebesar-besarnya tanpa memikirkan bagaimana mencukupi hak-hak dasar warganya.

Satu-satunya pengecualian dari fenomena memprihatinkan daerah-daerah penyangga Jakarta hanyalah kawasan Bumi Serpong Damai. Bisa dibilang, BSD adalah kawasan yang mendekati ideal dengan zoning dan infrastruktur jalan yang jelas. Mungkin yang masih harus dibenahi adalah ketersediaan angkutan umum yang layak di dalam kawasan tersebut.

Jalan4

Apa yang secara kasat mata terlihat dari perbedaan di Tangerang Selatan yang BSD dengan Tangerang Selatan bukan BSD dan Depok? Ya! Yang satu dikembangkan oleh swasta, sementara yang satu lagi dibiarkan tumbuh liar oleh pemerintah daerahnya.

Lantas, apakah kesimpulannya adalah sebaiknya kita swastakan saja pembangunan kota-kota di Indonesia? Tunggu dulu. Pengembangan oleh swasta punya efek negatif berupa semakin mahalnya harga properti sehingga memperkecil kesempatan untuk warga dengan penghasilan terbatas untuk memiliki rumah tinggal. Gue tetap berpikir bahwa pemerintah daerah tetap harus membangun wilayahnya secara terencana sehingga tidak ada lagi pembangunan liar tak terarah seperti yang terjadi selama ini. Bisa?

 

Setahun

Setelah setahun menjelajahi senti demi senti tanah Jakarta ini, kesimpulan saya tetap sama. Jakarta adalah sebuah jam besar yang tersusun dari jam-jam kecil yang selalu berdetak dan berderap di manapun dan kapanpun(*). Dan Jakarta hanya cocok sebagai tempat mencari uang, bukan untuk tempat tinggal yang ideal.

Masih sama dengan tahun lalu ketika saya menetapkan hati untuk mencoba mengadu peruntungan di sini. Jakarta masih macet dan banjir. Perilaku masyarakatnya juga masih gitu-gitu saja. Orang kaya pakai mobil mewah hobi melanggar, orang nggak kaya pake motor butut juga suka melanggar.

Jakarta adalah sebuah ironi peradaban.

(*)dari cerpen Langgam Urbana karya Beni Setia

Benda Kenangan

Apa arti sebuah benda kenangan bagi Anda?

Beda orang, pasti akan berbeda pula jawaban yang muncul. Seorang teman pernah kehilangan ponselnya. Bukan soal harga ponsel yang menjadi penyebab dirinya menjadi sedikit bersedih. Menurutnya, ponsel itu memiliki kenangan karena melalui ponsel itu ia merayu seorang perempuan yang akhirnya menjadi pacarnya.

Saya juga pernah tinggal di sebuah rumah kos, di mana pemilik rumah kos itu tampaknya begitu mencintai benda-benda kenangan yang ia miliki. Pasalnya, di banyak sudut rumahnya, banyak berserak benda yang menurut saya tidak penting keberadaannya, seperti sebuah sepeda butut yang nyaris saya tabrak ketika saya lari terbirit-birit akibat guncangan gempa Jogja tahun 2006 lalu.

Benda lain yang disimpan bapak kos saya waktu itu adalah dua buah jip kuno (merk Jeep?). Salah satu jipnya masih bisa jalan dengan baik meski suaranya berisik. Sedangkan satu jip lagi sudah disfungsi. Kabinnya menjadi tempat penjual pecel lele yang mangkal setiap malam untuk menyimpan kursi-kursi tendanya di waktu siang.

Lain lagi dengan seorang rekan yang lain yang merasa sedih ketika ia harus menjual mobilnya. Bukan karena ia bangkrut dan kere, tapi karena ia akan membeli ganti berupa mobil yang lebih baru. Ia murung karena mobil itu dibelinya dengan hasil keringatnya sendiri bekerja bertahun-tahun.

Kadang perilaku-perilaku seperti yang saya sebut di atas sulit untuk dimengerti –termasuk oleh orang seperti saya. Kerap kali saya menggerutu karena sepeda bapak kos saya itu mengurangi lahan parkir buat sepeda motor anak-anak kos. Kadang saya juga kesal karena jip tua di depan kos itu merusak pemandangan.

Tapi nilai setiap benda memang hidup di benak dan hati masing-masing. Barang yang bagi orang lain tampak tak memiliki makna, di mata orang lainnya lagi membangkitkan banyak memori.

Sebatang ponsel mungkin tidak membawa pengaruh apapun terhadap keberhasilan seorang pria mencuri hati perempuan (karena yang dipakai adalah fungsinya untuk berbicara, bukan tampilannya atau harganya yang mahal). Tapi cobalah mengerti ketika pria dan si perempuan itu saling bertukar gombalan cinta atau malah saling memaki karena bertengkar. Melankolis sekali bukan?

Sebuah mobil butut tentu kalah nyaman dinaiki ketimbang mobil yang lebih baru. Namun coba bayangkan ketika rekan saya tadi bekerja keras setiap hari dan menabung setiap sen gajinya demi membeli mobil dengan jerih payahnya sendiri. Bagi si pelaku, rasa kepuasannya barangkali tidak terperi dan terkatakan.

Itulah, setiap kenangan akan terus hidup dalam diri seorang manusia.

Note: Postingan ini untuk mengenang sepeda motor R 4621 DH yang sudah menemani saya selama delapan tahun. Motor ini pernah saya namai Mariana Renata :)) Sebelum berpisah, sebetulnya saya ingin mencuci dia, tapi ternyata tidak sempat. Maaf ya?

Jakarta, Jakarta

kereta-reu-palinggi.jpg

Ketika saya harus meninggalkan Yogyakarta pekan lalu, saya merasa bahwa langkah saya biasa-biasa saja. Enteng tidak, berat pun saya kira bukan. Ya, saya pada akhirnya harus pergi dari kota yang sudah saya tinggali semenjak empat setengah tahun lalu.

Pada akhirnya, saya sudah terdampar di sini, di sebuah kota yang pengap bernama Jakarta.

Jakarta modern adalah sebuah kota yang lahir dari rahim ambisi seorang insinyur-cum-negarawan bernama Soekarno.

Seperti digambarkan oleh Christopher Koch dalam bukunya A Year of Living Dangerously, Jakarta diciptakan Soekarno untuk menjadi sebuah ibukota dunia yang kelak akan mahsyur. Kota yang tak kalah gemerlap dari New York, tak kurang indah dari Barcelona (buat seseorang yang akan segera ke Barcelona, tolong periksa setiap jengkal keindahannya ya? Would you?:) ) atau Paris. (Meski sang Bung akan selalu melewatkan akhir pekannya di selatan Jakarta, tepatnya di Bogor).

Jakarta, selain gemerlap, juga menyimpan keresahannya sendiri. Dan tentu saja, ia berbeda dan bertolak belakang dari Yogyakarta.

Pukul sembilan malam di Yogya adalah waktu untuk keluarga. Pada jam-jam ini, keluarga berkumpul di depan ruang televisi. Suami-istri menggusah anak tunggal mereka untuk segera tidur dan mereka akan larut dalam aktivitas mereka sendiri. Entah itu melanjutkan nonton teve sembari menyeruput teh hangat, bercengkerama atau bahkan bersenggama.

Di sana, malam adalah saatnya para kuli (seperti saya) serta mahasiswa-mahasiswa tua maupun muda merehatkan badan yang sudah sayah. Duduk-duduk di warung angkringan, menikmati kopi atau teh jahe. Membiarkan malam berlalu perlahan dalam hembusan asap dari tembakau yang dibakar.

Tapi Jakarta tidaklah sama. Saat-saat seperti itu, kota terkutuk ini masih berderap-derap. Bus-bus kota bersicepat menembus gelap. Masih banyak orang-orang yang berhamburan dari gedung-gedung tinggi bagaikan ribuan semut keluar dari sarangnya.

Wajah-wajah ayu tapi kuyu. Paras-paras lelah duduk terkantuk-kantuk. Pikiran mereka melayang entah ke mana. Mengawang-awang, melamun, tak tahu sedang memikirkan siapa. Pekerjaan, orang-orang di kantor dan di rumah, bos, selingkuhan, siapa tahu?

Di saat subuh menjelang, Jakarta dan daerah di sekelilingnya mulai menggeliat dalam langkahnya yang cepat. Bangkit sepagi mungkin dan memulai perjuangan membelah kemacetan yang menggila. Berpeluh dan mengeluh.

Dan 540 kilometer jauhnya di tenggara ibukota, orang-orang masih terlelap tidur dibuai sisa mimpi semalam. Terbangun dan menguap, menikmati sarapan pagi.

Tapi ini bukanlah dikotomi tentang rural atau metropolis, maju atau tidak maju, modern atau terbelakang. Ini adalah tentang bagaimana budaya sebuah kota. Jakarta yang selalu terburu dan Yogya yang pelan mengalun.

Jakarta tentu tidak sama dengan Yogya. Adalah terlalu naif bila menganggap dua kota itu bisa dibandingkan satu dan yang lainnya. Saya tahu betul itu, meski di dalam hati saya (sudah) merindukan Yogya (lagi).

Kemarin malam, dari sebuah ruangan berpendingin yang nyaman di lantai delapan sebuah gedung mewah di pusat Jakarta, tiba-tiba saya teringat Soekarno.

(Foto: Crack Palinggi/Reuters)

Terlambat Itu (Kadang) Menyenangkan

Terlambat. Sebuah kata yang mungkin sangat dibenci oleh begitu banyak orang. Namun sayangnya, kata terlambat ini bisa jadi adalah sebuah kosakata yang akrab dengan keseharian rakyat Indonesia.

Pegawai negeri yang terlambat, kuli swasta yang telat, jadwal kereta api yang ngaret, keberangkatan pesawat yang molor, dan berbagai macam keterlambatan-keterlambatan lain ada di negeri ini.

Tapi, pernahkah Anda merasa bahwa terlambat itu kadang menyenangkan? :D

Itulah yang terjadi pada saya sore ini. Jadwal pesawat yang akan saya tumpangi dari Jakarta ke Jogja adalah jam 17.30. Yang menjadi persoalan, saya baru keluar kantor di kawasan Warung Buncit jam 3 sore.

Bayang-bayang keterlambatan dan ketinggalan pesawat makin terasa saat bus bandara yang saya naiki baru berangkat dari Blok M jam 4 kurang. Itu pun masih ditambah macet hampir di sepanjang jalan Sudirman. Makanya, dalam hati saya berdoa kuat-kuat, semoga pesawat yang mau membawa saya terlambat! Dan semoga ada juga orang-orang yang seperti saya ini dan kemudian memanjatkan doa yang sama.

Pukul 17.15, saya baru sampai Soekarno-Hatta. Mampus, pikir saya. Saya 50% yakin bahwa saya bakal ditolak naik. Bahkan kalau saja saya pakai Garuda (dan kenyataannya tidak), keyakinan bahwa saya bakal ditinggal naik jadi 90%.

Tapi syukurlah. Thank God! Alhamdulillah! Haleluia! Doa saya sepertinya didengar Tuhan  dan petugas di tempat check-in minta saya untuk tidak terburu-buru karena pesawatnya terlambat! Sangat jarang saya mensyukuri sebuah keterlambatan. Yang pasti, saat itu adalah salah satunya. Thank God I’m living in Indonesia. Seandainya saja saya tinggal di Eropa yang super-disiplin, sudah pasti saya bakal gigit jari karena ketinggalan kereta pesawat.

Keterlambatan yang tadinya saya syukuri perlahan berubah menjadi menyebalkan! Mungkin Tuhan terlalu berlebihan dalam mengabulkan permintaan (aneh) saya. Pesawat Adam Air jurusan Jakarta-Jogja dijadwal ulang baru terbang jam 19.10. Seperti juga jamaknya manusia, saya yang tadi senyam-senyum jadi berubah kepingin misuh-misuh. Dasar menungso! Mbatin saya.

Untunglah pihak maskapai sedikit tanggap sama keterlambatan itu. Mereka berinisiatif membagi-bagikan roti bun produknya Roti boy masing-masing satu biji ke setiap penumpang (ditambah segelas air 200ml). Saya yang sudah mulai ngomel-ngomel, jadi merasa geli sendiri.

Lho kok geli? Emang ada yang lucu? Lha iya, maskapai murah kan penerbangannya no frills. Alias gak pake snek, apalagi makan. Yang ada cuman minuman air putih digelasin, trus dikasih label oranye. Makanya, saat mereka bagi-bagi roti, rasanya sedikit lucu juga. Jadi saya naik penerbangan yang bukan lagi no-frills dong? Hehehehe. Lumayanlah. Walaupun cuman seharga 5.000-7.000 perak, sepertinya taktik mereka meredam kekesalan penumpang cukup berhasil.

Daaaan…. what a day. Ini dia gong cerita kali ini. Guess what? Saya melihat Om Roy Sukro masuk ke ruang tunggu yang sama dengan saya! Aih, aih… Ternyata Om Pakar 68% ini mau ke Jogja juga rupanya. Wahahahaha. Apakah saya pakai histeris teriak-teriak gitu? Hahahaha. Dalam hati saja deh. Nanti saya bisa-bisa dianggap norak sama penumpang lain.

Alhamdulillah, meskipun saya sepesawat sama Om Roy, pesawat yang saya (kami?) tumpangi tidak meledak di udara. *mengelus dada* Meskipun cuaca nggak terlalu bagus dan bikin pesawat jadi sedikit bumpy, toh akhirnya saya tiba dengan selamat (tiba dengan Selamat, atau tiba dengan Om Roy ya? Bingung saya. :p) di Jogja.

Jogja, it feels like I’m leaving for a century. :D

Asian Cup Retrospective (2): We Were There

Saya belum pernah hadir langsung di stadion untuk nonton sepakbola. Tidak nonton klub, tidak juga tim nasional.Kali ini, saya tak mau kecolongan. Piala Asia di depan mata. Cari-cari informasi jadwal pertandingan dan tiket. Akhirnya, saya dan kawankawan saya sepakat buat nonton partai Indonesia vs Korea Selatan.

Jakarta 18 Juli 2007, setelah acara nggedabrus nggak karuan kopdar di Cibubur, saya meluncur kembali ke Jakarta (dengan diiringi doa jelek lewat SMS berbunyi: “Forza Korea!!!” dari seseorang :)) ). Gelora Bung Karno, here I come…

Tiba di depan GBK, atmosfernya sungguh luar biasa. Puluhan ribu manusia berkumpul untuk mendukung satu tim: Indonesia.

Foto 1: Saya dan Ipung di depan GBK

Masuk ke stadion, atmosfernya lebih membahana (pas nggak sih diksinya? :p). Hampir 90.000 pasang mata tumplek blek ke stadion yang berdiri tahun 1960 tersebut.

Foto 2: Puluhan ribu suporter Indonesia memadati Stadion GBK


Saat koor puluhan ribu manusia itu menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, saya merinding. Hati saya bergetar. Saya tidak tahu, apakah perasaan ini hanya menghinggapi saya yang baru kali pertama menginjakkan kaki di stadion, atau juga dirasakan puluhan ribu orang lainnya. Entahlah…

Foto 3: Koor 90 ribu manusia


Sepanjang pertandingan, para suporter terus berteriak, “Indonesia, Indonesia”. Ditimpahi tabuhan drum, stadion riuh rendah oleh suara suporter. Juga nyanyian, “Ayo, ayo Indonesia… Ku ingin, kita harus menang!”. Gelombang Mexican wave, lagi-lagi membuat saya merinding dan bergetar. Unbelieveable!

Foto 4: Saya juga ikut teriak


Meskipun akhirnya timnas Indonesia kalah 0-1 dari Korsel, saya nggak kecewa sudah jauh-jauh datang. Pengalaman sekali seumur hidup. Dalam 20 tahun, belum tentu atmosfer seperti ini bisa berulang lagi.

Foto 5, 6, 7: Wajah-wajah penonton yang kecewa


Setidaknya, bisa buat bahan cerita buat anak cucu saya nanti. “Bapakmu, dulu pas masih muda dan nggantheng-ngganthengnya, pernah nonton Piala Asia di stadion”.

Rasa sedih, kecewa, capek, tertutupi oleh eforia. Because, we were there!!!

Foto 8: Yes, we were there!!!

Halo Jakarta

Sudah lama sekali saya tidak ke Jakarta. Seingat saya, terakhir ke sana tahun 2004. Bareng rombongan gila main Kuis Siapa Berani (kuis yang sekarang sudah almarhum).

Saya berangkat dari Purwokerto tanggal 17 Juli malam menumpang KA Purwojaya. Ternyata, saya ingat-ingat lagi, terakhir kali saya ke Jakarta memakai KA adalah tahun 1996!! Saya ingat betul. 26 Juli 1996. Mengantar saudara yang mau berangkat ke Singapura lewat Soekarno-Hatta. 27 Juli, saat sedang di Gambir menunggu KA pulang ke Purwokerto, pecah kerusuhan 27 Juli yang tersohor itu.

Ternyata Purwojaya datang kepagian. Jadilah saya dijemput teman saya di Jatinegara jam 2.15 pagi. Huhu…

Ngapain sih saya bela-belain jauh-jauh klayapan ke rimba raya bernama Jakarta?

Alasan utama, tentu saja mau nonton bola. Partai Piala Asia antara Indonesia vs Korea Selatan di Stadion Gelora Bung Karno, 18 Juli 2007. (Tentang acara nonton bola ini, bakal saya tuliskan terpisah).

Ada juga tujuan lain yang nggak kalah serunya. Kopdar! Hahahaha…

Saya janjian mau ketemu Simbok Venus. Membalas budi baik beliau mengirim buku buat saya, jadi saya bawakan juga buku tipis, Pangeran Kecil. Simbok katanya mau ngajakin Bu Evy sama Lutfi. Kita janjian ketemu di Cibubur Junction. Bleh, jauhnya dari Jakarta. Sebenernya nggak juga ding karena saya mampir dulu di rumah sepupu yang juga tinggal di Cibubur. :D

Dari janjian jam 11, saya molor setengah jam. Maaf, soalnya harus nemenin sodara saya ngirim kitchen set ke pelanggannya. :D

Simbok nunggu di Olala Cafe. Sepanjang saya masih di jalan, Simbok beberapa kali SMS. “Kamu di mana? Aku dah nungguin kaya tante2 lg nungguin mangsa”. Kira-kira gitu deh. :))

Ternyata, Simbok bilang kalo Bu Evy nggak bisa dateng gara-gara lagi sibuk. It’s OK bu Evy, kapan-kapan lagi kan masih bisa. :D Nah, jadilah yang kopdar cuman saya, Simbok, sama Luthfi.

Nggak penting apa yang kami obrolin ditulis di sini. Wes to, percayalah, ndak mutu blas. :))

Saya kasih foto-fotonya aja. (So sorry kalo posting ini lumayan basi. Saya baru aja punya waktu buat nulis. Hehehe.)

Ini Luthfi
ini Simbok Venus
Panganane enak ta, Fi? ;))