Jogja: K Bunder, Modernisasi dan Kapitalisme

Ada yang membetot perhatian saya ketika saya berkunjung ke Jogja pekan ini, yaitu bermunculannya toko-toko berlambang huruf K yang dikelilingi lingkaran di beberapa tempat di kota yang menyenangkan ini. Toko, eh minimarket, ini berjualan non-stop alias buka 24 jam.

Dulu, toko-toko berbasis waralaba seperti ini cuma ada satu atau dua buah saja. Sekarang, contohnya di Jalan Sudirman saja, dalam jarak kurang dari 400 meter saja ada dua toko serupa. Satu terletak di sebelah timur sebuah restoran cepat saji (yang juga buka 24 jam) dan yang satunya hanya beberapa meter di timur Tugu.

Di Jogja, orang yang berjualan selama 24 jam bukanlah hal yang dianggap aneh. Nyaris di semua sudut, terutama di daerah kantong-kantong pondokan mahasiswa, ada yang namanya warung burjo alias bubur kacang ijo.

Kedai yang satu ini tak pernah libur; kecuali kalau penjualnya sakit atau mau mudik ke Kabupaten Kuningan di Jawa Barat sana.

Tapi menjamurnya toko K Bunder –demikian beberapa kali lidah saya yang suka keseleo melafalkan kata dalam bahasa Inggris menyebutnya– tidaklah sama dengan kehadiran kedai-kedai burjo yang dikerubuti mahasiswa kelaparan yang memesan seporsi indomie telur.

(Sebenarnya bukan hanya toko K Bunder yang menjamur, tapi juga minimarket-minimarket lain, yang meski tidak buka 24 jam, bahkan sanggup masuk hingga ke kampung-kampung yang aspalnya saja bolong di sana-sini.)

Seorang teman lama, seorang pemerhati gejala-gejala dan penanda kota amatiran dan sok tahu, angkat bicara ketika kami sedang duduk-duduk di angkringan menyeruput teh jahe hangat. “Itu adalah bagian dari the-so-called kemajuan alias modernisasi, mas.”

“Kemajuan yang berdasar pada kapital. Di mana mereka yang memiliki modal lebih lah yang akan bertahan di dunia konsumerisme seperti ini,”

“Lagipula, wajah pembeli di kota ini pun sudah banyak yang berubah. Mereka ndak lagi mau berpayah-payah memutari pasar yang becek dan pengap. Mereka maunya belanja yang praktis dan di tempat yang berpendingin udara; kalau perlu, belanjanya dilakukan jam dua pagi,” cerorosnya panjang.

Saya manggut-manggut saja. Tinggal hampir enam bulan di Jakarta membuat saya juga mulai memperhatikan fenomena semacam ini.

“Jogja itu lagi ingin memirip-miripkan diri dengan Jakarta, mas,” teman saya ini rupanya punya banyak pendapat untuk dimuntahkan.

“Cara mereka berbelanja cuma salah satunya. Yang lain-lain pun tak beda jauh. Inilah anak kandung dari yang namanya modernitas,” kali ini ada nada mengeluh di nada suaranya.

“Tak cuma toko non-stop, mas. Di sini juga sedang menjamur lapangan-lapangan futsal sintetis buat mereka yang ingin menggerakan raga. Apa ndak mirip Jakarta tuh?”

“Mirip Jakarta bagaimana? Bukannya berolahraga itu sehat” saya sedikit kesulitan mencerna kalimatnya.

“Ini soal ruang publik. Saya kok menilai tempat-tempat futsal itu bakal makin menggerogoti public space di sini. Kota makin sumpek, makin sedikit tempat terbuka yang bisa kita manfaatkan dengan gratis; untuk sekadar main sepakbola atau cuma nongkrong-nongkrong gojek kere guyon goblok,”

“Bermain futsal memang bisa bikin sehat mas. Tapi di sisi lain, jadinya nanti masyarakat bakal menilai kalau sudah ada lapangan futsal, maka lapangan sepakbola tak lagi dibutuhkan. Kalau mau berolahraga ya sana silahkan ke lapangan futsal berbayar, kira-kira begitu,”

“Dan ruang publik itu bukan cuma sekadar tempat berolahraga; apalagi dipandang berdasar gratis atau bayarnya,” ia melanjutkan bicaranya sebelum saya sempat menyela.

“Itu adalah tempat di mana pluralisme dan semangat egaliter dirayakan. Di ruang publik terbuka, ndak ada pembedaan kasta. Semua berkedudukan sama dan berhak menikmati sarana itu tanpa melihat tebal tipisnya dompet atau status sosial dan pendidikan mereka.”

“Sama juga dengan minimarket-minimarket-an itu mas. Saya rindu sama pasar. Sudah lama saya ndak belanja ke sana. Semoga saya salah mas, tapi saya punya ketakutan modernisasi ini bakal menelan Jogja,” katanya sambil menelan ludah.

Saya perlahan-lahan mulai bisa mengerti. Saya menarik nafas panjang sembari menyomot pisang goreng hangat di depan saya. Diam-diam, saya setuju dengan dia.

Catatan: Foto ini bukan toko K Bunder di Jogja, ini saya colong dari blog.roogles.com

Iklan

Jakarta, Jakarta

kereta-reu-palinggi.jpg

Ketika saya harus meninggalkan Yogyakarta pekan lalu, saya merasa bahwa langkah saya biasa-biasa saja. Enteng tidak, berat pun saya kira bukan. Ya, saya pada akhirnya harus pergi dari kota yang sudah saya tinggali semenjak empat setengah tahun lalu.

Pada akhirnya, saya sudah terdampar di sini, di sebuah kota yang pengap bernama Jakarta.

Jakarta modern adalah sebuah kota yang lahir dari rahim ambisi seorang insinyur-cum-negarawan bernama Soekarno.

Seperti digambarkan oleh Christopher Koch dalam bukunya A Year of Living Dangerously, Jakarta diciptakan Soekarno untuk menjadi sebuah ibukota dunia yang kelak akan mahsyur. Kota yang tak kalah gemerlap dari New York, tak kurang indah dari Barcelona (buat seseorang yang akan segera ke Barcelona, tolong periksa setiap jengkal keindahannya ya? Would you?:) ) atau Paris. (Meski sang Bung akan selalu melewatkan akhir pekannya di selatan Jakarta, tepatnya di Bogor).

Jakarta, selain gemerlap, juga menyimpan keresahannya sendiri. Dan tentu saja, ia berbeda dan bertolak belakang dari Yogyakarta.

Pukul sembilan malam di Yogya adalah waktu untuk keluarga. Pada jam-jam ini, keluarga berkumpul di depan ruang televisi. Suami-istri menggusah anak tunggal mereka untuk segera tidur dan mereka akan larut dalam aktivitas mereka sendiri. Entah itu melanjutkan nonton teve sembari menyeruput teh hangat, bercengkerama atau bahkan bersenggama.

Di sana, malam adalah saatnya para kuli (seperti saya) serta mahasiswa-mahasiswa tua maupun muda merehatkan badan yang sudah sayah. Duduk-duduk di warung angkringan, menikmati kopi atau teh jahe. Membiarkan malam berlalu perlahan dalam hembusan asap dari tembakau yang dibakar.

Tapi Jakarta tidaklah sama. Saat-saat seperti itu, kota terkutuk ini masih berderap-derap. Bus-bus kota bersicepat menembus gelap. Masih banyak orang-orang yang berhamburan dari gedung-gedung tinggi bagaikan ribuan semut keluar dari sarangnya.

Wajah-wajah ayu tapi kuyu. Paras-paras lelah duduk terkantuk-kantuk. Pikiran mereka melayang entah ke mana. Mengawang-awang, melamun, tak tahu sedang memikirkan siapa. Pekerjaan, orang-orang di kantor dan di rumah, bos, selingkuhan, siapa tahu?

Di saat subuh menjelang, Jakarta dan daerah di sekelilingnya mulai menggeliat dalam langkahnya yang cepat. Bangkit sepagi mungkin dan memulai perjuangan membelah kemacetan yang menggila. Berpeluh dan mengeluh.

Dan 540 kilometer jauhnya di tenggara ibukota, orang-orang masih terlelap tidur dibuai sisa mimpi semalam. Terbangun dan menguap, menikmati sarapan pagi.

Tapi ini bukanlah dikotomi tentang rural atau metropolis, maju atau tidak maju, modern atau terbelakang. Ini adalah tentang bagaimana budaya sebuah kota. Jakarta yang selalu terburu dan Yogya yang pelan mengalun.

Jakarta tentu tidak sama dengan Yogya. Adalah terlalu naif bila menganggap dua kota itu bisa dibandingkan satu dan yang lainnya. Saya tahu betul itu, meski di dalam hati saya (sudah) merindukan Yogya (lagi).

Kemarin malam, dari sebuah ruangan berpendingin yang nyaman di lantai delapan sebuah gedung mewah di pusat Jakarta, tiba-tiba saya teringat Soekarno.

(Foto: Crack Palinggi/Reuters)

Terlambat Itu (Kadang) Menyenangkan

Terlambat. Sebuah kata yang mungkin sangat dibenci oleh begitu banyak orang. Namun sayangnya, kata terlambat ini bisa jadi adalah sebuah kosakata yang akrab dengan keseharian rakyat Indonesia.

Pegawai negeri yang terlambat, kuli swasta yang telat, jadwal kereta api yang ngaret, keberangkatan pesawat yang molor, dan berbagai macam keterlambatan-keterlambatan lain ada di negeri ini.

Tapi, pernahkah Anda merasa bahwa terlambat itu kadang menyenangkan? 😀

Itulah yang terjadi pada saya sore ini. Jadwal pesawat yang akan saya tumpangi dari Jakarta ke Jogja adalah jam 17.30. Yang menjadi persoalan, saya baru keluar kantor di kawasan Warung Buncit jam 3 sore.

Bayang-bayang keterlambatan dan ketinggalan pesawat makin terasa saat bus bandara yang saya naiki baru berangkat dari Blok M jam 4 kurang. Itu pun masih ditambah macet hampir di sepanjang jalan Sudirman. Makanya, dalam hati saya berdoa kuat-kuat, semoga pesawat yang mau membawa saya terlambat! Dan semoga ada juga orang-orang yang seperti saya ini dan kemudian memanjatkan doa yang sama.

Pukul 17.15, saya baru sampai Soekarno-Hatta. Mampus, pikir saya. Saya 50% yakin bahwa saya bakal ditolak naik. Bahkan kalau saja saya pakai Garuda (dan kenyataannya tidak), keyakinan bahwa saya bakal ditinggal naik jadi 90%.

Tapi syukurlah. Thank God! Alhamdulillah! Haleluia! Doa saya sepertinya didengar Tuhan  dan petugas di tempat check-in minta saya untuk tidak terburu-buru karena pesawatnya terlambat! Sangat jarang saya mensyukuri sebuah keterlambatan. Yang pasti, saat itu adalah salah satunya. Thank God I’m living in Indonesia. Seandainya saja saya tinggal di Eropa yang super-disiplin, sudah pasti saya bakal gigit jari karena ketinggalan kereta pesawat.

Keterlambatan yang tadinya saya syukuri perlahan berubah menjadi menyebalkan! Mungkin Tuhan terlalu berlebihan dalam mengabulkan permintaan (aneh) saya. Pesawat Adam Air jurusan Jakarta-Jogja dijadwal ulang baru terbang jam 19.10. Seperti juga jamaknya manusia, saya yang tadi senyam-senyum jadi berubah kepingin misuh-misuh. Dasar menungso! Mbatin saya.

Untunglah pihak maskapai sedikit tanggap sama keterlambatan itu. Mereka berinisiatif membagi-bagikan roti bun produknya Roti boy masing-masing satu biji ke setiap penumpang (ditambah segelas air 200ml). Saya yang sudah mulai ngomel-ngomel, jadi merasa geli sendiri.

Lho kok geli? Emang ada yang lucu? Lha iya, maskapai murah kan penerbangannya no frills. Alias gak pake snek, apalagi makan. Yang ada cuman minuman air putih digelasin, trus dikasih label oranye. Makanya, saat mereka bagi-bagi roti, rasanya sedikit lucu juga. Jadi saya naik penerbangan yang bukan lagi no-frills dong? Hehehehe. Lumayanlah. Walaupun cuman seharga 5.000-7.000 perak, sepertinya taktik mereka meredam kekesalan penumpang cukup berhasil.

Daaaan…. what a day. Ini dia gong cerita kali ini. Guess what? Saya melihat Om Roy Sukro masuk ke ruang tunggu yang sama dengan saya! Aih, aih… Ternyata Om Pakar 68% ini mau ke Jogja juga rupanya. Wahahahaha. Apakah saya pakai histeris teriak-teriak gitu? Hahahaha. Dalam hati saja deh. Nanti saya bisa-bisa dianggap norak sama penumpang lain.

Alhamdulillah, meskipun saya sepesawat sama Om Roy, pesawat yang saya (kami?) tumpangi tidak meledak di udara. *mengelus dada* Meskipun cuaca nggak terlalu bagus dan bikin pesawat jadi sedikit bumpy, toh akhirnya saya tiba dengan selamat (tiba dengan Selamat, atau tiba dengan Om Roy ya? Bingung saya. :p) di Jogja.

Jogja, it feels like I’m leaving for a century. 😀

Aku Selingkuh

Beberapa hari belakangan ini, hal-hal seputar kopi mengelilingi saya.

Ada seorang kolumnis yang sangat mencintai kopi dan mempersembahkan sebuah tulisan yang indah kepada seorang peracik kopi. Seorang barista. Ketika saya tanya siapa sang barista, ia cuma berucap pendek: “ada deh…”, dengan penuh misteri.

Lalu, ada juga sahabat lama yang gemar sekali ngopi. Dia mengaku paling senang berkunjung ke rumah saya hanya buat nyeruput kopi. Bujangan yang satu ini sekarang sedang gemar membaca Filosofi Kopi (sebuah buku yang pencapaian literer dan estetiknya biasa saja, saya pikir). Saya yakin betul, gara-gara membaca buku karangan penulis perempuan satu itu, dia jadi kerap memasang avatar gambar secangkir kopi hitam di perpesanan Yahoo!-nya.

Sebenarnya, saya suka kopi dari kecil. Mencicipi pahit-manis minuman yang konon berasal dari sebuah negara di Afrika timur bernama Ethiopia ini, saya awali pada usia 11 atau 12. Kelas 6 SD, kira-kira.

Dulu saya hanya tahu kopi hitam alias kopi tubruk. Terbikin dari kopi yang disangrai sendiri oleh ibu saya. Kental. Dengan gula pasir ataupun gula kelapa, kopi bikinan tangan ibu saya ini sama enaknya.

Seperti ditulis Dee, kopi tubruk itu lugu dan sederhana. Tidak peduli penampilan serta kasar, tapi memiliki aroma tajam yang sangat nikmat.

Tapi semenjak kedatangan majalah gratisan ini, mulailah saya selingkuh dengan kopi jenis lain. Orang menyebutnya, espresso-based. Kopi yang coklat alih-alih hitam.

Latte, cappuccino, cappuccino Viennese-style, macchiato. Hanya sekedar menyebut nama-nama. Beberapa sudah saya cicipi. Kopi yang tidak lagi kasar dan sederhana. Lebih stylish, tampil lebih anggun. Kemasan menarik, dipadu dengan rasa yang tetap nikmat. Perpaduan yang sempurna, bukan?

Rupanya, perselingkuhan itu makin dalam. Saya terjebak dan tidak bisa lepas. Saya makin terobsesi dengan kopi espresso-based. Saya mencicip di sini dan di sana. Mencoba-coba jenis-jenis baru, membandingkan rasa dari satu coffeeshop dengan coffeeshop lainnya.

Di depan meja kerja, keterobsesian itu tak pudar. Saya mulai untuk menjelajahi jejaring web untuk mencari tahu bagaimana caranya meracik kopi selingkuh ini. Kemudian upaya untuk mencari tahu informasi tentang mesin espresso. Lalu membayangkan mampu membeli sebiji suatu saat kelak. Untuk dipakai di rumah. Agar kopi-kopi nikmat itu bisa menemani saya setiap hari. Entah kapan bisa terwujud, mengingat harga mesin-mesin itu yang masih cukup mahal.

Hingga kini, kerinduan akan kopi itu belum hilang. Sebuah Sabtu yang panjang sudah saya lewati tadi siang. Tapi sayang, tak ada secangkir kopi menemani saya malam ini…

——————————
PS, untuk seorang kawan:
Jadi, kapan kita ngopi? Segelas kopi panas akan menemani kita bicara panjang. Soal hidup, keragu-raguan dan perkara kegelisahan-kegelisahanmu itu. Masih menyitir Dee, di dalam kopi selalu terselip rasa pahit, sedikit ataupun banyak. Tak apalah. Bukankah hidup memang selalu seperti itu, kawan?

*Gambar dicolong dari sini

Satu Warsa Bencana Itu

Ah… satu warsa sudah. Gempa itu. Bencana, mimpi buruk itu. Pagi-pagi buta, kami diguncang keras. Dibangunkan dari lelap tidur kami. Berlarian, berhamburan menyelamatkan diri.

Bencana memang tak pernah bisa diduga. Saat itu, kamilah yang sedang disapa olehnya. Ia menerjang tak terhalang. Ia rontokkan rumah, gedung, juga sekolah. Ia remukkan temboktembok perkasa.


Lebih dari enam ribu nyawa terkorban. Puluhan ribu luka-luka. Ratusan ribu lainnya kehilangan atap tempatnya berteduh. Yang paling pedih, luka itu bagaikan menahun. Masih membekas di sanubari kita.

Ah… satu warsa sudah. Kita ditegur oleh-Nya. Bahwa kita hanya manusia. Lemah, tak berdaya. Kita kerapkali ditelan oleh kesombongan dan ego kita. Kita alpa. Kita lupa bagaimana cara menyapa tetangga, kita lupa bagaimana membantu orang-orang sekitar kita. Sang Khalik telah meminta kita menoleh.


Tapi satu warsa, dua tiga warsa, satu abad sekalipun, sepertinya tak berarti bila kita tak mengambil hikmah dari bencana.


Kini, saatnya kita bangkitkan Jogja. Jalin kebersamaan dengan lebih erat. Bahu membahu membangun Jogja menuju arah yang lebih baik.


Tak lupa teriring juga ucapan beribu terimakasih untuk semua yang telah sudi mengulurkan tangan. Hanya Tuhan yang bisa membalasnya.

Salam dari Jogja.