Setahun

Setelah setahun menjelajahi senti demi senti tanah Jakarta ini, kesimpulan saya tetap sama. Jakarta adalah sebuah jam besar yang tersusun dari jam-jam kecil yang selalu berdetak dan berderap di manapun dan kapanpun(*). Dan Jakarta hanya cocok sebagai tempat mencari uang, bukan untuk tempat tinggal yang ideal.

Masih sama dengan tahun lalu ketika saya menetapkan hati untuk mencoba mengadu peruntungan di sini. Jakarta masih macet dan banjir. Perilaku masyarakatnya juga masih gitu-gitu saja. Orang kaya pakai mobil mewah hobi melanggar, orang nggak kaya pake motor butut juga suka melanggar.

Jakarta adalah sebuah ironi peradaban.

(*)dari cerpen Langgam Urbana karya Beni Setia

Ibu

Ibu saya lahir 22 Desember 1958. Jadi kemarin, usianya tepat setengah abad. Sungguh sebuah kebetulan bila dia lahir tepat di Hari Ibu.

Seorang ibu yang lebih dari 25 tahun lalu mungkin pernah begitu patah semangat dan berduka kala dikabari oleh dokter kandungan bahwa janinnya telah mati di dalam kandungan, bahkan ketika belum dilahirkan.

Suaminya sudah membeli kain kafan dan mempersiapkan pemakaman si anak yang belum terlahirkan. Betapa berat cobaan untuk pasangan yang baru menikah beberapa bulan itu.

Tapi ternyata dokter itu salah. Anak ibu saya lahir dalam keadaan hidup dan sehat. Dan berkat asuhannya anak itu sekarang sudah berusia 25 tahun lewat serta sudah menyumbangkan satu cucu.

Anak ibu saya itu adalah saya sendiri.

Selain untuk ibu saya, ucapan selamat Hari Ibu juga layak saya haturkan kepada istri saya yang juga telah menjadi seorang ibu.

PS: Posting ini memang telat satu hari. Tapi apa boleh buat, saya bukan orang yang bergelimang benwit internet kala tidak berada di kantor.

Guru

Saat duduk di bangku SMU, saya pernah punya seorang guru yang cukup revolusioner. Dia guru yang jauh dari kata konvensional; baik dari cara mengajar dan bergaul dengan murid-muridnya.

Namanya adalah Tri Joko H (duh, saya lupa ini huruf H singkatan apa :D). Biasa dipanggil Pak TJ. Dia mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Dia adalah orang yang membuat nama Pramoedya Ananta Toer terdengar oleh telinga saya. Dia mengenalkan nama tokoh Raden Tirto Adhi Soerjo serta mengaitkannya dengan konteks sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Bukan sesuatu yang luar biasa pada saat ini barangkali. Tapi bayangkan hal itu terjadi pada tahun 1998.

Memang benar Soeharto sudah tidak lagi jadi Presiden RI. Namun kekuatan rezim Si Mbah ini belum lagi runtuh sepenuhnya (memang pernah runtuh ya?). Buku-buku Pram secara resmi masih dilarang beredar oleh Kejaksaan Agung. Selama rezim Orba, kata Pak TJ, buku itu beredar di bawah tanah.

Orang-orang masih terlalu takut untuk membaca buku-buku Pram. Takut tiba-tiba nanti diciduk aparat, lantas dituduh sebagai komunis. Sebuah hal yang pasti ingin dihindari siapapun kala itu.

Dari situlah, saya tahu tentang Pram dan kemudian mulai mencari tahu lebih banyak. Saya mulai ngeh siapa itu Pram dan mulai membaca karya-karyanya. Dan seperti orang-orang lain, siapa sih yang tidak mengakui bahwa karya Pram memang luar biasa?

Ada beberapa lagi cerita tentang Pak TJ yang fragmen-fragmennya terlintas samar-samar di kepala saya saat ini. Maklum, sudah satu dekade terlewat.

Tentu saja, Pak TJ bukanlah satu-satunya guru yang menorehkan kesan istimewa kepada saya. Guru-guru yang telah membimbing saya semenjak TK, SD, SMP, SMA (tak dilupakan pula para dosen di bangku kuliah), semuanya punya arti masing-masing bagi saya. Tak saya ceritakan bukan berarti mereka tak spesial.

Guru yang baik dan sabar dalam mengajar, guru yang galak dan penuh disiplin atau guru yang jadi ‘musuh bebuyutan’ semasa sekolah, semuanya punya tempat khusus di hati saya.

Note:
Postingan ini adalah untuk memperingati Hari Guru yang jatuh pada hari ini, 25 November. Sebuah hari yang barangkali takkan pernah bisa diperingati dengan sama gempitanya dengan Hari Kemerdekaan, Hari Pahlawan atau bahkan Hari Kesaktian Pancasila. Padahal, tanpa guru kita bukanlah siapa-siapa.

Terimakasih kepada rekan Zen, seorang mantan calon guru (hahahaha) yang sudah mengingatkan tentang Hari Guru ini. Simak juga posting Pito.

Too Hard to Chew

Sebetulnya, saya malas mengirim SMS ucapan Idul Fitri yang isinya templet. Tapi saya pikir nggak apa-apa juga lah. Hitung-hitung memanfaatkan pulsa yang numpuk nggak terpakai.

SMS yang saya kirim isinya begini kira-kira:

“Hore, besok/hari ini* sudah bisa makan siang-siang lagi, bisa pamer-pamer lagi, bisa foya-foya lagi, bisa bikin dosa-dosa lagi. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin.”

Yang mengejutkan, datang balasan dari teman kos** yang bunyinya kira-kira begini:

“Astaghfirullah. Hati-hati dengan apa yang kita niatkan. Semoga kita masih bisa menjumpai Ramadan.”

Saya terkesiap *halah*. Saya lantas berniat membalasnya dengan kalimat pendek: “too hard to chew?” tapi kemudian saya urungkan karena saya tak mau hanya gara-gara SMS merusak pertemanan dan persaudaraan.

Hanya saja dalam hati saya masih agak heran dengan reaksi orang itu. Is it really too hard to chew? Apa dia tidak pernah mendengar kata ‘ironi’ ya?

Anyway, selamat Idul Fitri lagi. Maafkan kesalahan-kesalahan saya.

*tergantung dikirim tanggal 30 September atau 1 Oktober
**seorang mahasiswa perguruan tinggi agama Islam yang berkiblat ke Arab Saudi, pernah sekolah di Mesir juga.

Benda Kenangan

Apa arti sebuah benda kenangan bagi Anda?

Beda orang, pasti akan berbeda pula jawaban yang muncul. Seorang teman pernah kehilangan ponselnya. Bukan soal harga ponsel yang menjadi penyebab dirinya menjadi sedikit bersedih. Menurutnya, ponsel itu memiliki kenangan karena melalui ponsel itu ia merayu seorang perempuan yang akhirnya menjadi pacarnya.

Saya juga pernah tinggal di sebuah rumah kos, di mana pemilik rumah kos itu tampaknya begitu mencintai benda-benda kenangan yang ia miliki. Pasalnya, di banyak sudut rumahnya, banyak berserak benda yang menurut saya tidak penting keberadaannya, seperti sebuah sepeda butut yang nyaris saya tabrak ketika saya lari terbirit-birit akibat guncangan gempa Jogja tahun 2006 lalu.

Benda lain yang disimpan bapak kos saya waktu itu adalah dua buah jip kuno (merk Jeep?). Salah satu jipnya masih bisa jalan dengan baik meski suaranya berisik. Sedangkan satu jip lagi sudah disfungsi. Kabinnya menjadi tempat penjual pecel lele yang mangkal setiap malam untuk menyimpan kursi-kursi tendanya di waktu siang.

Lain lagi dengan seorang rekan yang lain yang merasa sedih ketika ia harus menjual mobilnya. Bukan karena ia bangkrut dan kere, tapi karena ia akan membeli ganti berupa mobil yang lebih baru. Ia murung karena mobil itu dibelinya dengan hasil keringatnya sendiri bekerja bertahun-tahun.

Kadang perilaku-perilaku seperti yang saya sebut di atas sulit untuk dimengerti –termasuk oleh orang seperti saya. Kerap kali saya menggerutu karena sepeda bapak kos saya itu mengurangi lahan parkir buat sepeda motor anak-anak kos. Kadang saya juga kesal karena jip tua di depan kos itu merusak pemandangan.

Tapi nilai setiap benda memang hidup di benak dan hati masing-masing. Barang yang bagi orang lain tampak tak memiliki makna, di mata orang lainnya lagi membangkitkan banyak memori.

Sebatang ponsel mungkin tidak membawa pengaruh apapun terhadap keberhasilan seorang pria mencuri hati perempuan (karena yang dipakai adalah fungsinya untuk berbicara, bukan tampilannya atau harganya yang mahal). Tapi cobalah mengerti ketika pria dan si perempuan itu saling bertukar gombalan cinta atau malah saling memaki karena bertengkar. Melankolis sekali bukan?

Sebuah mobil butut tentu kalah nyaman dinaiki ketimbang mobil yang lebih baru. Namun coba bayangkan ketika rekan saya tadi bekerja keras setiap hari dan menabung setiap sen gajinya demi membeli mobil dengan jerih payahnya sendiri. Bagi si pelaku, rasa kepuasannya barangkali tidak terperi dan terkatakan.

Itulah, setiap kenangan akan terus hidup dalam diri seorang manusia.

Note: Postingan ini untuk mengenang sepeda motor R 4621 DH yang sudah menemani saya selama delapan tahun. Motor ini pernah saya namai Mariana Renata :)) Sebelum berpisah, sebetulnya saya ingin mencuci dia, tapi ternyata tidak sempat. Maaf ya?

Jogja: K Bunder, Modernisasi dan Kapitalisme

Ada yang membetot perhatian saya ketika saya berkunjung ke Jogja pekan ini, yaitu bermunculannya toko-toko berlambang huruf K yang dikelilingi lingkaran di beberapa tempat di kota yang menyenangkan ini. Toko, eh minimarket, ini berjualan non-stop alias buka 24 jam.

Dulu, toko-toko berbasis waralaba seperti ini cuma ada satu atau dua buah saja. Sekarang, contohnya di Jalan Sudirman saja, dalam jarak kurang dari 400 meter saja ada dua toko serupa. Satu terletak di sebelah timur sebuah restoran cepat saji (yang juga buka 24 jam) dan yang satunya hanya beberapa meter di timur Tugu.

Di Jogja, orang yang berjualan selama 24 jam bukanlah hal yang dianggap aneh. Nyaris di semua sudut, terutama di daerah kantong-kantong pondokan mahasiswa, ada yang namanya warung burjo alias bubur kacang ijo.

Kedai yang satu ini tak pernah libur; kecuali kalau penjualnya sakit atau mau mudik ke Kabupaten Kuningan di Jawa Barat sana.

Tapi menjamurnya toko K Bunder –demikian beberapa kali lidah saya yang suka keseleo melafalkan kata dalam bahasa Inggris menyebutnya– tidaklah sama dengan kehadiran kedai-kedai burjo yang dikerubuti mahasiswa kelaparan yang memesan seporsi indomie telur.

(Sebenarnya bukan hanya toko K Bunder yang menjamur, tapi juga minimarket-minimarket lain, yang meski tidak buka 24 jam, bahkan sanggup masuk hingga ke kampung-kampung yang aspalnya saja bolong di sana-sini.)

Seorang teman lama, seorang pemerhati gejala-gejala dan penanda kota amatiran dan sok tahu, angkat bicara ketika kami sedang duduk-duduk di angkringan menyeruput teh jahe hangat. “Itu adalah bagian dari the-so-called kemajuan alias modernisasi, mas.”

“Kemajuan yang berdasar pada kapital. Di mana mereka yang memiliki modal lebih lah yang akan bertahan di dunia konsumerisme seperti ini,”

“Lagipula, wajah pembeli di kota ini pun sudah banyak yang berubah. Mereka ndak lagi mau berpayah-payah memutari pasar yang becek dan pengap. Mereka maunya belanja yang praktis dan di tempat yang berpendingin udara; kalau perlu, belanjanya dilakukan jam dua pagi,” cerorosnya panjang.

Saya manggut-manggut saja. Tinggal hampir enam bulan di Jakarta membuat saya juga mulai memperhatikan fenomena semacam ini.

“Jogja itu lagi ingin memirip-miripkan diri dengan Jakarta, mas,” teman saya ini rupanya punya banyak pendapat untuk dimuntahkan.

“Cara mereka berbelanja cuma salah satunya. Yang lain-lain pun tak beda jauh. Inilah anak kandung dari yang namanya modernitas,” kali ini ada nada mengeluh di nada suaranya.

“Tak cuma toko non-stop, mas. Di sini juga sedang menjamur lapangan-lapangan futsal sintetis buat mereka yang ingin menggerakan raga. Apa ndak mirip Jakarta tuh?”

“Mirip Jakarta bagaimana? Bukannya berolahraga itu sehat” saya sedikit kesulitan mencerna kalimatnya.

“Ini soal ruang publik. Saya kok menilai tempat-tempat futsal itu bakal makin menggerogoti public space di sini. Kota makin sumpek, makin sedikit tempat terbuka yang bisa kita manfaatkan dengan gratis; untuk sekadar main sepakbola atau cuma nongkrong-nongkrong gojek kere guyon goblok,”

“Bermain futsal memang bisa bikin sehat mas. Tapi di sisi lain, jadinya nanti masyarakat bakal menilai kalau sudah ada lapangan futsal, maka lapangan sepakbola tak lagi dibutuhkan. Kalau mau berolahraga ya sana silahkan ke lapangan futsal berbayar, kira-kira begitu,”

“Dan ruang publik itu bukan cuma sekadar tempat berolahraga; apalagi dipandang berdasar gratis atau bayarnya,” ia melanjutkan bicaranya sebelum saya sempat menyela.

“Itu adalah tempat di mana pluralisme dan semangat egaliter dirayakan. Di ruang publik terbuka, ndak ada pembedaan kasta. Semua berkedudukan sama dan berhak menikmati sarana itu tanpa melihat tebal tipisnya dompet atau status sosial dan pendidikan mereka.”

“Sama juga dengan minimarket-minimarket-an itu mas. Saya rindu sama pasar. Sudah lama saya ndak belanja ke sana. Semoga saya salah mas, tapi saya punya ketakutan modernisasi ini bakal menelan Jogja,” katanya sambil menelan ludah.

Saya perlahan-lahan mulai bisa mengerti. Saya menarik nafas panjang sembari menyomot pisang goreng hangat di depan saya. Diam-diam, saya setuju dengan dia.

Catatan: Foto ini bukan toko K Bunder di Jogja, ini saya colong dari blog.roogles.com

Cinta yang Tak Berbalas

“Kecintaan seseorang terhadap negerinya tidak selalu mendapatkan balasan,” ucap Michael Brin suatu ketika pada tahun 1979.

Ungkapan itu saya baca dari sebuah buku berjudul ‘Kisah Sukses Google’ yang ada di samping saya. Kutipan dari Brin itu saya baca beberapa minggu lalu.

Saya tak tahu bagaimana cara Brin mengucapkan kalimat itu, juga emosi dan perasaannya saat itu. Di tengah Uni Sovyet yang tenah bergelora dengan semangat anti-Semit, orang-orang seperti Brin memang bagai tak mendapat tempat di sana.

Brin mengucapkan kalimat itu dan kemudian ia membawa seluruh anggota keluarganya pergi dari negeri yang tengah bergejolak itu.

Kisah tentang keluarga Brin selanjutnya adalah sejarah. Sergey, salah satu anak Michael Brin, dalam usia 25 tahun atau nyaris dua dekade setelah minggat dari Sovyet, mendirikan Google bersama Larry Page. Sergey menciptakan Google dari Amerika.

Beberapa hari setelah membaca kutipan Brin itu, saya berbincang dengan seorang atasan di kantor. Ada kalimatnya yang menggelitik pikiran saya. Ia berucap, “Saya sudah tidak punya nasionalisme, karena nasionalisme saya kini hanya untuk AC Milan.”

Saya tak sanggup tertawa. Dia terlihat serius betul saat mengucapkannya.

Kemudian, kami banyak ngobrol-ngobrol tentang sebuah perkara yang mengguncang negeri ini beberapa hari belakangan. Kisah memalukan seorang jaksa yang menerima uang berjumlah Rp 6 milyar –sangat layak diduga sebagai duit suap.

Cerita yang sungguh mengenaskan, bukan karena jaksanya belum sempat menikmati hasil korupsi (karena ketahuan). Menyedihkan sekaligus membuat geram karena inilah wajah bopeng negeri saya. Sebuah negeri yang sudah tidak memiliki tatanan lagi. Bukan hukum, yang pantas dipatuhi barangkali adalah materi.

Pikiran lama saya timbul kembali. Ide itu, ide untuk berpindah kewarganegaraan, melintas lagi di benak saya.

Bukan. Bukan karena nasionalisme saya kini hanya tersisa untuk Manchester United. Tidak pula karena saya sudah tidak mencintai negeri di mana saya telah menghirup udara, meminum air dan memberaki tanahnya selama seperempat abad ini. Bukan, bukan karena itu.

Jawaban yang saya pikir paling mendekati adalah karena kecintaan saya terhadap negeri ini tidak selalu mendapatkan balasan.

Seperti orang-orang bilang, hidup itu suatu pilihan. Andai saya bisa memilih, saya pilih hijrah saja dari sini. Namun sayang seribu sayang, pilihan itu tidak sedang tersaji di hadapan saya saat ini.

Putus asa? Mungkin. Pengecut? Oportunis? Barangkali benar. Silakan, pilihkan satu kata saja buat menilai saya.