Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘sepakbola’

Wenger

Juni 14, 2009

aryawenger

Dahinya berkerut; seperti biasa. Tetapi wajah itu tidak memperlihatkan keseriusan dalam tingkat yang sama dengan yang sering saya saksikan melalui tabung kaca televisi. Kalimatnya hangat dan ramah.

Dialah Arsene Wenger. Memakai kaos putih, celana pendek hitam dan sepatu kets, dia melayani wawancara dari tiga pewarta Indonesia, ditambah dua orang pendamping dari penaja.

Kami bertanya, ia menjawab. Ia tak terlalu terkejut ketika tahu bahwa klubnya, Arsenal, dan Liga Inggris adalah tontonan yang sangat populer di sini. Tapi tampaknya ia cukup kaget saat tahu negeri ini punya 220 juta penduduk.

Ia pun bicara soal sepakbola dunia, soal filosofinya dalam bersepakbola, perihal identitas kebangsaan. Ah sayang saya lupa menanyakan bahasa apa yang ia pakai di ruang ganti Emirates.

Pembicaraan di antara kami pun mengalir. Waktu 10 menit –dari seharusnya 15 menit, tapi dipotong gara-gara durasi acara molor– terasa begitu cepat dan setelah berfoto beberapa bingkai, kami pun harus pergi.

Arsenal bukanlah klub idola saya. Tetapi andai saya tidak menggemari Manchester United, mungkin saya akan jatuh cinta kepada ‘Gudang Peluru’ dari London utara itu karena saya mengagumi cara mereka bersepakbola.

Di bawah Wenger, Arsenal adalah tim yang punya filosofi ‘menyerang adalah pertahanan terbaik’. Wenger, pemilik gelar insinyur dan master ekonomi, juga gemar merekrut anak-anak muda dari berbagai penjuru dunia ke dalam timnya.

Memang, sudah empat tahun ini gaya itu tidak berhasil menghadirkan satu pun silverware ke markas Arsenal. Tetapi Wenger adalah seorang idealis. Keyakinannya pada filosofi yang ia imani tidak luntur hanya karena kering prestasi.

Wenger berada di kutub berbeda dengan seorang manajer yang barangkali tega ‘memarkir 11 bus’ di depan gawang timnya hanya agar timya tidak kalah.

Wenger dan Arsenalnya juga tidak sama dengan klub yang sanggup menggelontorkan puluhan juta poundsterling (barangkali dengan cara ngutang) untuk mendatangkan pemain-pemain berlabel super bintang.

Tapi di mata saya, Wenger juga punya sebuah idealisme yang tak bisa saya pahami. Dalam keyakinannya, Wenger menganggap bahwa identitas tidaklah given; ia tidak tergantung kepada lokasi di mana Anda dilahirkan. Bagi Wenger, identitas adalah sebuah proses.

Untuk Wenger, seorang Prancis tetap bisa punya identitas Inggris, seorang India bisa punya identitas Amerika, atau malah seorang Spanyol bisa punya identitas Indonesia.

Karenanya, Arsenal cuma punya segelintir pemain asli Inggris. Yang lainnya datang mulai dari sudut kumuh Pantai Gading, dataran Rusia yang bersalju, Spanyol yang bermandi matahari hingga ke Brasil yang gegap gempita.

Bagi saya, identitas tetap saja terkiat kepada akar di mana Anda tumbuh. Sebuah klub Inggris punya identitas dan tradisi yang tidak akan pernah secara utuh dipahami oleh orang Amerika Latih, misalnya.

Tapi saya bukanlah seorang manajer terkenal dengan tiga titel Premiership di curriculum vitae. Jadi kalau Wenger bisa mengucapkan argumentasinya di hadapan ribuan pewarta dari seluruh penjuru dunia, saya cukup menulisnya di sini saja.

Ya kan?

Nasib

November 22, 2007

Apa itu nasib? Bakal banyak jawaban yang muncul jika pertanyaan itu diajukan. Nasib adalah sebuah konsep abstrak yang kerap kali tidak bisa dimengerti oleh manusia. Tak jarang pula, nasib disalahmengerti.

Sebagian orang percaya bahwa determinan nasib seorang manusia ada pada diri manusia itu sendiri. Sementara sebagian yang lain meyakini bahwa kuasa atas nasib berada di luar jangkauan indrawi manusia.

Tidak, saya tidak sedang mau berkhotbah mengenai teori siapa yang benar. Saya tidak akan berpanjang lebar mendebatkan pendapat mana yang lebih bisa diterima (meski saya memiliki keyakinan sendiri yang, tentu saja, tidaklah penting bagi Anda).

Saat ini, absurditas nasib mungkin akan benar-benar dipahami oleh dua orang: Guus Hiddink dan Steve McClaren. Penghayatan mengenai nasib memang bisa datang melalui apa saja, termasuk sepakbola.

Nama yang pertama adalah seorang lelaki Belanda yang menjadi juru latih kesebelasan Rusia. Penampilannya meyakinkan. Wajahnya ramah dan menyimpan ketenangan bagaikan ombak laut utara di musim panas. Namun ia juga dingin, sedingin hujan salju menggigit yang jatuh di pelataran Kremlin.

Sedangkan nama kedua adalah peracik strategi kesebelasan Inggris. Ia Englishman asli. Ia masih muda dan enerjik. Ia cukup berpengalaman, namun sebatas menjadi orang kedua. McClaren memang pernah melewatkan banyak tahun menjadi tangan kanan Sir Alex Ferguson di Manchester United. Sebagai orang nomor satu, McClaren baru pernah menjadi nahkoda Middlesbrough. Klub medioker dari Inggris tengah itu pernah dibawanya ke final Piala UEFA, taman bermain nomor dua Eropa.

10 Oktober lalu, Rusia dan Inggris bertempur di penyisihan Piala Eropa 2008. Di bawah balutan cuaca dingin Moskow dan lapangan buatan di Luzhniki yang tak lazim, Inggris dikalahkan Rusia 2-1. Barangkali, saat itu Hiddink tengah tersenyum puas di depan kecutnya McClaren.

Pendulum nasib memihak kepada Hiddink. Pasukannya berada di atas angin untuk menuju ke Austria-Swiss, dua negara tuan rumah Euro.

Satu bulan berikutnya, keseimbangan pendulum itu berbalik arah mendekati McClaren. Hiddink meratapi kekalahan Rusia di tangan Israel dengan angka 1-2. Pertarungan di Tel Aviv, sebuah kota yang memiliki sejarah konflik panjang, 17 November itu benar-benar bagai palu godam buat Hiddink. Situasi berubah 180 derajat, dan ini tentu membuat senyum McClaren mengembang.

Hiddink pasrah. Ia orang yang mendua. Di satu sisi ia percaya bahwa nasib timnya ada di tangan 11 pemain yang ia turunkan ke lapangan saat meladeni Andorra. Namun ia juga tahu bahwa nasib tim yang diasuhnya juga tergantung kepada apa yang terjadi jauh di London sana, saat Inggris menghadapi Kroasia.

2×45 menit di dua tempat sudah dilangsungkan. Hasilnya, Hiddink membawa Rusia menang 1-0. Sebaliknya, di Wembley baru yang megah itu, McClaren harus meratapi kekalahan timnya 2-3 sekaligus mengubur mimpinya melaju ke Austria-Swiss. Hiddink menjadi orang terakhir yang bisa tertawa.

Nasib memang tidak bisa diduga. Tak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi hingga itu benar-benar terjadi. Itulah yang dialami McClaren dan Hiddink malam tadi. McClaren berubah dari seorang manajer tim yang diunggulkan menjadi pencundang. Sementara Hiddink berganti dari seorang yang tengah terpojok menjadi pahlawan. Semuanya terjadi hanya dalam waktu 90 menit. Menakjubkan? Itulah nasib.

Astro Sialan!!!

Agustus 12, 2007

Gara-gara Astro nih, jadi nggak bisa leha-leha-malem-mingguan-di-kos-ongkang-ongkang-kaki-nonton-EPL!

Kemarin, hati saya udah riang gembira ngliat tivi kabel di kantor yang dicolok dari provider lokal nyiarin Sunderland vs Tottenham (hasil akhir 1-0, yeah Roy Keane rocks!!). Akhirnya, saya bisa juga nonton satu diantara sedikit acara di tivi yang bermutu.

Hari ini, pulang KKN jam 5 sore. Ngorok dulu ngumpulin tenaga buat kerja malam sambil nonton Manchester United vs Reading. Yah, bonusnya nonton Arsenal vs Fulham dan Chelsea vs Birmingham. Sambil berharap dua seteru besar klub favorit saya itu tumbang.

Jam 7 malam udah nyampe di kantor (maklum, kos saya kan di belakang kantor…ngesot aja nyampe, kok).

Lha dalah, ditunggu punya tunggu, kok ini channel Star Sports sama ESPN nggak ada bau-baunya Liga Inggris sama sekali? Malah adanya siaran bola penjol sama acara extreme games. Woi, bring me my EPL!!! Mana?????

Sialan nih, gara-gara Astro sialan!!! Meskipun ESPN-Star Sports (ESS) megang hak siar buat (hampir) seluruh Asia, ternyata siaran ke end-user yang senengnya nunut seperti saya mentok sama regulasi. Hee…wajar je, konon harganya 50 juta US Dolar. Ya tentu aja dia mau untung, sodara-sodara. Jadi, pelanggan tivi kabel non-Astro pun harus gigit jari ngeliat ESPN dan Star Sportsnya mejen nggak bisa nongolin aksi Cristiano Ronaldo sama Didier Drogba.

Pengen ngamuk sebenernya. Tapi, yah sudahlah, kayaknya memang saya harus rajin-rajin melototin Livescore! *sigh
——-
Logo taken from here. All copyrights belong to the respective owner

Asian Cup Retrospective (2): We Were There

Agustus 3, 2007

Saya belum pernah hadir langsung di stadion untuk nonton sepakbola. Tidak nonton klub, tidak juga tim nasional.Kali ini, saya tak mau kecolongan. Piala Asia di depan mata. Cari-cari informasi jadwal pertandingan dan tiket. Akhirnya, saya dan kawan-kawan saya sepakat buat nonton partai Indonesia vs Korea Selatan.

Jakarta 18 Juli 2007, setelah acara nggedabrus nggak karuan kopdar di Cibubur, saya meluncur kembali ke Jakarta (dengan diiringi doa jelek lewat SMS berbunyi: “Forza Korea!!!” dari seseorang :)) ). Gelora Bung Karno, here I come…

Tiba di depan GBK, atmosfernya sungguh luar biasa. Puluhan ribu manusia berkumpul untuk mendukung satu tim: Indonesia.

Foto 1: Saya dan Ipung di depan GBK

Masuk ke stadion, atmosfernya lebih membahana (pas nggak sih diksinya? :p). Hampir 90.000 pasang mata tumplek blek ke stadion yang berdiri tahun 1960 tersebut.

Foto 2: Puluhan ribu suporter Indonesia memadati Stadion GBK


Saat koor puluhan ribu manusia itu menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, saya merinding. Hati saya bergetar. Saya tidak tahu, apakah perasaan ini hanya menghinggapi saya yang baru kali pertama menginjakkan kaki di stadion, atau juga dirasakan puluhan ribu orang lainnya. Entahlah…

Foto 3: Koor 90 ribu manusia


Sepanjang pertandingan, para suporter terus berteriak, “Indonesia, Indonesia”. Ditimpahi tabuhan drum, stadion riuh rendah oleh suara suporter. Juga nyanyian, “Ayo, ayo Indonesia… Ku ingin, kita harus menang!”. Gelombang Mexican wave, lagi-lagi membuat saya merinding dan bergetar. Unbelieveable!

Foto 4: Saya juga ikut teriak


Meskipun akhirnya timnas Indonesia kalah 0-1 dari Korsel, saya nggak kecewa sudah jauh-jauh datang. Pengalaman sekali seumur hidup. Dalam 20 tahun, belum tentu atmosfer seperti ini bisa berulang lagi.

Foto 5, 6, 7: Wajah-wajah penonton yang kecewa


Setidaknya, bisa buat bahan cerita buat anak cucu saya nanti. “Bapakmu, dulu pas masih muda dan nggantheng-ngganthengnya, pernah nonton Piala Asia di stadion”.

Rasa sedih, kecewa, capek, tertutupi oleh eforia. Because, we were there!!!

Foto 8: Yes, we were there!!!

Asian Cup Retrospective (1): Mereka Yang Tak Ber-Tanah Air

Agustus 3, 2007

Bayangkan Anda adalah manusia yang tak memiliki tanah air. Mungkin, Anda tak mengenal kata “pulang”. Buat Anda, rumah adalah sesuatu yang jauh. Mengawang. Sekedar imajinasi kosong. Mengelana, mengembara. Lantas perlahan lupa kepada awal dari diri kita. Bila Anda ingin tahu contoh manusia-manusia yang tak ber-tanah air, lihatlah tim sepakbola Irak. Sungguh nelangsa.

Irak dengan gilang gemilang merebut Piala Asia 2007. Inilah kali pertama mereka merebut titel sepakbola paling bergengsi di Asia. Dalam partai final di Jakarta, Irak mengalahkan tetangganya, Arab Saudi 1-0.

Sebuah sundulan dari in-and-out leader mereka, kapten Younes Mahmoud Khalef, membungkam pasukan Rajawali Hijau Arab Saudi.

Keharuan tertangkap dari raut muka para pemain Irak. Mereka tentu saja teringat keadaan di kampung halaman mereka. Negeri yang tercabik-cabik perang. Bom bunuh diri, pembunuhan, dan penculikan terjadi di mana-mana. “Di Baghdad, Anda takkan tahu siapa yang akan membunuh Anda hari ini”, ucap seorang pemain.

Irak, mereka yang terfragmentasi, ternyata bisa memberi obat luka yang manis. Saya yakin, di dalam tim Irak, ada yang Sunni, ada yang Syiah, ada yang Kurdi, dan bahkan mungkin ada yang Kristen. Tapi mereka bersatu. Mereka maju dengan gagah berani. Dipimpin pria setengah baya, Jorvan Vieira yang Katolik.

Mereka tumbangkan satu dari banyak penjajah mereka, Australia. Mereka kalahkan lawan-lawan yang memiliki organisasi sepakbola lebih teratur. Mereka membungkam negeri-negeri makmur yang bergelimang dinar. Mereka pukul telak negara dengan pendapatan per-kapita jauh di atas mereka.

Irak memberi contoh nyaris sempurna tentang apa itu arti persatuan.

Tapi pedih. Para pahlawan rakyat itu tak bisa berpesta di negeri sendiri. Karena pertimbangan keamanan, Irak menggelar perayaan di Dubai, Uni Emirat Arab dan bukan di Baghdad, Basra, atau kota mana pun di Irak. Di antara gembira, ada kepedihan. Di tengah pesta, ada duka merayap di hati mereka.

Mereka tak bisa bersuka ria di depan para kerabat yang menunggu. Tak ada tukar peluk cium dengan rakyat yang sudah mendukung dan mendoakan mereka. Sedih? Pasti. Mereka adalah: yang tak ber-tanah air.

Foto: Ed Wray/AP


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.