Sembilan Hal yang Harus Dilakukan di Chicago

Chicago terngiang-ngiang di kepala gue sejak tahun 2011, ketika seorang wartawan Amerika bilang bahwa kota tercantik di Amerika bukanlah New York, tapi Chicago. Makanya, sehabis gue kelar dengan kerjaan Piala Dunia 2014 di Santa Monica, gue memutuskan untuk pergi ke Chicago.

Gue beli tiket pesawat American Airlines dari Bandara Internasional Los Angeles (LAX) ke Bandara O’Hare Chicago (ORD). Pagi-pagi tanggal 13 Juli 2014, gue berangkat ke LAX. Setelah melalui drama overweight koper dan melewati pemeriksaan ketat TSA, gue akhirnya terbang dan empat jam kemudian sudah mendarat di Chicago.

Waktu Chicago dua jam lebih awal dari Los Angeles. Karena terletak di wilayah utara Amerika, dan kebetulan berlokasi di tepian danau besar, maka cuaca Chicago sedikit lebih dingin. Sebagai gambaran, siang musim panas saja suhunya bisa 12-16 derajat Celcius.

Nah, berikut adalah 9 hal yang harus kamu lakukan kalau di Chicago.

1. Naik transportasi umumnya

Chicago memiliki keseimbangan dalam sistem transportasinya dengan peran yang sama yang diemban bus kota dan kereta komuter. Antara bus dengan KRL terkoneksi dengan baik. Sistem pentarifannya pun memakai kartu yang sama, yakni kartu Ventra yang bisa dibeli denga harga $10 untuk masa 24 jam. Sekali beli kartu ini, maka kamu bisa naik semua bus dan KRL yang disediakan oleh CTA (Chicago Transport Authority).

Chicago10
Bus CTA

Bus Chicago, seperti halnya bus di kota-kota lain di Amerika, kondisinya sangat bagus dengan mesin hibrida antara gas dengan BBM biasa. Jadwal untuk bus bisa dilihat melalui Google Maps. Hasilnya cukup akurat kok. Sementara KRL Chicago disebut dengan L Train. Di sejumlah wilayah, L Train berjalan di rel di atas tanah (elevated), sementara di downtown, L Train kebanyakan berjalan di bawah tanah (underground).

2. Ke Skydeck di Willis Tower

Naiklah ke lantai 103 Willis Tower, gedung setinggi 442 meter yang meruapakan gedung tertinggi di Chicago dan tertinggi kedua di Amerika setelah One WTC. Di skydeck di lantai 103, pengunjung bisa melihat ke seantero kota dan bahkan melihat negara bagian Indiana di seberang Danau Michigan. Tiket masuk buat orang dewasa sebesar $19.50.

3. Duduk-duduk di Navy Pier

Navy Pier adalah dermaga di tepian Danau Michigan. Sore hari, ketika matahari terbenam di antara gedung-gedung pencakar langit, sinarnya akan membuat warna danau dan langit menjadi merah keemasan. Sangat cantik. Hembusan angin di tempat ini lumayan kencang dan dingin sehingga bisa menggigilkan tubuh manusia tropis kayak gue.

Chicago6
Chicago dilihat dari Navy Pier

4. Jalan-jalan atau bersepeda di Grant Park

Bila New York terkenal dengan Central Park-nya, maka Chicago tenar dengan Grant Park-nya. Berukuran 319 acre (sekitar 130 hektare), Grant Park adalah paru-paru Chicago. Terletak di tepi Danau Michigan, Grant Park sangat menyenangkan buat dikunjungi. Kamu bisa jalan kaki, lari-lari atau naik sepeda sewaan.

Chicago3
Persewaan sepeda di Grant Park

5. Berfoto selfie di Cloud Gate

Di tengah kota Chicago, ada sebuah taman yang tidak besar tapi sangat wajib dikunjungi, yakni Millenium Park. Di Millenium Park, ada benda yang jadi ikon kota Chicago, yakni The Cloud Gate. Dibuat oleh seniman Inggris kelahiran India, Anish Kapoor, Cloud Gate menjadi ikon penting kota Chicago.

Chicago5
The Bean

Cloud Gate (sering juga disebut Chicago Bean atau The Bean karena bentuknya yang mirip kacang) terbuat dari logam berkilau yang bisa dipakai ngaca. Nampanglah di sana dan ambillah foto dirimu sendiri di cermin The Bean.

6. Jangan langsung pergi dari Millenium Park

Selain Cloud Gate yang ikonik, di Millenium Park juga ada Jay Pritzker Paviilion, teater terbuka dengan arsitektur indah rancangan Frank Gehry. Kalau beruntung, di Jay Pritzker Pavillion ada pertunjukan musik gratis atau latihan orkestra lokal. Di depan Jay Pritzker Pavillion ada ratusan kursi dan di belakangnya ada halaman rumput besar yang bisa dipakai duduk-duduk menonton pertunjukkan atau untuk berolahraga.

Chicago4
Jay Pritzker Pavillion

Millenium Park juga memiliki air mancur (Crown Fountain), taman (Lurie Garden) dan BP Bridge, jembatan berbentuk melengkung-lengkung yang dirancang oleh (lagi-lagi) Frank Gehry dan berfungsi menghubungkan Millenium Park dengan Maggie Daley Park yang berada di seberang jalan.

Chicago7
Lurie Garden

7. Mengunjungi arena-arena olahraga

Ketika gue kecil, Chicago Bulls sedang jago-jagonya. Ketika ke Chicago, gue sempat mengunjungi markas mereka, United Center. Tak cuma jadi markas Bulls, United Center juga jadi markas klub hoki es Chicago Blackhawks. Sayangnya, karena NBA dan NHL sedang off-season, tidak ada kegiatan apapun di sini.

Chicago11
United Center

Tak hanya United Center, Chicago juga punya venue olahraga lain yang tak kalah megah, yakni Stadion Soldier Field. Tempat ini dipakai sebagai markas klub NFL Chicago Bears dan tahun 1994 pernah dipakai untuk sejumlah pertandingan Piala Dunia.

Chicago9
Soldier Field

Chicago tampaknya tergila-gila dengan olahraga, sampai-sampai mereka punya dua tim baseball, yaitu Chicago Cubs dan Chicago White Sox. Cubs bermarkas di Wrigley Field, stadion berumur 100 tahun, sementara White Sox berkandang di US Cellular Field. Gue cuma mengunjungi Wrigley Field yang dekat dari host AirBnB gue di kawasan Lakeview. Sementara US Cellular Field gak sempat gue kunjungi, cuma melihat dari kejauhan waktu naik KRL.

Chicago2
Wrigley Field

8. Nggak harus berdoa buat ke Katedral Holy Name

Katedral terbesar di Chicago ini bergaya gothic. Eksteriornya indah, demikian juga interiornya. Buat masuk, kamu nggak harus beragama Katolik. Duduk-duduk di aulanya sambil berdiam diri dan menikmati keindahan interior katedral ini sudah cukup. Ingat, jaga kesopanan di rumah ibadah ini.

Chicago8
Katedral Holy Name

9. Lari!

Seperti halnya kota-kota lain di Amerika yang punya trotoar lebar-lebar dan lalu lintas yang nggak mengancam pejalan kaki, Chicago pun demikian. Karena jalannya berbentuk grid-grid, sangat menyenangkan untuk berlari di sana tanpa takut kesasar.

Sebenarnya ada saran ke-10, yakni mengunjungi rumah yang pernah ditinggali Presiden Amerika Barack Obama ketika masih tinggal di Chicago. Agak PR buat ke sana karena letaknya agak jauh dari pusat kota. Yang lebih mengecewakan, ketika gue di sana, di depan jalan masuk rumah Obama ada larangan masuk dari Secret Service dengan ancaman mengerikan buat yang coba-coba melanggar. Jadi, please do search first sebelum kamu mau berkunjung ke tempat ini apakah kamu boleh mendekat dan memfoto-foto rumah Obama.

Chicago1
Dilarang masuk!

Amtrak (1)

Lakeshore di Chicago
Lakeshore di Chicago

Bagian pertama dari dua tulisan.

Kereta Lakeshore Limited bergerak pelan keluar dari Union Station di tengah kota Chicago. Gerbong yang gue tempati nggak terlalu penuh. Kursi di samping gue nggak ada yang menempati, demikian juga sejumlah kursi di sekitar gue. Di depan gue dan di kursi samping kanannya, ada empat orang yang sepertinya sekeluarga; ada suami dan istri beserta dua orang anak mereka yang (syukurlah) tidak terlalu berisik.

Kondisi gerbong duduk (Amfleet coach) yang gue tempatin nggak terlalu istimewa. Dibanding gerbong kereta Taksaka atau Argo Lawu, misalnya, cuma sedikit lebih baik. Gerbongnya sedikit lebih lebar karena emang kereta di Amerika berjalan di atas rel yang lebih lebar ketimbang rel di Indonesia. Lebarnya gerbong membuat formasi kursi 2-2 ini terasa lapang dan gang di tengah gerbong juga cukup lebar. Kursinya cukup nyaman dan teduh dengan kelir biru.

Gerbong Amfleet car di Lakeshore Limited
Gerbong Amfleet car di Lakeshore Limited

Gue menarik tuas untuk merebahkan sandaran kursi dan menurunkan foot rest di bagian bawah kursi depan. Syukurlah akhirnya kereta ini berangkat, batin gue. Kereta seharusnya berangkat jam 21.30 waktu Chicago, tapi kenyataannya kereta baru beranjak sekitar pukul 22.00. Cuma telat 30 menit, sih. Tapi menurut gue keterlambatan ini agak aneh karena terjadi di infrastuktur transportasi negara semaju Amerika.

Kereta sepertinya memang jadi anak tiri di infrastruktur transportasi Amerika yang sangat berat ke mobil dan jalan raya plus angkutan pesawat. Di sana, angkutan kereta banyak diandalkan untuk angkutan barang dan angkutan manusia jadi prioritas kedua. Fakta bahwa mereka tidak punya sistem kereta cepat seperti halnya yang dimiliki Eropa (Prancis dan Jerman), Jepang atau bahkan Cina menunjukkan bahwa kereta memang bukan transportasi favorit.

Meski gue tahu bahwa kereta api di Amerika nggak canggih-canggih amat, gue merasa tetap perlu untuk mencoba naik Amtrak (satu-satunya penyedia layanan kereta api penumpang di Amerika) sejak gue pertama kali ke negeri Abang Sam itu tahun 2011 lalu. Sebagai self-proclaimed train buff, gue memilih untuk pergi dari Chicago ke Buffalo dan dari Buffalo ke New York City pakai kereta for the sake of experience. Harga tiketnya relatif murah ($72 untuk rute Chicago-Buffalo dan $70 untuk rute Buffalo-NYC, atau sekitar $110 untuk rute Chicago-NYC), tapi harus dikompensasi dengan waktu perjalanan yang cukup lama. Sebagai gambaran, jarak Chicago ke Buffalo adalah 850 km dan ditempuh dengan dalam waktu sekitar 10 jam. Sementara antara Buffalo-NYC, jaraknya sekitar 693 km dan ditempuh dalam waktu yang sama, 10 jam juga.

Brosur Lakeshore Limited.
Brosur Lakeshore Limited.

Meski tergolong ‘anak tiri’ di sistem transportasi Amerika, kereta (Amtrak) punya pelayanan yang oke. Selain proses pemesanan yang sangat mudah di web mereka, fasilitas di stasiun-stasiun pun cukup menyenangkan. Misalnya, ketika gue naik dari Chicago Union Station, gue bisa melakukan cek in bagasi. Ada satu koper besar (yang nyaris membuat gue over baggage di penerbangan dari Los Angeles ke Chicago) yang gue masukkan ke bagasi karena beratnya nyaris 30 kg. Selain boleh menaruh satu koper (atau tas) yang maksimal beratnya 50 pound (nyaris 30 kg) di bagasi, penumpang Amtrak juga boleh membawa dua tas yang tidak terlalu besar ke dalam kabin.

Di Union Station Chicago yang memang salah satu stasiun terbesar di Amerika, calon penumpang bisa membeli makanan di restoran-restoran yang ada di dalam stasiun atau membeli suvenir-suvenir seperti layaknya berada di bandara. Sehabis cek in bagasi, masih ada waktu 30 menit hingga jadwal kereta diberangkatkan. Gue yang sejak cabut dari rumah host gue belum makan, mengambil kesempatan untuk beli dua potong roti dan sebotol air minum buat di perjalanan.

Tidak banyak yang gue bisa lihat selama perjalanan kereta dari Chicago ke Buffalo karena perjalanan dilakukan malam hari. Di antara kegelapan malam, sesekali terselip pemandangan kota kecil dengan beberapa rumah dan jalan yang lampunya menyala. Selain itu, kadang kereta berjalan di sisi atau melewati jalan tol (Interstate) yang tidak cukup ramai dilintasi kendaraan.

Leg room di Lakeshore.
Leg room di Lakeshore.

Kereta berhenti di pemberhentian pertama setelah Chicago, South Bend. Artinya, gue udah meninggalkan negara bagian Illinois dan sekarang sudah memasuki negara bagian Indiana. Kereta berhenti kira-kira 7-9 menit dan kemudian berjalan lagi. Setelah South Bend, gue udah terlelap tidur.

Bangun-bangun, gue udah meninggalkan negara bagian Indiana dan kini berada di negara bagian Ohio, tepatnya di Cleveland. Cuaca masih terang-terang tanah. Gue menebak Stasiun Cleveland terletak agak di pinggiran kota, dengan peron yang tidak istimewa—tidak sebaik yang gue temukan di Chicago.

Kayaknya ini di sekitar Cleveland.
Kayaknya ini di sekitar Cleveland.

Setelah berhenti sebentar, kereta melanjutkan perjalanan lagi. Karena hari sudah cukup terang, gue mulai bisa melihat pemandangan di luar jendela. Jalur kereta ini kebanyakan berada di tengah hutan dan sesekali kereta berjalan bersisian dengan jalan raya. Kota-kota kecil dengan pekarangan yang luas, pohon-pohon hijau yang rimbun, jalanan yang berkelok-kelok dengan bukit-bukit yang berada di pinggirnya menjadi menu untuk para penumpang yang mungkin belum lama membuka matanya.

Di perjalanan naik Lakeshore Limited.
Di perjalanan naik Lakeshore Limited.

Kereta yang gue tumpangi kemudian meninggalkan negara bagian Ohio dan masuk ke negara bagian Pennsylvania. Lalu kami berhenti di kota Erie. Stasiun Erie juga berukuran kecil. Tidak banyak penumpang yang turun naik di sini dan kereta pun melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir gue, Buffalo.

Sekitar pukul 08.30 pagi, kereta akhirnya sampai di Buffalo, negara bagian New York. Stasiun Depew (yang sebenarnya terletak di luar kota Buffalo) berukuran kecil saja. Bangunannya mungkin cuma berukuran 20 m x 30 meter, membuatnya bahkan terlihat mini kalau dibandingkan dengan Stasiun Purwokerto, misalnya.


IMG_1892

Gue masuk bangunan stasiun dan menunggu bagasi gue diturunkan dari kereta. Tak lama kemudian gue sudah mendapatkan koper besar gue. Kemudian gue bertanya ke petugas di Stasiun Depew apakah ada fasilitas loker atau penitipan barang buat gue meninggalkan koper besar gue karena gue merasa terlalu repot harus nyeret-nyeret koper berat itu. Apalagi, gue besok akan naik kereta dari tempat itu lagi sehingga lebih baik kalau ada penitipan di Stasiun Depew. (Tip: Banyak stasiun Amtrak yang punya fasilitas penitipan barang semacam ini. Kalo lo memiliki pola trip yang mirip dengan gue, cara gue ini bisa dicoba.)

IMG_1899

Petugas di Stasiun Depew mengatakan bahwa ada fasilitas penitipan barang dengan tarif $4 untuk 24 jam. Gue langsung bayar tunai dan gue dapat tanda terima yang harus gue tunjukkan kalau mau mengambilnya lagi besok. Akhirnya gue melenggang ke Buffalo dengan membawa satu tas punggung dan satu tas olahraga yang berisi barang-barang terpenting saja kayak baju, sepatu dan peralatan mandi.

Beres dengan urusan bagasi, gue melangkah ke luar stasiun sembari mengecek Google Maps gue untuk mendapatkan rute bus yang harus gue tumpangin dari Depew menuju host gue di kota Buffalo. Cuma ada satu bus yang lewat Stasiun Depew dan buat mencapai tujuan gue, gue mesti pindah dua bus lagi. Nah, cerita soal bagaimana gue sampai ke kota Buffalo akan gue ceritakan di posting lain.

Kota (2)

NJ Skyline

Setelah selama sebulan tinggal di Santa Monica dan cuma sempat jalan-jalan ke kota-kota di dekatnya, selesai Piala Dunia lalu gue langsung cabut ke daerah timur Amerika, dimulai dari Chicago dan berakhir di New York City sebelum akhirnya gue terbang pulang ke Indonesia.

5. Chicago
Tahun 2011, ketika gue lagi di Las Vegas, ada orang Amerika bertanya ke (kalo nggak salah) seorang wartawan dari Amerika Selatan. Dia tanya, “Menurutmu, kota paling Indah di Amerika apa? Kalau kamu bilang New York City, kamu salah. Kota paling indah di Amerika adalah Chicago.” Mengingat dialog itu, sejak sebelum berangkat gue udah memutuskan buat pergi ke Chicago selepas kerjaan di Santa Monica/LA selesai.

IMG_1709

Chicago punya julukan Windy City karena dia terletak di tepi Danau Michigan, satu dari lima danau besar (Great Lakes) di Amerika. Angin itu bikin cuaca di Chicago relatif lebih dingin ketimbang LA. Gue sempat merasa salah kostum karena bepergian cuma pakai celana pendek dan t-shirt, lalu di luaran ternyata suhunya cuma 16 derajt (padahal summer). Cuacanya juga jadi kurang enak karena sering mendung dan gerimis.

IMG_1828

Dari segi transportasi, Chicago menurut gue lebih baik dari LA karena memiliki gabungan yang pas antara transportasi rel (MRT) dan transportasi bus. Kalau di NYC nyaris seluruh jalur MRT berada di bawah tanah, MRT di Chicago banyak juga yang terdapat di atas tanah. Mungkin cuma di kawasan Downtown di mana MRT Chicago banyak berada di bawah tanah.

IMG_1740

Ada banyak taman-taman besar di Chicago, yang paling besar adalah Lincoln Park. Taman ini luas dan hijau, menjadikannya sebagai tempat yang sangat menyenangkan buat berolahraga. Selain Lincoln Park, ada taman (yang tidak terlalu besar) di tengah kota bernama Millenium Park. Di Millenium Park ada banyak bangunan keren kayak The Cloud Gate, patung berbentuk seperti kacang raksasa (makanya sering disebut Chicago Beans) yang terbuat dari logam dan bisa dipakai mengaca. Chicago Beans dibuat oleh seniman Inggris kelahiran India, Anish Kapoor. Selain itu, di Millenium Park juga ada Jay Pritzker Pavillion, yaitu panggung yang bisa dipakai untuk pertunjukkan kesenian. Jay Pritzker Pavillion dirancang oleh arsitek tenar, Frank Gehry.

6. Buffalo
Gue pergi dari Chicago ke Buffalo dengan naik kereta api Amtrak selama kurang lebih 10 jam. Buffalo adalah kota terdekat dari air terjun Niagara yang terletak di perbatasan AS-Kanada. Gue cuma mengunjungi Buffalo kurang dari 24 jam dan frankly speaking, ini adalah kota yang paling nggak gue senangi di Amerika.

Buffalo

Buffalo terhitung kota kecil yang penduduknya cuma kurang dari 300 ribu jiwa, tapi mereka adalah kota terbesar kedua di New York State setelah New York City. Cuacanya cukup dingin (sekitar 13 derajat celcius di waktu malam-pagi dan 16-20 derajat celcius di siang hari) walau pun matahari bersinar cerah.

IMG_2046

Dulu Buffalo adalah kota industri (karena dekat dengan pembangkit listrik Niagara), tapi surutnya masa kejayaan industri besar, kejayaan Buffalo juga perlahan surut. Buffalo sekarang adalah kota dengan jumlah rumah kosong terbesar kedua di Amerika (setelah St Louis). Akibatnya, Buffalo terasa sepi dan (kalau malam) agak seram.

Transportasi umum di Buffalo mengandalkan bus. Sebenarnya ada juga MRT tapi cuma ada satu line dan gue gak pernah naik. Bus umum di Buffalo sedikit, rentang antar bus bervariasi mulai dari 10 menit sekali (yang jalan di dalam kota) sampai sejam sekali (bus yang menuju ke daerah suburban seperti ke Cheektowaga, lokasi stasiun Amtrak Buffalo-Depew).

Jam setengah 9 malam, bus kota sudah sedikit banget yang beroperasi. Malam itu gue berniat cari makan dan setelah nunggu bus selama 30 menit nggak dapat-dapat, akhirnya gue jalan kaki. Jalanan di Buffalo jam 9 malam udah sepiii. Gue agak cemas juga sih jalan sendirian begitu. Apalagi, banyak bangunan kosong yang makin membuat bulu kuduk meremang.

7. New York City
Dari Buffalo, kembali gue naik Amtrak ke NYC selama nyaris 10 jam. Bisa dibilang, berkunjung ke New York itu wajib dilakuin sebelum mati. NYC adalah kota terbesar di dunia, tempat pembauran terbesar di dunia, kota paling dinamis di dunia dan segala hal fantastis lain yang disematkan ke kota ini.

Times Square

Transportasi umum di NYC adalah yang paling masif dari seluruh kota di Amerika yang gue kunjungi. NYC sangat bergantung kepada MRT yang berjalan 24 jam. Sementara, bus di NYC agak kurang bisa diandalkan seperti halnya bus di LA. Di NYC, naik transportasi umum jauh lebih menyenangkan dibanding bawa kendaraan pribadi karena macet banget dan tarif parkir di sana mahalnya minta ampun. Gue sampai pada kesimpulan bahwa cuma dua jenis orang yang mau nyetir sendiri di NYC, yaitu: 1. Orang yang nggak mikir lagi soal duit, 2. Orang gila.

NYC adalah kota yang sangat padat. Bangunan tinggi di mana-mana, tak terkecuali bangunan apartemen. Ruang jadi hal yang sangat berharga di sana mengingat keterbatasan lahan. Gue yang (mulai) terbiasa dengan kelegaan yang gue nikmati di Santa Monica lama-lama merasa klaustrofobik juga dengan kepadatan NYC. Di mana-mana bangunan, di mana-mana ada orang.

 

Tapi NYC adalah kota yang sangat menggilai taman. Tentu saja, yang terbesar adalah Central Park yang terletak tepat di tengah-tengah Manhattan, memanjang dari 59th Street hingga 110th Street dan melebar dari 5h Avenue hingga 8th Avenue. Di luar Central Park, banyak bertebaran taman-taman yang lebih kecil yang bisa dimanfaatkan oleh orang-orang sekadar untuk duduk-duduk, ngobrol, makan atau baca buku.

IMG_2204

Secara umum, gue nggak terlalu suka cuaca di NYC yang menurut gue juga masih cukup dingin kaya di Chicago. Selain itu, langit di atas NYC juga jarang terlihat biru cerah mengingat tingginya tingkat polusi di kota ini.

 

IMG_2217

Bicara soal tempat pembauran (melting pot)dunia, NYC memang juaranya. Selama 2,5 hari gue di NYC, gue udah pernah melihat nyaris segalam macam orang; mulai dari orang Cina sampai Afrika, orang Eropa Timur sampai Arab, semuanya kayaknya ada di sana. Kuping gue pernah mendengar orang-orang bercakap-cakap pakai bahasa Prancis, Jerman, Polandia (gue tahu itu Polandia karena orangnya pakai t-shirt bertuliskan Polska something, bukan karena gue ngerti bahasa Polandia. :p), China, Jepang, bahkan Indonesia.

IMG_2158

NYC juga memiliki buanyak banget bangunan-bangunan dengan arsitektur keren. Mulai dari yang lawas seperti Brooklyn Bridge, Museum of Modern Arts (MoMA), Empire State Building, Times Square, hingga ke yang cukup kontemporer seperti One World Trade Center dan High Line Park.

Kota (1)

 

Kota8

Selama ini, gue adalah orang yang lebih suka bepergian ke gunung ketimbang pantai. Lalu belakangan, gue ternyata punya satu kegemaran baru, yaitu pergi ke kota. Kesadaran bahwa gue suka kota ini semata bukan karena gue pergi ke Amerika, tapi juga berdasar pengalaman gue bepergian ke sejumlah kota.

Kenapa gue suka ke kota? Pertama, kota itu dinamis. Ada banyak orang yang pasti punya kekhasan dan keunikan sendiri. Yang kedua, arsitektur. Di kota (terutama kota besar) biasanya terdapat banyak bangunan (lama maupun baru) yang punya desain menarik dan keren. Ketiga, faktor transportasi. Jadi traveler kere dengan budget terbatas itu ke mana-mana harus naik angkutan umum kan. Nah, biasanya kota besar itu punya angkutan umum yang baik.

Dari perjalanan gue ke Amerika, gue mengunjungi setidaknya tujuh kota: Santa Monica, Los Angeles, Las Vegas, San Diego, Chicago, Buffalo dan New York City. Tujuh dari delapan tempat yang gue kunjungi di Amerika adalah kota. Satu-satunya tempat yang gue kunjungi yang bukan kota adalah Big Bear, sebuah resor salju yang terletak dua jam naik mobil dari Los Angeles.

Gue mau cerita sedikit sih karakter kota-kota yang gue kunjungi.

1. Santa Monica

Kota2
Tempat gue menghabiskan 32 hari dari 40 hari perjalanan gue. Kota kecil di pinggiran barat LA, tepat berada di tepi Samudera Pasifik. Cuacanya selalu sempurna. Kalau panas nggak terlalu panas dan kalau dingin nggak terlalu dingin. Langitnya selalu biru nyaris tanpa awan. Faktor cuaca ini bukan hanya karena gue di sana pas musim semi dan panas. Dulu, musim dingin 2011 gue ke LA dan Santa Monica juga dan cuacanya menyenangkan.

Sarana transportasinya bagus (karena bertetangga dengan LA dan punya sistem transportasi yang terintegrasi sama LA dan kota-kota sekitarnya), trotoarnya lebar-lebar, banyak tempat makan dan hangout yang seru. Makananannya sangat beragam, mulai dari Amerika, Eropa, Amerika Selatan, hingga ke masakan Asia (Thailand, Vietnam, Jepang, Cina, dan lain-lain.)

2. Los Angeles
Mirip lah dengan Santa Monica, tapi lebih kosmopolitan karena LA adalah kota terbesar kedua di Amerika setelah NYC. Sistem transportasinya bagus dan sangat bergantung sama bus. LA punya subway, tapi jangkauannya masih tidak terlalu luas. Dari segi cuaca juga sama dengan Santa Monica, cuma langitnya lebih terpapar polusi.

Bus LA-Santa Monica

Banyak bangunan-bangunan keren di LA. Yang paling mengesankan buat gue adalah Walt Disney Concert Hall dan Griffith Observatory. Selain itu, ada juga Staples Center, Katedral Our Lady of the Angeles, Grant Park, Union Station, dan sebagainya.

Kota3

Di LA juga ada China Town yang banyak restoran Asia-nya. Di kawasan Westwood, ada restoran Indonesia dengan rasa yang lumayan, namanya Ramayani. Satu lagi restoran Indonesia di LA ada di kawasan Culver City, bernama Simpang Asia.

Kalau gue disuruh milih tinggal di mana di Amerika, gue akan memilih Los Angeles. Gue suka dengan cuacanya, selain itu kepadatan dan keramaiannya juga pas, nggak seperti NYC yang gedung-gedungnya berimpitan dan buanyak banget orang di mana-mana.

3. San Diego
Gak banyak yang bisa gue jelajahi di San Diego karena gue di sana cuma setengah hari. Yang jelas di San Diego ada kawasan Hillcrest yang punya sederetan restoran, kafe dan toko buku yang keren-keren.

Kota6

Selain itu, ada juga salah satu kebun binatang terbesar di dunia (dan mungkin kebun binatang yang paling terkenal di dunia), San Diego Zoo. Buat menjelajahi San Diego Zoo, mungkin dibutuhkan waktu setengah hari sendiri mengingat luasnya dan banyaknya koleksi binatang mereka.

Kota5

Transportasi di San Diego tampaknya juga mengandalkan bus kota, seperti LA. Gue nggak pernah naik angkutan umum di San Diego karena gue dan house mate gue, Jeff, pakai mobil rental dari LA.

4. Las Vegas
Dua kunjungan gue ke Amerika (dua-duanya tahun 2011) adalah mengunjungi kota ini. Kota ini adalah kota pusat hiburan (terutama judi), sampai-sampai punya julukan The Sin City. Kota ini terletak di gurun Nevada, jadi kalau musim panas suhunya panas banget, sementara kalau musim dingin suhunya dingin banget.

Kemarin ke sana udah bulan Juli, udah masuk musim panas, dan suhu Las Vegas mencapai 43 derajat celcius di waktu siang. Puanas banget! Tengah malam, suhunya masih mencapai 36 derajat celcius. Suhu paling dingin Las Vegas bulan Juli adalah sekitar 32 derajat celcius pukul 03.00. Dulu perasaan waktu ke sana bulan Juni 2011, suhunya nggak sepanas ini. Kalau siang paling 36 derajat celcius dan tengah malah udah 29 derajat celcius. Dengan cuaca begini, nggak terlalu nyaman buat jalan-jalan. Pengunjung pun lebih banyak ngadem di dalam kafe, restoran, hotel dan kasino.

Las Vegas adalah kota yang hidup di waktu malam. Cahaya gemerlap dari hotel-hotel besar dan kasino menghiasi kota ini. Ketika siang, saat lampu-lampu tidak diperlukan karena matahari sudah sangat benderang, Vegas ‘hanya’ sebuah kota biasa di Amerika.

Kota7

Bangunan-bangunan di Vegas banyak menarik, tapi sedikit yang orisinal. Di sana ada hotel New York-New York yang memajang Patung Liberty tiruan di depannya. Juga ada Menara Eiffel tiruan, ada kanal Venesia tiruan, dan beberapa tiruan lain. Pokoknya, imitation at its best lah.

Kota4

Transportasi umum di Vegas adalah monorel dan bus kota. Gue nggak nyoba bus kota, cuma ke mana-mana memakai monorel. Monorelnya juga cuma satu line. Monorel ini berjalan dari ujung ke ujung dan di tiap-tiap pemberhentiannya pasti ada hotel dan kasino besar yang berharap dikunjungi turis.

(Cerita tentang Chicago, Buffalo dan New York City bakal gue ceritain di bagian kedua.)

Ngapain Sih?

War room

Jadi, banyak yang bertanya sebenarnya gue ngapain sampai nyaris 40 hari di Amerika? Kok mau-maunya Yahoo ngirim gue ke sana? Buat apa?

Yah, intinya sih ke sana kerja. Setidaknya di 32 hari dari total 40 hari itu. Gue mengerjakan kanal Piala Dunia 2014. Kerjaannya sebenarnya sama saja dengan yang gue lakukan secara reguler di Jakarta. Tapi ada tujuannya mengapa gue disuruh mengerjakan itu semua di Santa Monica.

Brainstorming
Ada sekitar 30 orang penulis dan editor olahraga dari seluruh dunia yang hadir di Santa Monica. Kami ditempatkan di sebuah ruangan bernama ‘war room’. Tujuannya berkumpulnya para editor olahraga ini adalah agar mereka mudah untuk brainstorming, buat tukar menukar ide, saling melontarkan pertanyaan, dan sebagainya.

Apalagi, kami punya program wawancara Yahoo Global Football Ambassador, Jose Mourinho. Jadi, sebelum mewawancarai Mourinho lewat video call, biasanya kami diskusi dulu untuk membuat pertanyaan dan mengutak-atik angle-nya agar cocok dengan Mourinho. Nggak harus selalu pertanyaan yang “aman” alias yg nggak membuat Mou kesal dan menghentikan wawancara. Kadang, justru kami berusaha membuat pertanyaan yang agak kontroversial agar Mourinho bisa mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang tidak umum.

Saling mengenal
Selain soal brainstorming, mengumpulkan para editor olahraga dalam satu tempat berarti membuat mereka bisa mengenal satu sama lain dan mungkin di masa depan bisa membuat para editor berkolaborasi sesuai dengan kepentingan dan kemampuan negara masing-masing. Sebagai contoh, selesai Piala Dunia, editor Yahoo Sports Italia menghubungi saya untuk minta foto-foto pertandingan uji coba Juventus di Jakarta.

war room

Lalu, mengapa Santa Monica? Kenapa bukan di tempat penyelenggaraan Piala Dunia di Brasil? Ada sejumlah alasan.

1. Logistik
Kehadiran 30-40 orang editor internasional di Brasil tentu membutuhkan tempat, baik itu hotel atau apartemen. Padahal, sejak setahun lalu, harga sewa kamar hotel dan apartemen di Brasil sudah naik lebih dari 100%. Tentu saja, dari sisi finansial ini nggak ekonomis.

Masih soal kehadiran 30-40 orang itu, kantor Yahoo di Brasil yang terletak di Sao Paulo juga tampaknya akan kesulitan menampung tambahan banyak orang sekaligus.

2, Soal jarak
Sao Paulo dan Rio de Janeiro, dua kota terbesar di Brasil, punya ukuran raksasa. Dari satu tempat ke tempat lain jaraknya berjauhan. Dengan sistem transportasi umum yang tidak terlalu baik, agak susah bagi orang asing untuk berpindah-pindah tempat di kedua kota itu.

3. Koneksi internet
Kerjaan Piala Dunia bukan sekadar teks, tapi juga melibatkan transfer file-file foto dan video. Juga ada live blogging. Dibutuhkan koneksi internet yang mumpuni buat melakukan itu semua. Di Brasil, kabarnya koneksi internetnya tidak terlalu bagus. Mungkin lebih baik dari Indonesia, tapi jelas masih jauh dibanding Amerika atau Kanada.

4. Keamanan
Seperti kita tahu, menjelang dan selama Piala Dunia, Brasil banyak menghadapi unjuk rasa yang tidak jarang berujung kericuhan bahkan kerusuhan. Memastikan 30-40 orang asing agar tetap aman selalu membutuhkan usaha yang besar dan pasti prosesnya rumit. Mengambil risiko sepertinya bukan pilihan.

Melihat berbagai pertimbangan itu, maka akhirnya dipilihlah kantor Yahoo di Santa Monica (bukan kantor Yahoo yang lain seperti Sunnyvale, New York, atau Miami) sebagai lokasi war room. Alasannya adalah karena kantor dan kota Santa Monica bisa memenuhi syarat yang mungkin tidak bisa disediakan di Brasil. Lagipula, nyaris semua penulis Yahoo Sports Amerika juga aslinya memang berkantor di Santa Monica.

Selain itu, Santa Monica juga memiliki kelebihan dalam hal zona waktu. Di Santa Monica, pertandingan paling awal berlangsung jam 09.00 pagi dan yang paling akhir jam 15.00. Ini memudahkan editor karena pas dengan jam kerja. Pertandingan paling sore pun berakhir jam 17.00, masih masuk waktu kerja yang normal. Bila war room digelar di wilayah timur Amerika seperti di New York atau Miami, maka pertandingan paling akhir dimainkan jam 18.00 dan akan berakhir jam 20.00. Agak melelahkan buat editor.

Kiri ke kanan: Jeff Oon (Singapura), Jim Hu (Amerika), Karel Rodriguez (Spanyol), Cassiano Gobett (Brasil), Mohab Maghdy (Mesir)
Kiri ke kanan: Jeff Oon (Singapura), Jim Hu (Amerika), Karel Rodriguez (Spanyol), Cassiano Gobett (Brasil), Mohab Maghdy (Mesir)

Bagi gue dan Jeff yang berasal dari Asia Tenggara, bekerja di zona waktu 14 jam (15 jam bagi Jeff) di belakang akan menguntungkan karena berarti kami bekerja di saat waktu di Asia malam hari. Jadinya, punya dua shift kerja karena editor di Jakarta dan Singapura bisa bekerja di waktu kantor normal.

Naik A380

A380

Ini adalah perjalanan ketiga gue ke Amerika. Dua yang pertama terjadi di tahun 2011; semuanya saat gue masih kerja di detikcom dan dua-duanya adalah untuk liputan teknologi walau saat itu status gue adalah reporter/penulis olahraga. Nah, yang ketiga ini gue pergi ke Amerika untuk kerjaan olahraga walaupun status gue secara resmi di Yahoo Indonesia adalah editor teknologi. Kebalik-balik ya jadinya?

Gue berangkat tanggal 10 Juni. Rutenya adalah dari Jakarta ke Singapura, lanjut ke Narita dan baru lanjut lagi ke Los Angeles. Berangkat dari kos jam 3.00 pagi karena penerbangan dari Soekarno Hatta jam 5.30 WIB. Naik Singapore Airlines (Maklum, dibayarin kumpeni. Standarnya harus SQ.) dan sampe di Singapura sekitar jam 08.00 waktu setempat.

Sampe di Singapura, kontak-kontakan sama Jeff, country editor Yahoo Singapore, calon house mate gue di LA, tapi nggak berhasil ketemu karena udah masuk kabin pesawat Airbus A380 SQ. Catatan: gue di kabin ekonomi, sementara Jeff di kabin bisnis karena dia menukar mileage di KrisFlyer-nya. *mengiri-menganan*

Sebagai seorang self proclaimed plane enthusiast, gue seneng banget dong naik A380, pesawat penumpang paling gede di muka bumi. Sebelumnya, gue cuma pernah naik mantan pesawat terbesar di dunia, Boeing 747-400. Gimana rasanya naik A380? Di kabin ekonomi sih nggak kerasa ya, sama aja kayak pesawat badan lebar lainnya. Tapi waktu take off sih kerasa banget pesawat ini berat, tapi empat mesinnya bisa menerbangkan pesawat ini.

Di pesawat A380 ini, tersedia wifi. Bayar tentu saja. Karena gue udah cari tahu dulu tentang wifi ini, gue merasa harus nyobain. Nggak apa-apa bayar $5 untuk data 5 MB atau $10 untuk data 12 MB. Akhirnya gue cobain lah dan ngirim Path, twit dan Whatsapp dari ketinggian 35 ribu kaki. Data segitu, tentu saja cepat banget habis cuma buat kirim beberapa gambar dan teks.

Wifi

Setelah terbang kira-kira 6 jam, nyampe juga di Narita dan akhirnya ketemu Jeff. Doi ini WN Singapura, tapi nyokapnya Indonesia dan doi masih cukup fasih ngomong bahasa Indonesia. Jadi obrolan kami (tentu saja kebanyakan soal sepak bola; sisanya soal mau ngapain aja setelah kerjaan selesai) pake dua bahasa, Inggris dan Indonesia/Melayu.

Bersama Jeff

Transit di Narita cuma sekitar 1 jam, kami kemudian terbang lagi menempuh etape terakhir tujuan Los Angeles. Kali ini, gue nggak lagi beli koneksi wifi. Dan setelah 9 jam lebih di udara, kami nyampe juga di Bandara Los Angeles sekitar jam 13.00 waktu setempat.

Gue sempat cemas sih bakal kena screening berlapis seperti yang pernah gue alami waktu pertama kali mendarat di bandara ini. (Dulu, 2011, dari 4 orang cowok pemegang paspor Indonesia di rombongan gue, 3 orang kena screening berlapis yang bisa makan waktu sampai 2 jam sendiri.) Tapi kekhawatiran gue nggak terbukti. Di imigrasi ditanya mau ngapain, gue jawab aja gue ada kerjaan sama Yahoo buat ngurusin Piala Dunia. Nggak sampai 5 menit, gue udah diperbolehkan melintas. Enggak tahu deh, apakah proses yang cepat ini karena gue sekarang kerja buat perusahaan Amerika atau karena faktor lain.

Dari bandara Los Angeles, gue dan Jeff naik taksi ke apartemen kami di Santa Monica. Nggak sampai 40 menit, kami sudah tiba di apartemen. Dari sinilah kemudian perjalanan gue yang sebenarnya dimulai!

Cerita yang Tertunda

Senja di Santa Monica
Lebaran udah selesai, gue udah agak selo dan ada sedikit waktu buat nulis blog. Gue mau cerita ah soal masa kira-kira nyaris 40 hari tinggal di Amerika.

Jadi, penugasan gue selama sebulan di Amrik adalah dinas luar terlama gue sepanjang hayat. Gue mengunjungi beberapa kota, yaitu Santa Monica, Los Angeles, Big Bear, San Diego, Las Vegas, Chicago, Buffalo dan New York City. Nah, setelah gue itung, ada delapan kota. Cukup banyak juga ya.

Ada banyak hal yang gue alami, saksikan, dengar dan rasakan selama di Amrik (sebagian dalam rangka kerjaan dan sebagian lagi eksten dengan biaya sendiri). Gue akan coba tulis dengan alur suka-suka gue; gak ada pola timeline, tematis, atau apa pun. Yang penting, apa yang pengin gue ceritain, nanti gue tulis.

Cerita gue nanti bisa aja panjang, bisa pendek, bisa berupa foto, apa pun deh. Semoga kalian masih mau baca.