Perang yang terjadi antara Samsung dengan Apple sedikit banyak menancapkan citra Samsung sebagai produsen gadget ponsel pintar dan tablet. Padahal, Samsung juga membuat banyak produk-produk keren lainnya seperti televisi, sound system, hingga kulkas dan mesin cuci.
Hari ini, Rabu (27/2/2013), digelar sebuah acara bertajuk Samsung Forum 2013. Ini adalah acara Samsung di seluruh Asia Pasifik untuk memamerkan produk-produk andalan mereka di hadapan media, blogger dan publik.
Semua orang mungkin mengagumi keberadaan Samsung Galaxy SIII, Galaxy Note 8, atau Galaxy Tab. Tapi terus terang, saya kurang bisa mengikuti kecepatan perkembangan teknologi ponsel dan tablet Samsung. Akhirnya, saya lebih senang memperhatikan deretan televisi saja.
Di depan, pengunjung disambut dengan televisi raksasa berukuran 85 inci beresoulsi ultra high-definition. Suasana di dalam ruangan pameran terasa seperi booh Samsung di pameran CES di Las Vegas lho.
Salah satu produk televisi yang menarik perhatian saya adalah Smart TV yang berukuran 55 inci. Selain ukurannya yang besar dan nyaman, televisi ini punya fitur tambahan yang tak kalah menarik. Yang pertama adalah kemampuan sosialnya (sepertinya kemampuan media sosial adalah fiture yang coba ditanamkan Samsung di nyaris semua produknya). Pengguna bisa memakai Twitter, Facebook, Skype dan Youtube di televisi ini. Agar bisa memakai fitur media sosial itu, tentu saja dibutuhkan koneksi internet. Pengguna bisa memakai koneksi kabel (LAN) dan wifi. Dengan fitur-fitur media sosial tersebut, kita bisa lho ngetwit atau update status Facebook lewat televisi, atau menikmati video-video di Youtube dengan layar yang jauh lebih besar dari layar komputer (tentu saja!).
Ada 2 jenis Smart TV yang dipamerkan. Yang pertama yang dilepas untuk pasar Australia memiliki kelebihan lain berupa kemampuan streaming untuk saluran-saluran televisi tertentu. Sayangnya, fitur ini tidak ditanamkan di jenis TV yang dipasarkan untuk wilayah Asia Tenggara.
Fitur andalan lain dari Smart TV ini adalah kemampuan untuk memutar film-film 3 dimensi. Untuk bisa menikmati film 3D ini, kita harus memakai kaca mata khusus. Saat mencoba fitur 3D, gambar yang ditampilkan televisi ini sangat tajam dan terasa nyata.
Namun untuk bisa menikmati konten berupa film atau video musik tersebut, kita harus memiliki koneksi internet karena Smart TV tidak bisa memutar film yang disimpan secara lokal. Artinya, kita tidak bisa cuma menancapkan flash disk atau hard disk berisi film. Televisi harus terkoneksi dengan server di mana film-film tersebut disimpan untuk bisa menikmati konten tersebut. Meski begitu, dengan harga koneksi internet yang semakin murah, seharusnya hal itu tidak jadi masalah.
Samsung sendiri menjamin bahwa konten-konten (khususnya film) yang tersedia di server mereka bakal terus diperbarui. Samsung juga tidak menutup kemungkinan suatu saat ada film-film lokal yang diunggah di server mereka.
Nah, buat yang berniat membeli televisi canggih, Smart TV mungkin bisa jadi pilihan. Tak sekadar mendapat televisi dengan resolusi tajam, jernih dan nyata, tetapi juga televisi yang memungkinkan penggunanya tetap terhubung dan eksis di media sosial.
Disclaimer: Posting blog ini dibuat untuk mengikuti kontes liveblogging Samsung Indonesia. Penulis berusaha untuk menyediakan informasi yang sebenar-benarnya dan sejujur-jujurnya mengenai produk di atas.
Awal tahun lalu, saya menulis kritik terhadap diri saya sendiri perihal membaca buku. Tahun 2011, saya cuma membaca 7-8 buku saja. Untuk seorang yang pekerjaannya setiap hari adalah menulis dan menyunting, tentu ini memalukan. Di akhir tulisan itu, saya menargetkan bisa membaca 15 buku selama 2012.
Setelah setahun, saya menilik ulang buku apa saja yang sudah saya selama setahun. Untunglah ada Goodreads, jadi catatan saya ini lumayan akurat. Kesimpulannya, saya berhasil membaca 25 buku. Rinciannya, buku fiksi berbahasa Indonesia 9 buku, fiksi berbahasa Inggris 12 buku dan nonfiksi 4 buku.
Iya, jumlah buku nonfiksinya paling sedikit. Empat buku nonfiksi yang saya baca adalah Subwayland (buku kumpulan kolom di New York Times yang temanya tentang subway kota NY. Buku saya pinjam dari Cyapila yang ternyata pinjam dari Robin), Soccer 365 (buku yang kebanyakan berisi foto, isinya tentang sejarah Piala Dunia sejak 1938 sampai 2006), Barack Obama in His Own Words (isinya tentang ucapan-ucapan Obama mengenai banyak isu, buku ini dibeli saat ada diskon di Gramedia Yogya) dan Anak Singkong (buku ini nggak beli karena dikasih oleh teman di Detik).
Fiksi masih menjadi minat utama saya. Buku fiksi berbahasa Indonesia yang saya baca kualitasnya bervariasi. Ada yang jelek kaya 1 Perempuan 14 Laki-laki yang menurut saya sampah, yang agak lumayan seperti Sang Musafir dan Perempuan yang Melukis Wajah, atau yang bagus seperti 9 dari Nadira dan Cerita Cinta Enrico. Ada dua buku yang mungkin lebih tepat ditujukan buat anak di sini, yaitu James dan Persik Raksasa serta Gadis Korek Api. Meski sebenarnya ditujukan buat anak-anak, saya tetap menikmati membaca 2 buku itu kok.
Tahun 2012, saya makin gemar membeli dan membaca buku fiksi berbahasa Inggris. Dari yang klasik seperti Anna Karenina (belum dibaca) dan Dubliners, lalu yang modern semacam Love in the Time of Cholera, sampai yang kontemporer semacam The Road atau The Perks of Being a Wallflower. Buku berbahasa Inggris terbaik yang saya baca tahun ini adalah The Catcher in the Rye (jelas!). Saya juga sangat suka dengan Norwegian Wood, A Visit from the Goon Squad dan The Girl with the Dragon Tattoo.
Oya, terakhir, saya juga mengoleksi empat buku Le Petit Prince dalam bahasa Inggris, Prancis, Belanda dan Catalan. Tiga buku terakhir titip ke teman saya Lana yang lagi ke Eropa (if you happen to read this, I remember my due to you :p).
Kemarin-kemarin, waktu seorang teman meng-RT berita soal Thailand yang akan menggelar Grand Prix F1 mulai tahun 2014, reaksi yang muncul adalah menanyakan kapan Indonesia bisa menggelar balap jet darat juga.
Bila beneran sukses mendatangkan sirkus F1, Thailand akan jadi negara ketiga di Asia Tenggara yang melakukannya. Malaysia udah gelar F1 sejak tahun 1999 di Sirkuit Sepang, baru Singapura mengekor tahun 2008. Balapan yang dilangsungkan di atas sirkuit jalan raya di sekitar kawasan Marina Bay ini punya keistimewaan karena merupakan satu-satunya balapan malam di dunia. Thailand berusaha meniru Singapura dengan menawarkan balap di jalan raya di waktu malam. Ini adalah taktik untuk menyenangkan para penonton F1 yang kebanyakan masih terkonsentrasi di Eropa.
Menggelar F1 bukanlah pekerjaan sederhana. Pulling a Formula 1 race is absolutely a mammoth job! Dari pengamatan langsung gue sebagai penonton di Singapura minggu lalu, gue liat begitu banyak hal yang harus disiapkan. Soal jutaan ton logistik lomba, soal akomodasi untuk para peserta dan penonton, hingga ke hal-hal nonteknis balapan seperti parkir, hiburan dan makanan.
Dibanding menggelar balapan di sirkuit di waktu siang, balapan F1 malam di sirkuit jalan raya berarti butuh kerja keras dua kali lipat. Panitia GP Singapura harus menutup banyak jalan sejak seminggu sebelum balapan dimulai, mengangkut perlengkapan penerangan berjuta-juta watt dengan crane-crane yang berukuran raksasa, pembatas (barrier) jalan dari beton yang beratnya naujubilah, pagar tinggi buat memisahkan trek dari penonton, bikin tribun nonpermanen, sampai menyiapkan hal-hal yang sebenarnya kecil tapi nggak bisa disebut remeh kayak toilet, tempat sampah, dll.
Untuk bisa menggelar F1, panitia GP Singapura keluar duit Rp 1,1 triliun. Dari angka itu, sekitar 65 persen ditanggung Pemerintah dan sisanya ditutup oleh sponsor dan pendapatan dari tiket. Nggak murah kan? Sebagai pembanding, anggaran olahraga di APBN 2012 saja ‘hanya’ Rp 200 miliar.
Buat ukuran Singapura yang makmur saja, itu bukan angka yang kecil. Gedenya angka inilah yang bikin negosiasi perpanjangan kontrak antara Singapura sama Bernie Ecclestone jadi alot (makanya waktu diumumkan kalau Singapura memperpanjang kontrak F1 sampai 2017, para penonton di sirkuit pun bersorak). Untungkah Singapura? Bisa jadi. Soalnya, jutaan wisatawan mengalir ke sana selama akhir pekan. Mereka membelanjakan uang sampai 150 juta dolar Singapura alias Rp 1,1 triliun. Impas saja. Tapi keuntungan lain yang didapat Singapura adalah citra dan brand sebagai negara tujuan wisata utama dunia.
Nah, balik ke pertanyaan apakah Indonesia bisa menggelar F1? Jawabnya: ada banyak PR yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Yang pertama adalah sirkuit. Kita Cuma punya Sentul yang nggak memenuhi standar ‘Grade 1’, syarat yang ditetapkan F1.
Mau menggelar di jalan raya? Di mana? Dulu tahun 2009 kita mau bikin GP A1 di sirkuit jalanan di Karawaci saja gagal, apalagi menggelar F1 yang jelas syaratnya lebih ketat?
Kalaupun kemudian ada sebagian jalan di Jakarta yang bisa dijadikan sirkuit jalan raya, pasti bakal ada penutupan jalan. Mengganggu banget, karena macet bakal meluber di sekitaran sirkuit. Tanpa ada penutupan jalan saja, Jakarta setiap hari sudah dikepung macet, apalagi bila ada penutupan.
Di Singapura, kemacetan nggak terlalu terasa karena mereka punya sistem transportasi umum yang sangat baik (tapi teteup ya, ada koran lokal Singapura yang memuat protes warga yang harus memutar). Jakarta jelas bukan contoh yang membanggakan kalau bicara soal transportasi umum. Jakarta cuma punya KRL yang jangkauannya terbatas, dengan jumlah perjalanan yang sedikit banget, jadi kapasitas angkutnya terbatas.
Mau pakai bus? Aduh, lupakan deh. Transjakarta masih kurang busnya, jarak antarbus makin nggak menentu, kondisi bus yang tambah jelek, belum lagi jalurnya diserobot pengendara kendaraan pribadi. Bus umum selain Transjakarta? Ini lagi. Busnya buluk, knalpotnya berasap tebal, sopirnya ugal-ugalan dan masih banyak copetnya.
Singapura punya MRT, kita masih baru mulai membangun dan baru beroperasi tahun 2016. Menurut gue, itu pun nggak akan banyak membantu karena baru tersedia satu jalur. Sedangkan MRT Singapura punya empat line dengan panjang rel 157,9 km dan punya 102 stasiun, Itu pun ya, Singapura masih harus ‘memaksa’ MRT bekerja lembur sampai jam 01.00 pagi selama tiga hari.
Gimana dengan persoalan keamanan? Singapura itu negara polisi (dalam arti positif maupun negatif) yang angka kriminalitasnya kecil banget. Tapi masih saja, selama balapan mereka menerjunkan ribuan petugas polisi dan pengamanan partikelir karena lonjakan jumlah turis itu jadi lahan subur untuk berkembangnya kejahatan. Di Jakarta, angka kriminalitas masih cukup tinggi, apalagi bila ditambah keberadaan jutaan turis? Jangan sampai malah kita dipermalukan di dunia internasional dengan cerita-cerita para korban kejahatan yang sangat mudah beredar secara internasional.
Dari uraian data di atas, jelas kan kalau Indonesia belum siap untuk menggelar balapan F1 dalam waktu dekat; seberapa pun penginnya guengeliat Sebastian Vettel ngebut sampai kecepatan350 km per jam di negeri sendiri. Terima sajalah, level kita memang belum sampai ke sana.
(Ini adalah versi tulisan yang lebih nyantai dari tulisan asli yang dimuat di blog Arena Yahoo! Indonesia di sini)
Sejak pekan lalu, saya mengajak banyak blogger dan mantan blogger untuk kembali menulis. Biasanya, alasan tidak menulis adalah bingung tidak ada ide, atau terlalu banyak ide jadi malah nggak bisa dituliskan.
Awalnya, saya mengajak teman-teman dekat saya buat menuliskan buku-buku favorit mereka yang biasa dibaca di perjalanan. Yang ikut sih paling banyak enam orang, dua teman kantor, dua lagi teman di kantor lama dan masing-masing satu adalah teman blogger dan satu lagi teman yang kenal dari Twitter.
Kemudian, oleh mas Karmin (@fanabis), saya diajak buat mengembangkan flashmob blogging ini. Dia mengusulkan nama #SemingguSatu yang langsung saya setujui karena bagus, singkat dan saya nggak bisa nemu yang lebih baik. Hahahaha.
Jadi, buat menjawab apa itu #SemingguSatu, saya susun aja sebagai FAQ ya.
Apa itu #SemingguSatu?
#SemingguSatu adalah ajakan buat kembali nulis (di blog) dengan tema tertentu. Pekan pertama sudah tentang buku, pekan kedua tentang tempat-tempat favorit.
Siapa yang menentukan tema #SemingguSatu?
Tema akan disaring dari usulan teman-teman semua. Mungkin bisa voting, mungkin juga teman-teman sendiri yang bersepakat.
Kapan tema #SemingguSatu diumumkan?
Saya atau mas Karmin (atau yang lain juga bisa nantinya) akan mengumumkan setiap hari Selasa. Tulisan akan ditunggu sampai hari Selasa berikutnya saat tema selanjutnya diumumkan.
Saya harus lapor ke mana setelah posting #SemingguSatu?
Nggak harus lapor sih. Setidaknya, cukup promosikan posting barumu di Twitter dengan tagar #SemingguSatu. Kalau mau mention saya (@kelakuan) juga boleh. Nanti saya promosikan biar makin rame
Apakah #SemingguSatu didukung sebuah brand tertentu?
Tidak. Saya menjamin bahwa #SemingguSatu bukanlah kampanye brand apapun. Kampanye ini murni ajakan agar para blogger kembali menulis dan memeriahkan blogosfer agar ramai dan dinamis seperti era 2006-2009-an.
Saya udah 4,5 tahun tinggal di Jakarta, tapi tidak pernah merasakan kebetahan yang sama dengan masa saya tinggal di Yogyakarta. Maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, Jakarta buat saya adalah pond of opportunity, bukan sebuah sanctuary.
Tapi Jakarta tetap punya pesonanya sendiri. Ada banyak tempat, kegiatan dan orang-orang yang menarik buat dilihat dan dikenal.
Nah, dalam edisi kedua flashmob blogging yang oleh mas Fanabis diberi nama #SemingguSatu ini, saya akan membahas tentang 5 tempat yang paling menyenangkan yang pernah saya kunjungi di Jakarta (dan sekitarnya).
Toko Buku
Favorit saya adalah toko buku Kinokuniya di Plaza Senayan. Ini tempat buat buku impor yang paling lengkap. Yang paling menggoda adalah rak-rak buku fiksi berbahasa Inggris. Saya sih lumayan betah beberapa kali ngider-ngider doang, baca 1-2 halaman dan nggak beli ) Tapi pernah juga sih saya terjebak masuk ke situ dan secara impulsif beli buku dengan harga yang cukup…menguras kantong.
Tempat favorit kedua adalah Gramedia Matraman. Konon katanya ini toko buku terbesar di Asia Tenggara. Koleksinya jelas, lengkap. Trus lokasinya juga cukup mudah dijangkau. Kalau sudah di dalam, lumayan nyaman buat numpang baca. Hehe.
Toko buku favorit ketiga adalah Times Universitas Indonesia. Bukan di Jakarta sih, tapi di Depok. Ini lebih ke faktor lokasi yang akan saya jelasin di bawah nanti.
Kampus UI
Apa yang bikin kampus Universitas Indonesia menyenangkan buat saya? Baobab! Iya. Di sana ada beberapa pohon baobab, pohon raksasa yang bisa berumur ratusan tahun yang aslinya dari Afrika. Pohon baobab ini fascinating karena merupakan kekhawatiran utama tokoh Pangeran Kecil yang tinggal di planet kecil bernama asteroid B-612.
Pohon-pohon baobab yang di UI dulunya berasal dari Subang. Yang di UI masih kurus-kurus sekarang, tapi beberapa tahun ke depan pasti bakal meraksasa.
Selain pohon baobabnya, saya baru tahu kalau perpustakaan UI super duper awesome! Arsitekturnya bagus banget, ruang-ruangnya nyaman, fasilitasnya lengkap, ada kedai kopi (yang sayangnya) internasional, dan toko buku Times.
Dulu akhirnya diberaniin main ke kampus UI karena ada local guide di situ :p Lumayan juga dapat pengalaman naik bus kuning yang lehendaris itu.
Kebun Binatang Ragunan
Salah satu dari sedikit ruang terbuka hijau yang masih tersisa di Jakarta. Enak buat jalan-jalan siang-siang, ramai-ramai ataupun sendiri. Bisa membawa tikar dan bekal buat piknik. Oya, di dalam KB Ragunan ada pusat primata Schmutzer. Di sini, monyet-monyetnya banyak dan relatif sehat (soalnya dibiayai lembaga asing, kalau mengharap Pemerintah kasih dana layak buat perawatan hewan-hewan itu sih sama aja mimpi).
Plaza Senayan
Iya, saya memang nggak suka mall. Tapi buat pengecualian, saya suka Plaza Senayan. Ini bukan karena saya ngantor di samping PS sih. PS menurut saya adalah mall yang humble dari segi arsitektur. Tidak high rise, dan tidak mudah membuat para pengunjungnya tersesat seperti Grand Indonesia yang raksasa itu.
Meski bangunannya humble, tapi tidak dengan brand-brand yang dijajakan di sini. Terutama di lantai dasar.
Oya, di samping PS dan di depan kantor saya (Sentral Senayan II) ada air mancur yang terletak di tengah-tengah empat pohon beringin kecil. Kadang, kalau sore saya duduk-duduk di bawah pohon beringin sambil menyesap kopi atau merokok (atau melakukan keduanya bersamaan) sembari menonton air mancur yang diiringi musik,
Salihara
Yeah, inilah tempat buat mereka yang suka dengan seni, sastra dan diskusi intelektual yang berbobot *tsaah* Enggak, saya suka ke sini kalau ada pembacaan puisi atau ada konser musik jazz. Tapi kalau ada kuliah filsafat, diskusi buku atau pementasan teater sepertinya nggak terlalu tertarik. Saya senang kalau kerja dari tempat ini (ada wifinya), mungkin karena lokasinya yang dekat banget dengan kos :p
Seperti tradisi dalam dua tahun belakangan, XL Axiata kembali menggelar acara #XLNetRally yang bertujuan untuk menguji ketangguhan sinyal mereka menghadapi lonjakan komunikasi voice, SMS dan data saat Idul Fitri nanti. Tahun ini, XLNetRally digelar hari Jumat dan Sabtu (6 dan 7/7/2012).
Saya termasuk yang diundang oleh XL untuk mengikuti XLNetRally itu dari Jakarta bersama dengan belasan blogger lain. Beberapa sudah saya kenal seperti Wiwik, Chichi dan Marcos. Yang lain-lain ada yang sudah pernah beberapa kali melintas namanya di timeline Twitter seperti om kumis IDBerry, tapi ada juga yang benar-benar belum kenal seperti om Edo Rusyanto, Benny Nugroho, Fajar Dinihari, Ronald ‘WowKonyol’ dll. Selain para blogger, XLNetRally juga mengajak rombongan wartawan dari berbagai media. Selain itu, ada juga blogger yang berangkat dari Bandung dan Surabaya.
Hari 1
Sebagai anak kereta sejati (iya, sejak 4-5 bulan belakangan saya rutin naik KRL buat pergi dan pulang kantor), saya mulai berangkat dari Stasiun Pasar Minggu, Jumat pagi banget. Saya naik KRL jurusan Jakartakota dan turun di Stasiun Gambir tepat jam 6.00 pagi. Di Gambir, saya ketemu dengan beberapa teman blogger, juga Adhams dari XL, serta kenalan sama mas Harry Deje, mas Dipa, mas Saranto dan mas Dolly dan mbak Turina (semuanya dari XL) serta dua ranger @XLCare idola kita semua, yaitu neng Alin dan neng Intan. Lalu ketemu juga dengan Ardhi, bosnya detikInet, yang sempat mengira saya pergi sebagai wartawan tapi ternyata enggak )
Ini saya: Big Daddy is watching you! (Foto: Wiwikwae)
Sebelum berangkat, ada sedikit sambutan dari Presiden Direktur XL Axiata Hasnul Suhaimi. Hasnul menjelaskan bahwa kebutuhan data para pengguna seluler di Indonesia makin meningkat. “Saat ini, layanan 2G saja tidak cukup, sudah harus 3G,” ungkap dia. Karena itulah, XL berusaha terus memperbanyak BTS 3G dengan target membangun 1.000 BTS 3G tiap bulan guna melengkapi ‘arsenal’ BTS mereka yang sudah mencapai 33 ribu BTS. (Btw, pagi itu kelucuan pak Hasnul ngalah-ngalahin MC-nya, Tommy *pecut Tommy*)
Sekitar pukul 7.30 pagi, setelah diajak ngobrol sama pak Hasnul yang berpesan ala restoran Padang, “kalau Anda puas dengan layanan XL, ceritakan pada yang lain; kalau tidak puas, ceritakan pada kami,” kami berangkat menuju Semarang. Regu blogger ditempatkan di gerbong eksekutif KA Argo Muria yang sudah di-booking khusus, sementara rombongan wartawan ditempatkan di gerbong khusus wisata Toraja #envy. Di dua gerbong ini, XL menyediakan layanan wifi yang menggunakan layanan data XL juga. Karena itu, saya mencoba mengetes kekuatan sinyal wifi itu dengan laptop saya. Selama masih bergerak di Jakarta sih cukup oke. Saya bisa membuka MetroTwit, Gmail, sampai membaca 9Gag. Oya, saya bahkan membuat post di blog Posterous saya dengan menggunakan sinyal wifi tadi. Agak tersendat sih, tapi sukses terunggah tuh. Selanjutnya, kualitas sinyal XL bervariasi. Kalau di daerah yang cukup banyak rumah, kualitas sinyal cukup bagus buat sekadar ngetwit, tapi kalau di daerah tengah hutan yang cukup terpencil, biasanya kualitas sinyal memburuk sehingga gadget tidak bisa nyambung ke internet.
Chichi, Wiwik, saya dan Marcos bersama Pak Hasnul Suhaimi (Foto: Chichi Utami)
Ini saya lagi mencoba internetan dengan laptop memakai sinyal wifi XL. Memakai kelambu biar nggak ketahuan lagi buka apa :p (Foto: Wiwikwae)
Di perjalanan, tim dari XL, mas Irwan dan mas Asep, menjelaskan mengenai bagaimana wujud kesiapan XL menghadapi lonjakan komunikasi sebelum dan sesudah Idul Fitri. Layar tv LCD di gerbong kereta menampilkan peta rute yang sedang ditempuh KA Argo Muria dan titik-titik berwarna hijau (yang berarti kualitas sinyal sangat bagus), kuning (kualitas sinyal sedang) dan merah (kualitas sinyal buruk atau blank). Di jalur utara. Mayoritas kualitas sinyal XL terpantau berwarna hijau. Meski begitu, ada juga beberapa titik merah, seperti di sekitar Alas Roban, Batang. Mas Irwan dari XL memaparkan kalau kontur alam di sekitar daerah itu memang menyulitkan buat menempatkan BTS. Bila kondisi memungkinkan, XL akan mengerahkan mobile BTS buat memperkuat sinyal.
Saya sempat menanyakan apakah XL juga melakukan persiapan serupa di jalur selatan, mengingat saya pulang mudiknya ke Purwokerto. Mas Asep mengonfirmasi hal itu, tapi dengan memberi catatan bahwa kualitas sinyal XL di Purwokerto masih kategori merah. Waaa…sedih tuips. Kampung halamanku ternyata terbelakang (belakangan, ada keterangan tambahan kalau XL secara rutin menempatkan mobile BTS di Purwokerto guna mengatasi kelemahan itu). Semoga pada saat Lebaran sudah teratasi ya, mas dan mbak di XL. Kan nanti Lebaran saya mau kirim-kirim ucapan lewat Whatsapp dan Twitter, biar hemat :p
Kilometer demi kilometer dilalui KA Argo Muria ini. Cirebon, Tegal, lalu Pekalongan. Pemandangan indah alam pulau Jawa yang masih asli membentang di kiri dan kanan kereta. Waktu semakin siang, kami pun diberi kesempatan makan siang. Menunya mantap jaya: sop buntut. Mengisi perut yang kosong buat mengembalikan tenaga yang terkuras buat haha-hihi dan ikut kuis di atas gerbong, dengan ditemani pemandangan sawah, pepohonan, laut, kota, dan desa, sungguh menyenangkan hingga kantuk pun menjelang. Tapi kantuk yang menyerang tidak sempat terpuaskan oleh tidur karena sekitar pukul 13.30 kereta kami tiba di Semarang. Rasa-rasanya, saya sudah 12 tahun tidak pernah menginjakkan kaki di ibukota Jawa Tengah ini.
Di Stasiun Semarangtawang kami disambut oleh mbak-mbak manis yang menyuguhkan jamu beras kencur dan kunir asem yang sueger. Lalu, setelah rehat beberapa menit (sempat merokok di luar stasiun bareng om Edo), kami dibagi dalam 4 rombongan. Saya masuk dalam Bus 4 bersama beberapa blogger lain dan 2 ranger idola kita bersama #ihik. Kirain busnya bus biasa, tapi ternyata dugaan saya salah! Keempat bus yang membawa kami menuju Jogjakarta adalah bus eksklusif milik Omah Mlaku (Bus 1 dan 2) dan AM Trans (Bus 3 dan 4). Bus ini punya desain interior seperti rumah, lengkap dengan kamar tidur, dapur, kursi duduk, sofa panjang, kursi pijat Osim, kulkas dan tv LCD 32 inci.
Penampakan bus AMTrans yang kami naiki
Melihat ada tv, sound system dan dua mik, insting para banci karaoke pun muncul. Sayangnya, di koleksi milik bus cuma ada karaoke lagu-lagu jadul semacam lagunya Deddy Dores. Untunglah om Deddy (yang bukan Dores) ID Berry datang dengan pertolongan lewat BlackBerry Playbooknya. Setelah colok sana colok sini, akhirnya kami bisa berkaraoke lagu-lagu yang…tetep jadul, seperti lagu More Than Words-nya Extreme sampai I Want to Know What Love Is-nya Foreigner #karaokepenyingkapumur. Errrr. Tapi ada juga lagu-lagu baru ding seperti lagunya Katy Perry. Nyaris sepanjang tiga jam perjalanan darat itu kami nyanyi-nyanyi dan ketawa-ketawa terus sampai tidak terasa kami sudah menjejak bumi Sleman. Horeee! Bus kami diarahkan ke Restoran Mang Engking di jalan Godean. Dasar lapar, semua makanan mulai dari karedok, ikan goreng dan bakar, sampai udang goreng dan bakar yang lezat dibantai tanpa sisa. Di sini, beberapa dari kami mengagumi kemampuan Adhams buat melahap porsi besar makanan meskipun badannya nggak besar )
Suasana interior bus AM Trans
Keluar dari Mang Engking, kami dibawa menuju Raminten, tempat tongkrongan anak muda yang sepertinya sedang hits di Jogja, di kawasan Kotabaru. Tapi karena tempatnya penuh (dan sepertinya tidak banyak tempat parkir tersedia buat empat bus berukuran raksasa), kami akhirnya langsung dibawa ke hotel Grand Quality tempat kami menginap. Menyusuri jalanan Jogja dari atas bus seperti layaknya turis ternyata sanggup membuat saya merasakan kangen terhadap kota yang terakhir saya kunjungi akhir Februari lalu itu. Kelebat kenangan bersama orang-orang tertentu melintas di kepala sembari saya ngobrol dengan Chichi (aslinya #surhat, tuips). Sudah-sudah, nggak usah dibahas lagi soal kenangannya. Takut nanti postingannya berubah jadi curhat )
Sampai di hotel, menaruh barang bawaan yang tidak seberapa, lalu mandi dan bersih-bersih badan, saya sih nggak langsung tidur (kecuali Wiwik yang langsung molor sehabis mandi. Faktor U, tuips #digetok). Ajakan buat Jumintenan bareng anak-anak CahAndong langsung disambar saya dan Chichi. Naik taksi, kami bergabung dengan Sandalian, Lina (dan Lumen yang tertidur pulas), Pangsit, Christin dan Choro di Kopiitem, Babarsari. Ngobrol sana-sini, saya dan Chichi berniat buat menyusul rombongan hore #XLNetRally yang dipimpin om Deddy yang katanya sedang ngopi joss di angkringan Tugu. Sampai sana, lho kok sepi? Selidik punya selidik, mereka ternyata pintong ke Malioboro, tepatnya di dekat Batik Terang Bulan. Kami menyusul ke sana naik becak (serius, saya selama 4,5 tahun di Jogja keknya nggak pernah naik becak di Malioboro). Di sebuah warung lesehan, selain om Deddy juga ada Cak Uding (dengan jenggotnya yang mooi. Hihi) dan Leoni yang menyusul sendiri dari Jakarta, lalu ketemu juga dengan tweeps Jogja seperti Jewe (yang baru pernah ketemu), Bernad, Arga, Utied dan Ilham. Nongkrong sampai sekitar jam 1.30, kami akhirnya pulang ke kamar dan tidur.
Hari 2
Sabtu pagi, saya bangun jam 7.00 walau malamnya baru tidur jam 2.00. Udah kebiasaan tuips, libur-libur pun bangun pagi. Sarapan di hotel, terus ketemu dengan blogger dari Surabaya, Benny Chandra, lalu juga ketemu dengan dua blogger Bandung yang udah sering mensyen-mensyenan, Catur dan teh Nita Sellya.
Sedari malam, saya merasakan kalau sinyal XL di Jogja nggak terlalu bagus. Browsing dan whatsapp sering gagal atau delay. Saya pun sempat mengadu ke Adhams agar ke depan ada perbaikan. Sembari menunggu rombongan siap untuk menuju Liquid Cafe tempat akan digelarnya Obsat, Adhams menjelaskan kepada saya tentang bagaimana sinyal seluler bekerja. Ada banyak istilah teknis yang kurang saya mengerti, tapi saya banyak belajar mengenai kenapa sinyal seluler bisa kuat dan lemah, apa saja yang jadi penghalang, dlsb #learnnewthingseveryday
Sebelum menuju ke Liquid di Jalan Magelang, saya, Chichi dan Wiwik sempat menengok seorang teman yang sedang hamil muda dan harus diopname di RS Happy Land (Cepat sembuh ya, Nungk!) sebelum menyusul ke Liquid dengan taksi. Sampai sana, ternyata rombongan yang dari hotel malah belum sampai ) Maka, kami pun makan duluan. Menunya gudeg dan pecel, trus ada juga gerobak angkringan yang menyediakan teh jahe anget. Sayang acaranya siang sih, jadi teh jahenya kurang nendang. Coba kalau malam (Jogja lagi dingin banget di musim kemarau ini, katanya bisa sampe 20 derajat Celcius), pasti bakal habis lebih dari dua gelas tuh. Selain rombongan dari Jakarta, Bandung dan Surabaya, juga datang blogger dan tweeps dari Jogja, Solo dan sekitarnya seperti Hamid, Bagus, dkk.
Acara Obsat pun dimulai. Pertamanya, mas Asep kembali memaparkan kesiapan jaringan XL menghadapi derasnya penggunaan jaringan seluler selama Lebaran. Sehari-harinya saja, XL harus mengantarkan trafic suara sebanyak 600 juta menit, 660 juta SMS dan 52 Terabyte (TB) data. Apalagi saat Lebaran, traffic itu naik hingga 30%. Masih dari XL, mas Deje dan ranger Alin dan ranger Intan kemudian menjelaskan mengenai apa itu @XLCare, yaitu customer service yang berbasis media sosial Twitter dan Facebook. Sehari-hari, ada 8 petugas yang disebut ranger akan menjawab keluhan dan pertanyaan pengguna XL serta berbagi informasi seputar gadget dan telekomunikasi yang disebut #XLShare. Menurut saya, menggunakan media sosial buat menampung keluhan dan pertanyaan pelanggan cukup strategis. Sekarang, dibanding menelpon call center dan harus memencet-mencet beberapa angka sebelum bisa bicara dengan CS (ya kalau CSnya nggak sibuk? Kalau CSnya sibuk, harus nunggu. Kan bayar tuh). Apalagi, XLCare berjanji bahwa setiap pertanyaan atau keluhan akan direspons paling lambat dalam tujuh menit!
Ranger Intan, Alin dan Hary Deje sedang presentasi (Foto: Marcos)
Selesai giliran dari XL, kemudian tampillah Edo Rusyanto. Meski rambutnya sudah memutih, blogger otomotif yang satu ini masih sangat semangat bicara tentang road safety, apalagi menjelang musim mudik Lebaran. Data yang didapat Edo dari Polri, dari H-7 hingga H-1 Idul Fitri tahun 2011, terjadi 297 kecelakaan dengan korban meninggal dunia 49 orang, 83 orang luka berat dan 315 luka ringan. Edo menambahkan kalau mayoritas dari korban kecelakaan itu adalah pemotor. Pemotor memang rawan kecelakaan, selain karena kendaraannya kecil, ia juga mudah diserang kelelahan yang membuat konsentrasi turun dan menimbulkan kecelakaan. Edo menyarankan agar pemotor beristirahat tiap 2 jam, namun tetap tidak menyarankan naik motor buat mudik mengingat risikonya.
Sesi terakhir dari Obsat kali ini adalah pemaparan Trinity tentang gadget dan travelling. Trinity yang rutin menulis blog di Yahoo!, selain di blognya sendiri, mengaku kalau orang lain itu menganggap bepergian sebagai liburan, maka ia menyebut bahwa liburan adalah pekerjaan rutinnya. Sementara liburan buat dia adalah ketika berdiam diri di rumah. Trinity menjelaskan bahwa gadget punya peran penting dalam travelling. Selain sebagai dokumentasi, juga demi eksistensi diri di media sosial. Karenanya, penting juga buat memilih operator yang memiliki jangkauan sinyal luas dan bisa roaming data di luar negeri.
Selesai Obsat di Liquid, saya, Wiwik dan Chichi melipir ke Kedai Kopi Gejayan buat kopdar (lagi!) dengan teman-teman CA. Di sana hadir Lina dan Lumen (kali ini bangun, yay!), Enade PhD, Ijal, Momon, Nico dan Celo. Ngobrol sana-sini, dari yang nggak penting sampai yang nggak penting sekali banget, akhirnya sekitar jam 16.45 saya harus pamit buat ke bandara karena ditunggu pesawat ke Jakarta jam 17.40. Setelah dibekali oleh-oleh sekardus besar (yang isinya antara lain gudeg kendil Yu Djum yang lehendaris itu), menunggu sebentar di ruang tunggu, akhirnya saya boarding ke pesawat Lion Air yang hebatnya hari itu on time sodara-sodara! Saya beruntung karena saya duduk sederet sama ranger ^AL #ihik. Yang tadinya berniat buat baca buku (atau tidur) di pesawat, saya malah akhirnya ngobrol sama Alin hingga nggak kerasa pesawat sudah mendarat di Bandara Soekarno Hatta Tangerang. Aaaaakkk. Cuma 50 menit tuips! I wanted more! #eh
Senja di langit Jogja menjelang kepulangan
Sungguh, perjalanan #XLNetRally kali ini sangat enjoyable. Jalan-jalan ke Semarang dan Jogja, trus ketemu teman-teman baru yang asyik banget. Semoga tahun depan saya diundang lagi ya #ngarep
Disclaimer: XL menanggung semua biaya perjalanan dan akomodasi selama saya berangkat dari Stasiun Gambir sampai pulang ke Jakarta lagi. Tulisan ini sangat diupayakan untuk tetap obyektif, tetapi penilaian akhir saya serahkan kepada pembaca sekalian.