Kenapa Harus Detoks Internet?

Image dari Wired.co.uk

Selama 2015, khususnya di paruh kedua tahun ini, gue merasa bahwa gue makin ketergantungan dengan internet. Tersedianya koneksi internet kabel di kamar, dengan biaya cukup murah tapi benwitnya mayan gede dan tanpa kuota, menambah keasyikan buat online. Sering banget, setelah nyampe pulang dari kantor, yang gue lakuin adalah online lagi; di Mac (ngurusin sisa kerjaan. ciyee!) ataupun lewat iPhone. Lanjutkan membaca Kenapa Harus Detoks Internet?

MUZE – Music Experience Without The Wire: Headphones dan Speaker Bluetooth Kece dari Polytron

IMG_2015-12-07 17:10:48

Dengerin musik disukai nyaris semua orang. Nggak terkecuali gue. Ketika lagi di rumah, waktu kerja di kantor, ketika lari (duluuuu!) atau ketika sedang bepergian. Kegiatan yang satu ini bisa bikin gue lebih santai, lebih fokus, lebih bersemangat dan lebih gembira.

Misalnya nih kalau pagi-pagi sebelum berangkat kerja. Adanya musik yang mengiringi gue pakai baju atau ketika gue nyiap-nyiapin barang-barang yang harus dibawa ngantor, bisa bikin semangat lho. Biasanya gue menyempatkan buka Spotify di laptop (nggak bisa donlod di iPhone, nih!) dan muter lagu-lagu yang upbeat.

 Nah, dengan kegemaran gue dengerin musik gitu, tentu saja gue seneng banget nih waktu dipinjemin headphones dan speaker dari Polytron. Yang headphones namanya Muze PHP-ZB1 dan yang speaker bluetooth namanya Muze PSP-B1. Dan setelah pakai selama kurang lebih 2 minggu, nggak pake basa basi lagi, berikut ini penilaian gue buat dua benda ini.

Desain

Secara desain, headphones Muze PHP-ZB1 bagus banget. Dengan warna luar putih dan hitam di bagian dalam (di bagian karet), Muze PHP-ZB1 enak dilihat dan nggak terlalu berat. Selain itu, bahan karet dan busa di bagian dalam Muze PHP-ZB1 juga bikin nyaman di kepala waktu dipakai. 

IMG_2015-12-07 17:07:24

Kalau misalnya dipakai ketika sedang di perjalanan, Muze PHP-ZB1 juga keliatan keren banget. Warna putihnya membuat headphones ini terlihat elegan dan berkelas. Bukan nggak mungkin, orang di sebelahmu jadi tanya itu headphones apaan dan juga tertarik buat pakai dan ikut merasakan asyiknya pakai Muze PHP-ZB1.

Desain speaker Muze PSP-B1 juga oke, sayangnya bagian baterai di bawah cuma ditutup karet seal yang agak tipis. Cukup repot ya kalau ternyata meja/lantai kena air. Tapi secara umum, Muze PSP-B1 juga cakep dilihat dengan warna utama abu-abu. Bahan logam yang mendominasi speaker ini membuatnya berkesan kokoh. Buat pemakaian dalam waktu lama, speaker ini juga menjanjikan keawetan karena desain dan materialnya yang cakep. 

Bobotnya juga nggak berat, enak buat dibawa-bawa. Kaya gue nih, seringnya speaker ini gue pajang di meja kantor buat dengerin musik di luar jam kerja. Tapi kalau weekend, gue beberapa kali bawa pulang speaker ini buat dipakai di rumah. Yah, bawa speaker Muze PSP-B1 ini mah enteng, nggak memberatkan tas. Jadinya mudah aja gitu buat dipindah-pindah.

Instalasi

Buat mendengarkan musik, Muze ZB1 atau Muze PSP-B1 harus disambungin dengan perangkat yang mendukung fitur bluetooth A2DP (advanced audio distribution profile). Untungnya, iPhone dan Mac gue sudah mendukung fitur A2DP ini dan buat nyambunginnya ke speaker atau headphones ini sangat mudah. Tinggal nyalain bluetooth, trus cari di Mac/iPhone, nyambung deh. Kalau sudah pernah di-pairing, biasanya antara Mac/iPhone dengan headphones atau speaker ini juga akan tersambung langsung waktu bluetooth di masing-masing bagian nyala.

Kualitas suara

Nah sekarang bagian paling penting dari produk audio: suara. Mau desain bagus dan trendi, tapi kalau suaranya nggak oke, nggak berguna juga kan speaker atau headphones-nya. Nah, menurut gue, kualitas suaranya PHP-Muze ZB1 dan Muze PSP-B1 ini keren.

thumb_IMG_1606_1024

Suaranya bulat dan nggak pecah, bahkan ketika suaranya dikencengin sampai pol. Paling enak sih buat dengerin lagu-lagu yang upbeat kaya lagu-lagu dari DJ top kaya Tiesto, Zedd, Calvin Harris dan lainnya. Suara basnya nendang, tapi kualitas mid dan treble-nya juga layak dipuji, misalnya buat menampilkan suara piano/keyboard dan vokal (khususnya vokal cewek).

Tapi jangan salah, headphones Muze PHP-ZB1 dan speaker Muze PSP-B1 buat dengerin lagu-lagu rock atau pop juga sangat oke kok. Gue pernah tuh dengerin sealbum Metallica (yang album Black) dan puas banget sama suara distorsi gitar atau gebukan drum yang kedengaran dengan jelas dan (lagi-lagi) nggak pecah walaupun pakai volume cukup kencang.

Ketahanan baterai

Headphones bluetooth sangat membutuhkan baterai yang oke biar tahan lama buat dengerin musik di jalan sebelum di-charge lagi. Kerennya, Muze PHP-ZB1 ini punya baterai lumayan mumpuni. Biasanya, dengan habit dengerin musik kaya sekarang (ya sekitar 4-5 jam sehari dari total waktu di luar rumah yang mencapai 11-12 jam sehari), baterai Muze PHP-ZB1 bisa tahan sampai 2 hari lho.

Sementara penilaian gue buat baterai speaker Muze PSP-B1, masih bisa diperbaiki dari yang sekarang. Baterai Muze PSP-B1 biasanya bertahan selama seharian. Meski begitu, gue sih cukup puas ya dengan baterai speaker ini karena letaknya yang selalu berada dekat colokan jadi bisa cepat-cepat di-charge ketika sudah mulai kehabisan daya.

Secara keseluruhan

Penilaian akhir gue, dua alat audio personal ini adalah pilihan yang sangat baik untuk dipakai di kantor, di perjalanan atau di rumah. Gue percaya bahwa produk audio yang baik membuat kita nyaman dalam menikmati musik dan membuat kita bakal lebih mengapresiasi karya musik.

thumb_IMG_1465_1024

Dengan desain yang juga cakep dan performa yang sangat baik kaya gini, Polytron Muze PHP-ZB1 dan Muze PSP-B1 bisa jadi pilihan buat mereka yang berjiwa muda dan nggak ingin ketinggalan tren terbaru. Apalagi, dengan kualitas audio yang cakep begini, harganya cukup terjangkau, kok. Dijamin nggak akan bikin kantong jebol.

 

 

 

New York, New York

NYC2
Senja di Sungai Hudson

Prolog: Ketika beberapa hari lalu gue melihat Timehop, gue cukup kaget ketika mengetahui kalau perjalanan gue ke Amrik berlangsung setahun lalu. Baru sedikit tulisan tentangnya, jadi gue memaksa diri buat menulis lagi.

Pemandangan di tepi Sungai Hudson petang itu sangat indah. Mentari musim panas masih bertengger di atas cakrawala di arah barat; memantulkan cahaya yang cukup terang di permukaan sungai yang mengalir tenang. Di sebelah barat sungai, gue melihat bangunan West Point, sekolah militer Amerika yang tersohor itu. Gue melaju dengan kecepatan sekitar 80 km per jam di atas kereta Amtrak Lake Shore Limited dari Buffalo ke New York City.

Jantung gue berdegup agak lebih kencang dari biasanya ketika Google Maps gue menunjukkan gue sedikit lagi masuk ke Manhattan. Nggak cukup kencang buat dibilang dagdigdug sih, tapi tetap gue tahu detak jantung ini sedikit lebih cepat dari biasanya. Perasaan excited itu tak lain dan tak bukan adalah karena gue sebentar lagi akan menjejakkan kaki di New York City.

Kereta mulai masuk ke (Pulau) Manhattan.
Kereta mulai masuk ke (Pulau) Manhattan.

New York City (NYC) adalah kota paling urban di dunia. Dia adalah kuali peleburan. Dia adalah si Apel Besar. Dia adalah kota yang tak pernah tidur. Dia adalah, dia adalah, dia adalah. Sederet julukan superlatif lain berseliweran di kepala gue saat itu.

Siapa sih yang nggak bermimpi untuk pergi ke NYC? Meski gue pernah dibilangin kalau kota terindah di Amerika itu bukanlah NYC, tapi Chicago, tapi tetap saja gue merasa bahwa gue harus mengunjungi kota ini. Menjejakkan kaki gue di trotoar lebar yang diinjak oleh jutaan orang lainnya, baik yang cuma turis atau yang mengharapkan untuk mengais nafkah di sana. Menaiki subway-nya yang melegenda, atau memandang takjub gemerlap lampu di Times Square.

Sekitar jam 8 malam, kereta Amtrak gue akhirnya masuk ke Penn Station, stasiun terakhir di rute ini. Gue berdiri dan meraih dua tas yang gue bawa masuk ke kabin. Nggak lama kemudian, kereta benar-benar berhenti. Gue perlahan berjalan ke pintu keluar dan turun dari gerbong. New York, bung!

“Are you still coming?” Sebuah pesan masuk ke layar iPhone gue. Itu adalah pesan dari host AirBnB yang akan gue tumpangi. Dia tanya begitu karena gue bilang ke dia seharusnya gue sampe ke NYC sekitar jam 6 sore. “Sure. Sorry my train was delayed. I will be right there soon,” begitu jawab gue.

Gue harus menunggu bagasi gue keluar dulu karena gue menaruh koper besar gue di sana. Gue pasang earphone dan lewat Youtube gue memutar lagu Empire State of Mind yang menjadi semacam lagu wajib buat orang yang datang ke NYC. Nggak terlalu lama menunggu, akhirnya koper gue nongol juga. Segera saja gue seret barang-barang bawaan gue ke stasiun subway yang berada cukup jauh dari stasiun Amtrak di Penn Station.

Buat naik semua bus dan subway di NYC, gue harus beli tiket mingguan yang harganya $30. Setelah beli kartu Metro dari mesin, gue agak kerepotan dengan barang bawaan gue karena buat mencapai peron gue harus naik tangga yang meski nggak terlalu tinggi tapi cukup bikin pegel juga. Sesampainya di atas, gue ternyata salah peron. Dang! Menurut orang yang gue tanyai, peron itu buat arah Downtown, sementara alamat yang gue tuju ada di Uptown. (Sederhananya: Downtown itu untuk yang nomor jalannya kecil-kecil, 1-42 biasanya. Uptown untuk yang nomor jalannya besar-besar, mulai dari 70 sampai 180-an.)

MTA Metro Card paling atas. Di bawahnya ada TAP dari LA dan Ventra dari Chicago.
MTA Metro Card paling atas. Di bawahnya ada TAP dari LA dan Ventra dari Chicago.

Setelah berpindah ke peron yang benar, akhirnya gue naik juga tuh subway NYC yang tersohor. Sebelumnya gue udah screenshot tuh Google Maps yang memerintahkan gue harus turun di mana. Bikin screenshot cukup penting karena bisa jadi di dalam terowongan kereta nggak ada sinyal seluler.

Suasana di subway NYC yang agak padat.
Suasana di subway NYC yang agak padat.

Kereta agak padat meski jam udah menunjukkan lewat jam 9 malam. Perjalanan gue dari Penn Station ke Stasiun Cathedral Parkway di Uptown ternyata makan waktu cukup lama, nyaris 30 menit. Pelajaran pertama sebagai turis di NYC adalah: subway memang membuat lo bebas macet. Tapi kalau tempat menginap lo jauh dari Downtown, tetap aja butuh waktu lama buat perjalanannya.

(Bersambung)

Selfie-lah Sebelum Selfie Itu Dilarang

Dikit-dikit selfie, dikit-dikit selfie. Selfie alias swafoto memang jadi aktivitas yang dilakukan oleh nyaris semua orang. Coba saja cek hape lo, pasti ada foto selfie-nya. Kalo nggak ada, berarti lo termasuk antimainstream. Salut deh!

Popularitas selfie emang ke mana-mana, sampai-sampai kata ini masuk sebagai lema resmi Kamus Oxford. Mungkin karena pada dasarnya manusia itu suka menyanjung diri sendiri. Dengan selfie, kamu bisa memilih angle yang memperlihatkan kegantengan atau kecantikanmu. Ya nggak?

Resep selfie sebenarnya sederhana: kamera depan (di ponsel) yang bagus ditambah sudut pengambilan gambar yang bagus. Kenapa kamera depan? Karena selfie biasanya diambil dengan kamera itu, dengan pengambil gambar (sekaligus obyek foto) menghadap layar ponsel biar tahu fotonya udah bagus apa belum.

Dengan tren begitu, produsen ponsel sekarang memang cukup serius memikirkan kamera depan produknya. Nah, kemarin ini, Kamis (11/6), salah satu produsen ponsel dari Cina, Vivo, meluncurkan X5 Pro. Fitur andalannya: kamera depan dengan resolusi 8 MP. Itu masih ditambah dengan burst mode hingga 5 foto. Selfie terus deh itu sampe bedak dan lipstik luntur. :)) (Ya nggak papa sih, kan selfie bukan kejahatan. Selfie-lah sebelum selfie itu dilarang.)

Vivo3

Nggak cuma kamera depannya yang mantap, kamera belakangnya juga cakep dengan resolusi  13 MP. Kamera belakang juga dilengkapi fitur PDAF biar hasil foto lo nggak blur.

Dari segi jeroan, X5 Pro cukup menjanjikan sih. Layarnya berukuran 5,2 inci dengan teknologi Super AMOLED biar lo bisa melihat gambar yang tajam dengan warna-warni yang kaya. Prosesonya pakai Qualcomm Snapdragon Octacore dan memorinya 2 GB yang bikin lo leluasa buka banyak aplikasi dalam waktu bersamaan. Buat OS-nya, Vivo mengembangkan OS bernama FunTouch 2.1 yang merupakan modifikasi dari Android Lollipop.

Vivo4

Semua itu dibungkus dalam sebuah ponsel berdesain cantik (meski bagian bawahnya agak mirip sebuah ponsel brand Amerika) dan akan dilepas ke pasaran dengan harga Rp4.999.000.

Vivo2

Jalan Tikus

Jalan2

Akhir pekan kemarin, gue membantu teman gue pindahan. Dia yang awalnya hidup berpindah-pindah dari satu kos ke kos lain, lalu tinggal di apartemen, sekarang punya rumah sendiri. Dari yang tinggal di Jakarta Selatan, sekarang dia tinggal di selatan Jakarta alias Kota Depok, Jawa Barat.

Depok adalah satu dari lima daerah penyangga atau suburban dari sebuah metropolitan raksasa bernama Jakarta. Empat penyangga lainnya adalah Bogor, Bekasi, Tangerang dan Tangerang Selatan. Kelima daerah ini punya peran penting bagi Jakarta karena tak cuma berperan sebagai lokasi tempat tinggal banyak orang yang bekerja di Jakarta, tapi juga punya fungsi lain seperti pemasok sumber daya alam, hasil pertanian hingga ke penyeimbang lingkungan.

Proses perjalanan pindah ke Depok itu gue lakukan dengan menumpang mobil pick up yang disewa untuk mengangkut barang-barang teman gue. Perjalanan yang gue lakuin bersama mobil pick up itu cukup berliku-liku. Melewati jalan-jalan sempit di Jagakarsa, lalu sampai ke Tanah Baru.

Sepengamatan gue, jalan-jalan di kawasan Jagakarsa dan Depok ini jauh dari ideal. Jalannya sempit, di beberapa tempat masih dilintasi pejalan kaki (yang terpaksa turun ke aspal karena nggak ada trotoar), kadang juga dilintasi gerobak bakso dan mie ayam, lalu ada motor dan mobil yang parkir di tepi jalan, pedagang-pedagang aneka barang, dan lain-lain.

IMG_2015-04-05 22:47:46

Jalan Tanah Baru misalnya. Jalan yang sepertinya cukup penting dan membentang cukup panjang dari utara ke selatan kondisinya cukup memprihatinkan. Sempit dan penuh dengan kendaraan dan manusia. 

Gue lalu teringat pengalaman gue kira-kira setahun lalu nyetir ke sebuah tempat di kawasan Pondok Ranji, Tangerang Selatan, untuk datang ke resepsi seorang teman. Kondisinya mirip. Alhasil, nyetir mobil matic ternyata nggak bisa menghentikan rasa capek yang gue alami begitu udah sampai Jakarta Selatan.

Antara Jagakarsa, Depok dan Tangerang Selatan memiliki masalah yang sama terkait ketersediaan jalan. Kalau lo melihat ke Google Maps, cobalah zoom ke daerah-daerah yang gue sebutin di atas dan lihat betapa tidak teraturnya bentuk-bentuk jalan di sana. Gue gagal menemukan jalan protokol (selain Jalan Margonda di Depok, tampaknya) yang bisa menjadi tulang punggung transportasi di daerah tersebut. 

Tidak cuma sempit dan ramai sehingga membuat perjalanan terasa lama dan melelahkan, tapi dari segi desain pun jalan-jalan di kawasan suburban ini (sesungguhnya, di Jakarta juga), tidak teratur. Padahal, desain jalan yang terbaik adalah jalan yang berbentuk grid (berbentuk anyaman jalan-jalan secara horisontal dan vertikal) karena mempermudah perpindahan antarsegmen.

Jalan1

Menurut pengamatan gue yang sotoy ini, terbelakangnya infrastruktur jalan di Jakarta dan kawasan penyangganya adalah akibat dari perkembangan kota yang tidak teratur dan terencana sehingga mendapatkan sebutan urban sprawl. Perkembangan daerah-daerah penyangga Jakarta lebih mirip pemanjangan akar pohon yang menjalar ke sana ke mari tanpa ada usaha mengaturnya.

Pemerintah daerah kawasan penyangga tersebut seperti kehabisan akal untuk mengatur perkembangan wilayahnya. Tidak ada masterplan terpadu tentang zoning, rencana pembangunan infrastruktur publik, ruang terbuka hijau, dan seterusnya. Tampaknya, mereka hanya bisa berpikir mengenai bagaimana mendapatkan pemasukan daerah (atau malah pemasukan pribadi) sebesar-besarnya tanpa memikirkan bagaimana mencukupi hak-hak dasar warganya.

Satu-satunya pengecualian dari fenomena memprihatinkan daerah-daerah penyangga Jakarta hanyalah kawasan Bumi Serpong Damai. Bisa dibilang, BSD adalah kawasan yang mendekati ideal dengan zoning dan infrastruktur jalan yang jelas. Mungkin yang masih harus dibenahi adalah ketersediaan angkutan umum yang layak di dalam kawasan tersebut.

Jalan4

Apa yang secara kasat mata terlihat dari perbedaan di Tangerang Selatan yang BSD dengan Tangerang Selatan bukan BSD dan Depok? Ya! Yang satu dikembangkan oleh swasta, sementara yang satu lagi dibiarkan tumbuh liar oleh pemerintah daerahnya.

Lantas, apakah kesimpulannya adalah sebaiknya kita swastakan saja pembangunan kota-kota di Indonesia? Tunggu dulu. Pengembangan oleh swasta punya efek negatif berupa semakin mahalnya harga properti sehingga memperkecil kesempatan untuk warga dengan penghasilan terbatas untuk memiliki rumah tinggal. Gue tetap berpikir bahwa pemerintah daerah tetap harus membangun wilayahnya secara terencana sehingga tidak ada lagi pembangunan liar tak terarah seperti yang terjadi selama ini. Bisa?

 

Mengurus Pencairan Uang Jamsostek

IMG_2015-03-17 13:24:16

Kalian para pekerja tentu akrab dong sama Jamsostek (Jaminan sosial tenaga kerja)? Setiap bulan, ada sebagian dari gaji kita (((kita?))) yang dipotong sebagai iuran Jamsostek. Iuran itu menjadi semacam asuransi bagi para pekerja biar mereka punya tabungan ketika mereka udah nggak lagi bekerja, atau menghadapi risiko cacat tetap dan meninggal dunia.

Setelah gue nggak lagi jadi pekerja, gue agak malas-malasan buat mencairkan dana JHT (Jaminan Hari Tua) tersebut. Sempat ada kekhawatiran apakah gue bisa mencairkan karena selama ini ada cerita-cerita perihal sulitnya melakukan proses tersebut. Belum lagi membayangkan tentang birokrasi yang harus gue temui, udah makin malas kan. Tapi mengingat gue membutuhkan duit buat modal usaha, gue kumpulkan tekad, niat dan dokumen-dokumen yang dibutuhkan biar prosesnya nggak memakan waktu.

Kekhawatiran gue ternyata nggak terbukti ketika gue berhasil menyelesaikan proses dalam waktu sekitar 1-2 jam saja. Memang sih, itu terbagi dalam dua hari karena gue harus menyusulkan kartu kedua gue. Selain itu, sempat juga menemui hambatan ketika petugas meminta gue diminta menyertakan surat keterangan domisili karena KTP gue bukan KTP Jakarta. Tapi berkat kengeyelan gue dengan mempertanyakan dasar aturan harus memakai surat domisili itu (yang dijawab, “Nggak ada, ini adalah kebijakan kantor BPJS Ketenagakerjaan Cilandak!”), akhirnya proses klaim gue diteruskan tanpa adanya surat domisili itu.

Selain itu, fakta bahwa gue punya dua kartu keanggotaan Jamsostek (masing-masing satu waktu kerja buat Detikcom dan Yahoo Indonesia) dan dua-duanya belum ada lima tahun (kalau ditotal sih 7 tahun lebih ya) ternyata nggak membuat pencairan gagal. Mbak Ivania Nasution (duh gue hapal banget nama mbak-mbak manis ini) yang mengurusi klaim gue sangat helpful dan penjelasannya sangat mudah dimengerti.

Nah, simak di bawah ini kalau lo juga berniat mencairkan dana JHT lo. Pertama, ketahui dulu syarat agar dana JHT bisa dicairkan.

1. Peserta Jamsostek selama minimal 5 tahun;

2. Tidak sedang bekerja, dengan masa tunggu satu bulan dari pekerjaan terakhir; atau

3. Sudah berusia 55 tahun; atau

4. Menderita cacat tetap; atau

5. Meninggal dunia.

Kedua, persiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan–semuanya asli dan fotokopinya. Ini berlaku buat yang memenuhi syarat kedua alias sedang tidak bekerja. Dokumen buat yang memenuhi syarat nomor 3-5 berbeda, silakan cek di kantor BPJS Ketenagakerjaan terdekat.

1. KTP;

2. Kartu kepesertaan Jamsostek;

3. Kartu keluarga;

4. Surat keterangan pemutusan hubungan kerja;

5. Surat keterangan kerja;

6. Buku tabungan;

7. Surat domisili bila KTP lo berbeda dengan daerah tempat kantor BPJS Ketenagakerjaan yang lo tuju. Yang ini bisa pakai jurus ngeyel sih. Tapi kalo lo bukan lawyer atau orang yang keras kepala dan galak kaya gue (halah!), mungkin ada baiknya lo bikin aja deh surat domisili.

IMG_2015-03-17 13:24:07

Ketiga, datanglah ke kantor BPJS Ketenagakerjaan (nama baru PT Jamsostek) terdekat. Lokasi terdekat dari tempat gue adalah di Cilandak. Yang harus dilakukan:

1. Isi formulir pencairan JHT;

2. Lengkapi dokumen yang disyaratkan;

3. Masukkan map berisi dokumen-dokumen itu di drop box;

Setelah sekitar 10-20 menit, lo akan dipanggil dan petugas akan memeriksa kelengkapan dokumen lo. Kalau dinyatakan telah lengkap, maka klaim lo akan diteruskan ke loket berikutnya. Tunggulah lagi sekitar 20-30 menit, petugas selanjutnya akan memproses, mengecek ulang kelengkapan dan validitas dokumen lo (di sini kadang lo harus menunjukkan dokumen aslinya). Kalau udah nggak ada kekurangan, petugas akan memberi tahu bahwa dana bakal dikirimkan ke rekening tabungan dalam waktu 7 (tujuh) hari kerja.

Gimana, sudah siap buat mencairkan duit hak lo tersebut?

Gue, Bangun Pagi dan Raisa

Lari1
Lari malam di Santa Monica pakai kaos bertuliskan Indonesia. *bangga*

Dulu, ketika ada kegiatan team building di kantor lama, ada sebuah permainan yang mengharuskan dua orang saling bicara mengenalkan diri. Tujuannya adalah agar kita mengenal orang di depan kita lebih dari sekadar rekan kerja, tapi juga sebagai manusia dengan berbagai karakternya. Di mana dia tinggal, apakah dia sudah menikah atau masih melajang, apakah dia memelihara anjing atau kucing, apakah dia lebih suka warna biru daripada merah, dan sebagainya.

Salah satu ciri dalam diri gue yang sering gue katakan ke teman-teman dalam permainan itu (teman-teman karena pasangan bermainnya berganti-ganti) adalah gue bukan morning person alias paling susah bangun pagi. Ada beberapa juga teman yang mengakui hal yang sama.

Gue dan bangun pagi memang nggak berjodoh. Bukannya nggak berusaha untuk berjodoh, tapi itu nggak pernah (sangat jarang) terjadi. Gue dan bangun pagi seperti gue dan Raisa: nggak akan bersatu. 

Di suatu masa saat gue lagi rajin-rajinnya lari, gue pernah lari tiga atau empat kali seminggu. Nyaris semuanya gue lakukan sore hari, setelah menyelesaikan pekerjaan di kantor. Nggak ada yang gue lakukan pagi hari. Alasannya, gue terlalu malas untuk bangun pagi. 

Sebenarnya, dulu pernah sih mencoba lari pagi di dekat kos. Tapi Jalan Jatipadang jam 5 pagi ternyata udah begitu ramai dengan orang dan kendaraan lalu lalang. Lari pagi di Jakarta nggak selamanya bisa di trotoar. Kalau trotoarnya rusak atau terhalang kios rokok, mau nggak mau gue harus turun ke jalan. Harus hati-hati banget kalau nggak mau kesamber angkot 17 yang sepagi itu udah giat mencari nafkah. Bertambahlah sudah alasan gue untuk nggak mau lari pagi.

Lari3
Abis lari 7 km di tepi Samudera Pasifik.

Alasan kenapa gue nggak bisa bangun pagi sebenarnya sederhana. Ini karena seringnya gue melek sampai larut malam; tak jarang melewati tengah malam. Padahal, gue udah nggak pernah nonton sepak bola dinihari sejak dua tahun terakhir ini. Tidur malam, otomatis badan malas buat disuruh bangun pagi-pagi. Ketimbang dingin-dingin sudah lari-larian, mending juga bergelung di balik selimut. Nggak sama Raisa, tentunya.

Sebenarnya ada juga pengecualiannya: kalau sedang di Purwokerto, saat ikut lomba dan kalau lagi di tempat jalan-jalan. Di Purwokerto, gue biasanya lebih cepat tidur karena nggak banyak hal lain yang bisa dilakukan. Meski ada tv kabel di rumah, gue udah lumayan sanggup hidup tanpa tv selama ini. Susahnya koneksi internet mungkin jadi penyebab gue mampu tidur lebih cepat di kampung. Alhasil, gue cukup sukses beberapa kali bangun jam 5 pagi dan bisa lari-larian di sekitar kompleks tanpa harus khawatir diseruduk angkot kurang ajar.

Pengecualian kedua adalah bila ada lomba. Jelas, umumnya race berlangsung pagi hari kan. Dua kali gue ikutan Jakarta Marathon, dua kali ikutan Jakarta 10K dengan cukup sukses. Padahal, di keikutsertaan gue di Jakarta Marathon 2013 dan 2014, gue justru malamnya agak kurang tidur. 

Lari2
Suasana Jakarta Marathon 2014.

Yang terakhir, gue bisa lari pagi kalau lagi jalan-jalan yang jauh dari Jakarta atau Purwokerto. Seperti ketika gue lagi di Lampuuk, Aceh Besar, pagi-pagi setengah 5 gue udah bangun dan lari. Hari masih gelap banget dan kalau diingat-ingat, tempat itu adalah salah satu titik yang paling banyak korbannya saat terjadi tsunami tahun 2004. Tapi tekad gue buat pamer rute lari di ujung barat Indonesia mengalahkan itu semua. Demikian juga ketika dua hari kemudian gue juga berlari jam setengah 5 pagi di Pulau Weh. Atau ketika gue sedang berada di Chicago. Nggak terlalu pagi sih, sekitar jam 6.30, tapi Chicago jam segitu suhunya bisa 10 derajat Celcius. Namanya demi kan, gue jabanin tuh lari 8 km di sana.

Lari4
Sehabis lari di Pantai Lampuuk, Aceh Besar.

Pengecualian keknya waktu gue di NYC. Sebegitu inginnya gue lari di Central Park (cuma tiga blok dari rumah host AirBnB gue), ternyata gue gak sanggup bangun pagi. Bangun-bangun sudah jam 8 pagi. Meski belum panas dan masih bisa lari, gue saat itu memilih buat bikin Indomie, mandi dan jalan-jalan.

Jadi sekali lagi, kalau mau ngajak gue lari-larian, janganlah berharap gue bisa bangun selepas ayam berkokok. Susah. Lebih baik kalau gue diajak lari-lari sore di GBK dan setelah selesai lari bisa bisa langsung makan pecel pakai mendoan. *eh*